G-Spots

Courtessy of Rolling Stones
Courtessy of Rolling Stones

Lagi, berkaitan dengan sebuah artikel di Majalah Rolling Stones edisi September 2014. Kali ini tentang kehidupan sebagian LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) di Amerika Serikat. Feature ini mengangkat tragedi yang terjadi ketika masyarakat, katanya, sudah dapat menerima keberadaan LGBT. Kenyataan yang mengungkapkan bahwa penerimaan dan keterbukaan belumlah sepenuhnya terjadi. Masih ada pemukaan kasar di sebagian lantai yang menghambat laju daun pintu ketika akan dibuka lebar-lebar.

Namun sebelum melanjutkan, saya perlu menegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud menilai yang benar dan yang salah, apalagi melakukan penghakiman terhadap situasi yang terjadi. Yang dilakukan dalam tulisan ini adalah coba memahami yang terjadi. Sebatas memahami, tidak sampai menerima apalagi mendukung atau melakukan penolakan (perlawanan).

Artikel dimulai dengan kisah hidup Jackie. Remaja dengan masa depan yang terbuka cerah baginya. Berasal dari keluarga ekonomi menengah, kehidupan Jackie terbilang nyaman. Sebagai pelajar, dia pun terbilang berprestasi. Menjadi ketua di setiap organisasi yang diikuti dan mengikuti semua jenis kegiatan olahraga yang diadakan di sekolah. Lulus dari SMA, dia meneruskan ke Fakultas Hukum – sesuai dengan arahan yang diberikan kedua orangtuanya.

Suatu malam, sebuah percakapan di telefon mengubah hidup Jackie. Percakapan singkat, tanpa banyak pertukaran obrolan di antara orang yang terlibat. Malam itu, panggilan telefon ke rumah diterima oleh sang Ibu. Dengan kalimat sederhana yang mengundang tanda tanya dan menjelaskan ada sesuatu yang sedang terjadi, dugaan pertama sang Ibu adalah Jackie sedang mengandung. Tapi kemudian, yang sebenarnya terjadi pun terungkap. Sang Ibu tidak banyak berkomentar ketika tahu putrinya ternyata menyukai wanita. Percakapan di telefon segera berakhir tanpa ledakan emosi.

Dua hari kemudian, saat berlibur ke Kanada, kartu debet Jackie tidak dapat digunakan. Berpikir karena dia sedang berada di negara lain, remaja ini terus menikmati masa liburannya. Sampai kemudian, kenyataan yang terjadi diungkap oleh adiknya. Berdasar penuturan sang adik, orangtua mereka sudah menutup rekening untuk Jackie. Bahkan mobil yang diberikan harus dikembalikan atau Jackie akan dituntut dengan pasal pencurian dan dia tidak boleh mendatangi atau bahkan menghubungi anggota keluarga. Sejak saat itu, Jackie menjalani hidup sendiri. Karena pilihan hidupnya, Jackie menjadi Pariah – di-Pariah-kan, tergantung sudut pandang.

Jackie ternyata tidaklah sendiri. Di Amerika Serikat, negara yang menurut kabar burung merupakan tempat yang sangat demokratis, tingkat tunawisma di kalangan LGBT meningkat tajam beberapa tahun belakangan ini. Permukaan kasar di lantai yang menghambat laju daun pintu tadi adalah, salah satunya, agama. Keteguhan memegang nilai-nilai agama mendorong orangtua Jackie, juga orangtua-orangtua lain, memutuskan hubungan dengan anak mereka yang memilih untuk LGBT. Di saat seperti itu, terutama bagi remaja seperti Jackie, kehilangan dukungan serta hubungan dengan keluarga merupakan sesuatu yang sangat besar. Tanpa uang, tanpa rumah, tanpa harapan. Prostitusi, narkotika, dan berbagai hal ilegal lain dengan sangat mudah terlihat sebagai solusi. Bahkan, Jackie mengaku, pada suatu rentang masa, alasan dia mengencani wanita-wanita yang ditemui adalah untuk dapat berbaring di atas kasur yang nyaman – setidaknya untuk satu malam.

Courtessy of Rollig Stones
Courtessy of Rolling Stones

Kimochi

Seperti yang saya bilang di awal, tulisan ini tidaklah bertujuan menilai atau menghakimi yang benar atau salah. Membaca kisah yang dialami Jackie, sangat mudah terbawa untuk menghakimi sang orangtua. Orangtua yang begitu tega membiarkan anaknya terjebak dalam situasi seperti itu – bahkan mungkin dapat dikatakan menjerumuskan agar terlibat dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan tersebut. Tidak. Terlalu mudah untuk menghakimi. Terlalu jahat untuk menilai. Terjebak dalam penilaian karena terbawa suasana merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Di saat seperti itu, logika dan rasionalitas tak lagi dapat bertahan dari amukan emosional.

Menurut pandangan saya, dalam situasi yang lebih sederhana dan tidak sedramatis seperti kisah Jackie, keputusan yang dibuat oleh orangtua Jackie bukanlah hal yang luar biasa. Dalam kehidupan sehari-hari, di hampir setiap saat, terjadi situasi yang mirip dengan keputusan tersebut.

Keputusan yang dibuat Jackie merupakan hal yang sangat sensitif bagi kedua orangtuanya – yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan. Kalau saja Jackie bilang dia sedang dipenjara, atau hamil, atau menggunakan narkotika, atau bermasalah di kuliah, reaksi orangtua (terutama sang Ibu yang menerima telefon) sangat mungkin tidaklah seperti itu. Terkejut, iya. Terpukul, sangat mungkin. Marah, ya mungkin saja. Tapi karena yang diberitahu Jackie adalah sesuatu yang sangat sensitif, keputusan yang sangat sensitif pula yang mengikutinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak hal sensitif yang diikuti dengan keputusan sensitif pula. Misalnya saja ada lagu-lagu tertentu yang saat mendengarnya seseorang tak akan mampu menahan diri untuk tidak bergoyang sambil berteriak-teriak mengikuti irama dan lirik yang didengar. Ada pula lagu-lagu tertentu yang ketika mendengarnya seseorang akan terbawa dalam suasana emosional tertentu (sedih, senang, murung, bersemangat, dan sebagainya).

Masuk ke ranah yang lebih pribadi, ada bagian-bagian tertentu dalam tubuh manusia yang ketika disentuh (dirangsang) pada bagian tersebut seseorang akan merasa sangat terangsang sehingga sangat menginginkan persenggamaan. Bagian yang sangat sensitif. Yang karena saking sensitifnya, ketika hanya terkena sentuhan yang begitu lembuh, efek yang diakibatnya sangat besar. Gelora membuncah dan meminta untuk segera disalurkan, diledakkan, dipuaskan.

Setiap orang tentunya memiliki nilai sensitif masing-masing. Satu dengan yang lain tidaklah sama. Kalaupun mungkin terjadi kesamaan, tentunya hanya pada sebagian darinya, sementara sebagian yang lain tentulah tidak sama. Bagi saya, “Paranoid Android” merupakan lagu yang membuat saya terlena. Saya terdiam, larut dalam suasana yang dibentuk, marah, merenung, sedih, skeptis, muak, serta menyesal saat mendengarnya. Tetapi bagi seorang teman, lagu itu merupakan siksaan baginya. Nadanya membuat teman ini merasa tidak nyaman. Salah? Tidak juga. Masing-masing memiliki penilaian dan pendapat. Bukankah karena itu, salah satunya, alasan manusia diberikan akal, pikiran, dan budi?

Jangan pula membayangkan sesuatu yang bersifat sangat sensitif selalu berhubungan dengan hal yang besar, penting, dan sebagainya – seperti agama pada kasus Jackie dan keluarganya. Tidak selalu. Pada banyak kasus, hal yang bersifat sangat sensitif justru merupakan hal yang sangat sepele. Pernahkah dimarahi seseorang ketika tanpa sengaja melihat ke layar ponsel milik orang tersebut dan membaca pesan atau apapun yang ditampilkan di layar pada saat itu? Sekalipun dilakukan tanpa sengaja dan mungkin juga apapun yang tampil di layar tersebut tidak terlihat dengan jelas, tetap saja pemilik ponsel marah luar biasa. Sepele? Memang. Sangat sepele. Bahkan walaupun pesan atau apapun yang tampil di layar monitor terlihat (terbaca) dengan jelas, tetap saja itu merupakan ketidaksengajaan dan bukanlah hal besar untuk dijadikan alasan timbulnya kemarahan. Setidaknya, begitu menurut orang lain – tapi tidak bagi si pemilik ponsel.

Atau, saya teringat suatu hal. Saat bersama seseorang dulu, alangkah terkejutnya saya ketika pasangan saya saat itu marah luar biasa ketika saya menyapanya dengan “Hei…”. Tiga huruf, dua suku kata, satu kata. Singkat dan biasa didengar dalam percakapakan sehari-hari. Kata sapa yang umum. Saya yakin ada begitu banyak orang yang menggunakan kata sapa ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu merasa bersalah atau tabu atau sungkan atau ilegal ketika mengucapkannya. Tapi, tidak bagi mantan pasangan saya itu. Baginya, penggunaan kata itu, terutama oleh pasangan untuk memanggil dirinya, merupakan sesuatu yang sangat terlarang.

Kalau dipikir, hidup menjadi begitu rumit karenanya. Ada begitu banyak hal sensitif yang dimiliki oleh setiap orang. Masing-masing orang memiliki hal sensitif yang berbeda. Misalnya saja, andaikan kita mengenal 10 orang di dunia ini dan masing-masing orang tersebut memiliki lima hal sensitif, berarti ada 50 hal sensitif yang harus dihindari. Tetapi, yang harus diingat kelimapuluh hal tersebut tidak berlaku secara bersamaan. Kecuali ketika berkumpul bersama kesepuluh orang, tidak sampai 50 hal yang harus dihindari.

Lagipula, itulah, setidaknya menurut saya, arti penting dari komunikasi dan saling mengenal. Ketika terjadi komunikasi dan tahu hal-hal sensitif yang dimiliki oleh orang-orang di sekitar kita, yang perlu dilakukan adalah menghormati hal-hal tersebut. Mungkin pada saat awal akan terasa cukup berat karena belum terbiasa. Beberapa kali hal-hal tersebut terlanggar. Itu biasa. Seiring waktu, tanpa merasa berat, hal itu (menghargai dan melindungi orang sekitar dari hal-hal sensitif bagi mereka) akan berlangsung secara alamiah. Sesuatu yang pada awalnya dibayangkan akan sangat rumit ternyata mengalir dengan tenang.

Masalah (konflik) akan timbul ketika, setelah diberi tahu dan diingatkan berkali-kali serta berlangsung cukup lama, ternyata salah satu pihak tetap melanggar hal sensitif pihak lain. Baik disengaja atau tidak, jika hal ini terjadi, reaksi yang terjadi akan lebih besar dibanding saat pertama hal sensitif tersebut dilanggar.

Kembali ke artikel di Rolling Stones, dijelaskan ada dua hal yang ditekankan oleh orangtua Jackie ketika mengantarnya saat masuk kuliah: jangan masturbasi dan jangan menyukai sesama jenis. Pada saat itu, orangtua Jackie sudah memberi tahu hal yang menurut mereka sangat sensitif. Sebuah peringatan bagi Jackie. Dan ketika ternyata pada suatu saat Jackie membuat pengakuan bahwa dirinya menyukai sesama jenis (yang bukan merupakan sebuah kesalahan), dia sebenarnya sudah diperingatkan hal terburuk yang akan terjadi. Reaksi terburuk yang akan diberikan oleh orangtuanya. Sayangnya, pada saat itu, Jackie lengah dan berpikir positif terhadap situasi yang sedang terjadi.

Tanpa bermaksud membela, yang dilakukan oleh orangtua Jackie bukanlah sesuatu yang jahanam. Dalam hal ini, mari kembali singkirkan sisi kemanusiaan dan efek yang terjadi setelah keputusan yang dibuat. Singkirikan pula hak setiap manusia untuk memilih yang terbaik bagi dirinya – termasuk orientasi seksual mereka. Fokuskan pada penyebab sampai akhirnya keputusan itu dibuat.

Salahkah seseorang ketika pasangannya mencium lembut bagian tengkuk dan telinga hingga kemudian dia merasa terangsang dan ingin bersenggama dengan pasangannya itu walaupun pada saat itu mereka sedang berada di dalam mobil yang terparkir di tengah keramaian? Atau, berdosakah seseorang yang bergerak lepas sambil berteriak mengikuti nada dan lirik ketika di telinga terdengar alunan suara Bobby Womack menyenandungkan “California Dreamin’”?

Bahwa ternyata keputusan yang dibuat tersebut ternyata menghasilkan dampak tertentu merupakan hal yang lain. Ketika alunan Bobby Womack ternyata membuat si pendengar terlibat dalam perkelahian karena gerakan bebasnya tanpa sengaja menghantam tubuh orang lain atau ciuman di tengkuk dan telinga yang berlanjut pada persenggamaan membuat pasangan tersebut ditangkap oleh polisi, merupakan dampak yang menjadi bahasan lain. Dalam dua kejadian tersebut, yang menjadi masalah, misalnya, adalah memaksakan hak secara berlebih sehingga mengganggu eksitensi (pemenuhan) hak orang lain.

Begitu pula yang terjadi pada keputusan yang dibuat oleh orangtua Jackie.

Yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang, sesuai dengan sifat, latar belakang, referensi, nilai-nilai yang dipegang, dan sebagainya, memiliki hal yang bersifat sangat sensitif. Hal yang bahkan menurut orang lain merupakan sesuatu yang biasa dapat saja merupakan hal yang sangat sensitif bagi orang lain. Dan ketika hal yang sangat sensitif tersebut terusik, janganlah heran jika yang kemudian terjadi (mengikuti) adalah keputusan yang juga sangat sensitif. Yang tidak pernah terduga akan terjadi. Yang bahkan melewati batas-batas kemanusian atau nilai apapun yang ada di dunia ini. Itulah yang perlu dipahami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s