Tragicomedy

Courtessy of Rolling Stones
Courtessy of Rolling Stones

Feature Majalah Rolling Stones edisi September 2014 tentang Robin Williams menggambarkan kesuraman hidup seorang komedian. Berita kematian sang komedian pada 11 Agustus lalu sangatlah mengejutkan. Tidak ada tanda-tanda dia mengalami depresi yang begitu berat, yang akhirnya memicunya untuk membuat keputusan yang sangat mengejutkan – bunuh diri.

Menurut artikel tersebut, tanda depresi yang dialami Robin Williams ternyata sudah terlihat sejak lama. Hanya saja, seperti sudah menjadi kemutlakan bagi sang komedian untuk selalu terlihat cerita dan menghibur di hadapan orang lain. Beberapa kali Robin Williams menyatakan atau membahas berbagai hal yang berkaitan dengan bunuh diri, bahkan sempat melakukan adegan bunuh diri – walau dilakukan sambil berguyon.

Saya lalu teringat pada sesuatu. Kalau tidak salah, pada kelas drama (teater), komedi merupakan genre yang dipelajari pada tahap akhir – setelah menguasai realis, surealis, absurd, dan lain sebagainya (Kalau ternyata salah ya mohon dimaafkan. Wong saya ini tidak pernah menjadi mahasiswa teater). Menempatkan komedi di posisi paling akhir mennggambarkan tingkat kesulitan genre ini. Saya tidak tahu alasan pastinya. Tapi menurut logika sederhana berdasarkan pengalaman pribadi, kegagalan dalam berkomedi akan berakibat sangat fatal. Sederhananya, komedi yang tidak lucu adalah sebuah tragedi. Ketika tidak ada penonton yang tertawa, ruang pertunjukan sunyi senyap, yang terjadi adalah kematian bagi komedian. Itu pulalah yang, menurut saya berdasarkan artikel tersebut, terjadi pada Robin Williams.

Courtessy of Rolling Stones
Courtessy of Rolling Stones

Hanya saja, yang terjadi pada Robin Williams berada pada level yang luar biasa. Tekanan untuk menjadi lucu tidak hanya terjadi ketika dia tampil di depan kamera atau di atas panggung. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika tampil di depan umum, menjadi lucu, ditertawai, dan menghibur merupakan keharusan baginya. Harus karena tanpanya dia akan merasa ada sesuatu yang kurang. Candu. Dia harus ditertawai agar merasa eksistensinya dihargai. Kelucuan, bagi Robin Williams, adalah penghargaan eksistensinya di dunia ini.

Keadaan semakin parah karena ternyata sang komedian memiliki ketergantungan pada narkotika dan alkohol. Kesuraman dalam hidupnya semakin menjadi saat dinyatakan menderita kanker. Lengkaplah sudah. Tubuh yang semakin renta, gaya komedi yang sudah berubah sehingga lelucon yang dia sampaikan sudah tidak terlalu menyenangkan bagi generasi sekarang, alkohol, narkotika, dan kanker.

Aktor nan lucu dan bijaksana itu kini sudah tiada. Yang ditinggalkan merupakan pelajaran yang sangat berharga. Kelucuan ternyata tidak selalu membahagiakan. Beberapa film terbarunya masih menunggu giliran untuk diputar bagi khalayak umum. Salut. Mari menikmati dan memberi penghormatan pada sang legenda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s