Kacang yang Kembali pada Kulitnya

Jimmy's-Hall
Jimmy’s Hall
2014-Inggris
Sutradara: Ken Loach
Penulis: Paul Laverty, Donal O’Kelly
Pemain: Barry Ward, Simone Kirby, Andrew Scott, Jim Norton, Brían F. O’Byrne, dan Rebecca O’Mara

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Jimmy harus melarikan diri. Dari jendela rumah, dia menyelinap ke luar – menghindar dari para polisi yang ditugaskan untuk menangkapnya. Atas tuduhan apa? Tindakan ilegal, begitu katanya – walau sebenarnya para polisi yang datang untuk menangkap tidak dibekali dengan surat tugas penangkapan.

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Jimmy membakar semangat warga desa. Sebuah desa kecil, jauh dari sentuhan kota. Masyarakat hidup damai seolah terisolasi dari hubungan dengan dunia luar. Yang disulut Jimmy adalah semangat untuk saling berbagi. Sebagian warga yang memiliki kemampuan khusus berbagai pengetahuan dengan warga yang lain. Jimmy yang mengoordinasi, juga menyiapkan tempat sebagai sarana (ruang) transfer pengetahuan.

Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Jimmy bersama teman-temannya mendirikan bangunan sederhana yang dijadikan pusat kegiatan masyarakat desa. Di sini, pada malam tertentu, masyarakat desa berkumpul. Band sederhana memainkan lagu rakyat. Masyarakat yang berkumpul lalu bergembira. Menari bersama, melepaskan kelelahan. Tertawa lepas sambil menjingkrak-jingkrakkan kaki di atas lantai.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak yang telah berubah. Bangunan yang dulu ramai dikunjungi dan menjadi pusat kegiatan masyarakat desa menjadi onggokan tua yang diselimuti ilalang. Bahkan, ada rumor bangunan itu menjadi sarang hantu – atau sekadar sarkasme masyarakat sekitar. Orang-orang muda yang dulu penuh semangat berbagi pengetahuan dan kebahagiaan sudah tergerus waktu. Kebutuhan dan tekanan memaksa mereka meredupkan hasrat itu. Menjalani hidup layaknya yang dilakukan masyarakat desa. Menggarap lahan, memelihara ternak, dan sebagainya.

Gadis cantik bermata biru dengan rambut pirang ikal sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika kembali, Jimmy harus memendam semua hasrat. Selama sepuluh tahun dalam pelarian, ada hasrat yang turut dibawanya. Janji yang terus dia ingat dan pegang.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang panjang. Sementara yang lain berubah menurut perjalanan waktu, ada satu yang masih tetap sama. Jimmy masih memendam keinginannya untuk berbagi dan membahagiakan orang-orang di desa. Sebagian waktu desa pun, secara diam-diam, memendam keinginan yang sama. Bersama, mereka buka kembali hasrat yang terpendam selama satu dekade.

Ada pula otoritas yang tak berubah. Bertameng kekuasaan dan “iman”, mereka menjatuhkan hukuman pada apapun yang tidak sejalan dengan pikiran mereka. “Fair play” selalu dikedepankan atas semua keputusan yang dibuat – meski tentunya menurut pemikiran mereka. Dengan berbagai cara, berusaha meredupkan semangat yang dimiliki masyarakat desa. Satu-satu semangat dan kebenaran yang boleh hidup adalah kebenaran yang – menurut mereka – diamanatkan kepada mereka. Amanat yang menjadi bekal untuk membuat dan berlaku seperti yang mereka pikir diharapkan untuk dilakukan.

Jimmy tidak pernah ingin membantah atau melawan atau memberontak pada otoritas. Yang dilakukan bukanlah upaya untuk membuat tandingan dari sistem yang ada. Dia hanya ingin menyajikan sesuatu yang lain, yang berbeda, variasi. Sedari awal, dia hanya ingin berbagi. Terlebih, setelah perjalanan ke seberang benua selama sepuluh tahun, ada banyak hal yang dibawa. Ada banyak pengetahuan yang ingin dibagi. Ada banyak kisah untuk disampaikan. Ada banyak pengalaman untuk dijadikan pelajaran. Sayangnya, otoritas memandang yang dilakukan Jimmy sebagai suatu pemberontakan. Usaha penyebaran nilai-nilai negatif yang merusak dan menghancurkan keluhuran nilai-nilai yang selama ini tumbuh.

Adakah membawa dan memperkenalkan budaya dari luar sebuah dosa? Jika iya, tanpa bermaksud menyaingi yang dilakukan Jimmy, saya akan menerima Anna Kendrick dan Amy Adams sebagai dosa terindah. (Hahahaha…. maaf kalau nyampah ;))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s