Bre’tru

Tomorrow's Modern Boxes
Tomorrow’s Modern Boxes

There is nothing new under the sun.” Begitu yang dibilang. Semua yang dicipta manusia saat ini, sesungguhnya, bukanlah hal yang baru. Begitu katanya. Bahkan, seorang teman berkata, “Bagi saya, dunia musik sudah mati bersama meninggalnya Kurt Cobain.” Benarkah?

Ya, benar-benar saja, sih. Yang harus diingat, setiap orang bebas memberikan pendapat. Setiap orang berhak memberikan opini. Mengenai apakah opini itu sesuai atau tidak dengan pendapat yang kita miliki, itu hal yang lain. Sah-sah juga kalau ada yang bilang dunia musik sudah mati bersama meninggalnya Gombloh, atau Gesang, atau A. Rafiq, atau siapapun idola mereka, musisi yang dianggap sebagai pioner yang memberi arti pada dunia musik.

Kembali ke masalah hal baru. Dengan begitu panjangnya sejarah umat manusia di muka bumi ini, dengan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan karya/kreasi/cipta yang dihasilkan, yang dilakukan oleh generasi saat ini dan masa depan adalah mengembangkan yang sudah. Bicara soal idealisme dalam orisinalitas, tidak ada lagi yang murni (orisinal) hari ini. Semua yang dilakukan/dibuat/dicipta saat ini, seberapapun kecilnya, pasti ada pengaruh/mengambil/memodifikasi yang sudah pernah ada. Apakah berarti kreativitas sudah mati? Coba pikir dulu.

Orang yang membuat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dengan mudah akan disebut sebagai penemu. Pioner yang memulai sesuatu. Dari dirinyalah dimulai hal baru di dunia ini. Tapi, bukankah dalam sejarah umat manusia ada banyak tokoh inspiratif yang pada dasarnya tidak membuat sesuatu hal baru? Mereka memberi “nilai baru” dari hal yang sudah ada.

Di Amerika Serikat, beberapa dekade yang lalu, muncul seorang pria yang di kemudian hari dikenal sebagai salah seorang yang sangat kreatif. Produk yang dibuat Steve Jobs dan kawan-kawannya bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, masyarakat sudah mengenal komputer. Yang dilakukan pria ini adalah memberi “nilai baru” pada barang yang sudah dikenal oleh masyarakat. Begitu pula yang dia lakukan dengan berbagai produk yang dikembangkan oleh perusahaannya.

Dalam hal yang lain pun yang terjadi tidak jauh berbeda dengan hal itu. Memberi nilai baru sehingga sesuatu yang sudah dikenal oleh masyarakat menjadi lebih berharga dan mendapatkan tempat yang baru. Dan, itu pula yang dilakukan oleh seorang musisi asal Inggris.

Entah karena kelebihan energi atau memang semangat kreatif om ini begitu hebat sampai akhirnya meluncurkan album solo kedua. Padahal, menurut kabar, band yang dinaungi selama beberapa dekade sedang mempersiapkan album yang baru. Beberapa tahun belakangan dia pun terlibat dengan band baru yang coba memperkenalkan musik baru. Ternyata, di sela-sela segala kesibukan yang dijalani, om yang satu ini masih menyempatkan waktu menggarap proyek pribadi. Jadilah, akhir bulan ini Tomorrow’s Modern Boxes menjadi salah satu album yang paling ramai dibicarakan – terutama di Inggris (ya iyalah, secara Thom Yorke emang asalnya dari negeri itu).

[Maaf kalau diksi yang digunakan pada kelanjutan tulisan ini terkesan begitu tinggi. Seakan-akan penulis merupakan ahli di bidang musik. Sebenarnya, tidaklah pengetahuan yang dimiliki setinggi itu. Pemilihan tersebut dikarenakan sebagai upaya pencitraan]

Secara musikalitas, yang ditawarkan Om Thom dalam album ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Nah, sebelum bicara lebih lanjut, mari luruskan tentang istilah baru.

Baru dapat dikaitkan dengan berbagai kondisi. Produk yang dihasilkan di pabrik dapat disebut baru. Produk yang dibeli di toko dan kemasannya masih tersegel juga disebut baru. Produk yang diambil dari dalam kolam renang juga baru, baru saja tercebur. Hehehe…. Kembali ke album Om Thom, baru yang saya maksud mengenainya adalah karena musik yang ditawarkan di album ini sudah dia sajikan di album solo pertamanya, Eraser. Sialnya, konsep dalam dua album tersebut tentunya tidaklah asing bagi pendengar musik Radiohead. Bahkan, saat membahas soal Eraser, begini komentar yang saya sampaikan pada seorang teman: “Radiohead tanpa empat personel lainnya” – meskipun jika membaca daftar musisi yang terlibat dalam penggarapan album, terdapat semua nama personel band Radiohead. Pernyataan yang sama akan saya ulang menanggapi album terbaru dari Om Thom.

Thom YorkeKecewa? Tanpa mengurangi penghargaan terhadap karya yang sudah dihasilkan, ada pengharapan yang begitu besar ketika mendengar kabar Thom Yorke akan mengeluarkan album solo kedua. Mengingat perjalanan karier dan karya-karya yang dihasilkan, tentulah harapan yang dimiliki masyarakat terhadap album baru ini tidak seperti harapan pada album baru Kangen Band.

Kalau boleh menyamakan, situasi yang saya alami ketika mendengar kabar tentang album baru Thom Yorke, mengunduh, lalu mendengarnya sama seperti yang saya alami ketika mendengar Lars von Trier sedang menggarap Nymphomaniac. Mengingat efek yang diberikan saat dan setelah menonton Melancholia, saya mengharapkan pertaubatan yang lebih dalam dari karya terbaru sutradara ini. Tapi setelah menontonnya,… hmmm…. Ya begitulah.

Dompet Berisi Kartu Kredit

Sebagai musisi, sudah selayaknya Thom Yorke dihargai atas karya (lagu) yang dia ciptakan. Lalu setelah album solo terbarunya didengar dan hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, haruskah menempatkannya pada daftar musisi uzur yang sudah saatnya mengoleksi album The Best of???

Pada 2007, band yang digawangi om ini membuat gebrakan yang menghebohkan jagad musik dunia. Radiohead, setelah mendapat kesepakatan dengan major label, memutuskan menjual album terbaru mereka saat itu secara daring. Tidak sekadar keluar dari cara pendistribusian yang selama ini dikenal, album ini pun memperkenalkan cara bisnis yang baru. Pembeli (pendengar) dapat menentukan sendiri nominal uang yang layak untuk lagu atau album yang ingin dibeli. Di luar dugaan, cara ini membuat band asal Oxford ini mendapatkan uang royalti jauh lebih besar dari yang mereka minta dari major label.

Om Thom, kini sendiri, coba membuat gebrakan dengan album solo terbarunya ini. Kali ini, pendengar atau pembeli dapat mengunduh albumnya di bittorrent – jejaring yang selama ini menjadi musuh seniman karena dianggap sebagai perusak royalti. Jejaring ini dikenal sebagai sumber unduhan berbagai hal, terutama album musik dan film. Karya-karya bajakan beredar secara massif melalui jejaring ini. Undang-undang kekayaan intelektual dan royalty yang dikembangkan di beberapa negara, Amerika Serikat contohnya, berusaha menjaga hak yang seharusnya dinikmati oleh seniman dari para pembajak yang memanfaatkan jejaring seperti bittorrent untuk mendapatkan keuntungan.

Alih-alih menjauhi jejaring yang akrab dengan sapaan “pirates”, Om Thom malah merangkul dan mengajak kerja sama agar kedua pihak bisa sama-sama mendapatkan keuntungan. Di sinilah, “rasa baru” yang ditawarkan Om Thom. Sebagai musisi, dia tetap mempertahankan aliran musik yang selama ini dikreasikannya. Begitu pula sebagai pemberontak sistem. Dia selalu mencari cara baru (opsi baru) untuk dapat mendobrak sistem yang selama ini sudah terlalu berkuasa, dominan, dan cenderung memonopoli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s