White Lie?

The-Face-of-LoveThe Face of Love

Sutradara: Arie Posin

Penulis: Matthew McDuffie, Arie Posin

Pemain: Annette Bening, Ed Harris, Robin Williams

Nikki, perempuan paruh baya yang terkekang pada kenangan akan almarhum suaminya. Lima tahun setelah kejadian tragis, Nikki belum juga mampu melepaskan diri dari berbagai kenangan yang dilalui bersama pria yang sangat dicintai. Sampai kemudian, pada suatu hari, Nikki bertemu dengan seorang pria yang sangat mirip dengan sang mantan suami. Setelah berkenalan dan melalui beberapa kali pertemuan, perlahan Nikki mampu menaklukkan hati pria yang baru ditemuinya ini.

Yang disayangkan adalah keputusan Nikki untuk menyembunyikan alasan dia mendekati pria yang baru dikenalnya ini. Pada awal perkenalan, Nikki menjelaskan suaminya telah pergi – tanpa menegaskan bahwa pergi yang dimaksud adalah meninggal dunia dan baru setelah keduanya menjadi sangat dekat Nikki menjelaskan tentang kematian sang mantan suami. Nikki selalu mengelak menjelaskan yang sebenarnya pada Tom, pria yang sangat mirip dengan sang mantan suami. Sampai kemudian, satu demi satu kejadian menimbulkan kecurigaan pada diri Tom. Tom akhirnya tahu mengenai keadaan yang sebenarnya. Bukan dari Nikki, tapi dari sebuah foto yang ditempel di sebuah penginapan yang selalu didatangi Nikki dan mantan suaminya. Marah? Tentu saja. Kesal? Ya, iyalah. Tom pun akhirnya memutuskan pergi meski tetap menyimpan rasa terhadap Nikki.

Dalam kehidupan sehari-hari, jujur saja, yang dilakukan Nikki merupakan hal yang dapat dengan mudah dijumpai. Setidaknya bagi saya. Karena, saya pun pernah melakukan hal yang sama. Berpikir bahwa tahu yang terbaik dan coba membahagiakan orang yang disayangi, saya memutuskan sesuatu tanpa berkonsultasi pada orang yang berkaitan dengan perbuatan saya itu – seperti halnya yang dilakukan Nikki terhadap Tom. Pada akhirnya, yang terjadi ya seperti juga yang terjadi pada Nikki dan Tom. Alih-alih coba membahagiakan dengan menyembunyikan sesuatu yang dianggap akan mengganggu kebahagiaan, yang didapat malah ‘kehilangan’.

Saya berpikir, kalau saja Nikki menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Tom di awal perkenalan mereka, mungkin saja hubungan mereka berakhir dengan kebahagiaan. Mungkin, dan hanya sebuah kemungkinan. Yang pasti, kalau pun keduanya terluka, yang pasti lukanya tidak sebesar seperti yang dialami ketika tahu setelah keduanya menjadi sangat dekat. Penolakan tentu ada, rasa kesal sangat mungkin. Siapa, sih, yang tidak akan merasa seperti itu ketika bertemu dengan seseorang dan orang baru ini bilang “Kamu sangat mirip dengan mantan saya.” Jedagggggg!!! Tapi, toh, baru kenal. Kalau enggak seneng, ya, bisa melengos pergi sambil bilang “Dasar orang gila”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s