Still…

WhatIf

What If

Sutradara: Michael Dowse

Penulis: Elan Mastai, T.J. Dawe, Michael Rinaldi

Pemain: Daniel Radcliffe, Zoe Kazan, Megan Park, Adam Driver, Mackenzie Davis, dan Rafe Spall

Secara cerita, yang disajikan film ini sebenarnya tidaklah istimewa. Klise kalau boleh dibilang. Dua orang bertemu dalam sebuah kesempatan. Yang cowo sedang mengalami patah hati setelah mengetahui kekasihnya berselingkuh. Dia lalu mengurung diri dari pergaulan dunia bahkan “mengundurkan diri” dari dunia yang sedang digeluti. Sementara, situasi yang dihadapi sang cewe sebenernya normal-normal saja. Cewe ini sudah beberapa tahun tinggal bersama dengan kekasihnya – meski dengan perasaan sedikit tidak nyaman karena merasa sang kekasih terlalu mengekang dunia pergaulan, terutama dengan teman lawan jenis. Persahabatan pun terjalin di antara kedua. Meski sama-sama memiliki rasa nyaman yang spesial, keduanya berusaha menjaga (menekan) perasaan itu.

Waktu bergulir, komentar demi komentar diberikan oleh orang-orang di sekitar yang melihat hubungan kedua orang ini. Sampai pada akhirnya, dua orang ini harus mengakui ada rasa spesial di dalam diri mereka. Dan… ya begitulah. Happy ending. Keduanya menjalani hidup bersama dan saling mendukung mewujudkan mimpi masing-masing.

Yang menarik dari film ini dan menjadi alasan saya menontonnya adalah Daniel Radcliffe. Setelah lepas dari Harry Potter, rasa penasaran saya pada aktor ini menjadi besar. Maklum saja, Harry Potter benar-benar melambungkan namanya. Bahkan, membicarakan Harry Potter (versi filmnya ya, bukan versi buku) dengan Daniel Radcliffe seperti membicarakan sayur tanpa garam. Halah…. Intinya, keduanya seperti tidak dapat dipisahkan. Masing-masing memperkuat identitas yang lain. Karenanya, rasa penasaran saya begitu tinggi pada aktor Inggris ini.

Yang membuat saya penasaran adalah bagaimana penampilan Daniel Radcliffe pasca-Harry Potter. Apakah dia mampu keluar dari bayang-bayang tokoh yang begitu melekat dengan namanya selama bertahun-tahun? Sebagai aktor, salah satu hal terberat adalah melepaskan diri dari bayang-bayang tokoh yang pernah diperankan.

Saya ingat hal tersebut pernah dialami oleh Leonardo DiCaprio. Setelah kesuksesan dan penampilan gemilang di Titanic, banyak yang menilai aktor ini tidak dapat melepaskan karakter Jack Dawson. Di beberapa film setelah Titanic, aktor ini masih menampilkan karakter Jack Dawson. Situasi yang dihadapi Daniel Radcliffe lebih kompleks. Kalau yang harus dilepaskan Leonardo DiCaprio adalah peran dalam satu film, Daniel Radcliffe harus melepaskan karakter yang dia perankan dalam satu rangkaian film.

What If merupakan film Daniel Radcliffe kedua (setelah rangkaian Harry Potter) yang saya tonton – sebelumnya saya menonton Kill Your Darlings walau sebenarnya film ini lebih dulu keluar dibanding What If. Hasilnya… ya sederhanya saja. Dia harus berusaha lebih keras untuk melepaskan karakter yang diperankan selama bertahun-tahun yang lalu.

Peran pria dewasa yang dia mainkan di film ini (Wallace memutuskan mengundurkan diri dari sekolah kedokteran dan bekerja) tidak banyak membantu kesan murid di sekolah ilmu magis. Yang menurut saya lebih tragis adalah ketika dia memerankan Allen Ginsberg di Kill Your Darlings. Bahkan adegan dewasa yang dilakukan di film ini pun tidak membantu aktor ini terlihat dewasa. Entah sampai kapan, yang pasti Daniel Radcliffe harus berusaha lebih keras untuk melepaskan diri dari bayang-bayang murid sekolah ilmu magis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s