Never Flat Stories

Third-Person

Third Person

Sutradara: Paul Haggis

Penulis: Paul Haggis

Pemain: Liam Neeson, Mila Kunis, Adrien Brody, Kim Basinger, James Franco, Maria Bello, Olivia Wilde, Loan Chabanol, Katy Louise Saunders

Ini kisah tentang tiga hubungan, dengan masing-masing hubungan melibatkan beberapa personal. Masalah dari ketiga hubungan itu adalah tentang cinta dan trauma (pada sebagian personal yang terlibat). Anak menjadi titik utama. Masa lalu terkait dengan anak membuat hidup yang dijalani beberapa personal harus dilalui dengan dilema, trauma.

Michael (Liam Neeson) adalah seorang penulis yang baru saja berpisah dari istrinya, Elaine (Kim Basinger). Di masa lalu, Michael bukanlah ayah yang baik bagi putrinya. Sebagai penulis yang karya pertamanya mendapat sambutan sangat baik, semangat menulis Michael menggebu – begitu pula dengan hasrat kepriaannya. Kobaran yang tanpa disadari malah membawanya pada kedataran rasa, baik yang tertuang dalam cerita maupun dalam kisah yang dijalani.

Ada pula Julia (Mila Kunis) yang harus menjalani kesulitan hidup setelah berpisah dengan Rick (James Franco). Bekerja sebagai petugas kebersihan kamar di sebuah hotel, Julia harus berjuang mendapatkan kesempatan bertemu dengan anaknya setelah sebuah kesalahan yang dia lakukan. Di saat bersamaan, dia pun harus berusaha bertahan dengan kehidupan yang sangat sulit.

Terakhir adalah Scott (Adrien Brody) yang melarikan diri dari kehidupan keluarga setelah putrinya meninggal. Tidak hanya Scott, sang mantan istri, Theresa (Maria Bello) pun harus menanggung hal yang sama. Theresa masih tetap tinggal di rumah tempat putri mereka mengalami kecelakaan. Kolam renang yang menjadi tempat kejadian kecelakaan menjadi suatu momok bagi Theresa.

Dalam pelarian terhadap masa lalu tersebut, masing-masing personal coba menjali hubungan dengan orang baru. Michael menjalin hubungan rahasia dengan Anna (Olivia Wilde) – dengan harapan dapat mengembalikan gelora hidup sekaligus semangat menulis. Rick menjalin hubungan dengan pasangan barunya, Sam (Loan Chabanol). Sementara, dalam pelariannya ke Roma, Italia, Scott bertemu dengan wanita seksi yang penuh masalah, Gina (Katy Louise Saunders). Masing-masing personal menjalani kisah dan kehidupan dengan konflik mereka.

Rasa cinta Michael harus berhadapan dengan jiwa petualang Anna. Ketika rasa cinta itu tumbuh, yang dicinta mengharapkan kebebasan. Tetap bersama dengan kehidupan seks rahasia nan terlarang bersama sang ayah. Perjuangan demi perjuangan, disertai pengorbanan, dilakukan demi menunjukkan kemurnian rasa cinta.

Julia harus menghadapi kenyataan pahit ketika keterlambatannya datang ke persidangan membuat dia kehilangan hak untuk bertemu dengan putra satu-satunya. Keterlambatan yang tidak disengaja. Situasi yang kompleks, meski telah berusaha keras, menghambat laju Julia untuk dapat tiba tepat waktunya di tempat persidangan.

Luka menganga setelah kehilangan putri satu-satunya coba Scott obati dengan membantu Gina. Tapi siapa sangka, niatan baik tersebut membawanya masuk ke dalam situasi yang berbahaya – juga permainan ketulusan dan penipuan.

Threesome

Menggabungkan tiga hubungan yang kompleks menjadi sebuah cerita bukanlah hal yang mudah. Harus ada cerdas menyiasati agar jembatan yang dibuat terasa kokoh, dapat dinikmati, logis, dan mendukung cerita. Tetapi, bukan juga sesuatu yang rumit – setidaknya itu yang dilakukan di film ini.

Ketiga hubungan dengan kompleksitas masing-masing dapat digabungkan dengan cara yang sederhana. Hanya memerlukan beberapa adegan untuk membuat penonton menyadari ketiga hubungan tersebut berkaitan. Julis dan Theresa yang berperan menjadi jembatan tersebut.

Kegagalan Julia datang tepat waktu ke pengadilan, salah satunya, dikarenakan hilangnya secarik kertas bertuliskan alamat pengadilan tersebut. Bukan semata karena kelalaian Julia secarik kertas itu hilang. Michael yang menggunakan kertas kertas yang sama untuk menulis nomor telefon baru mantan istrinya dan sikap obsesif Anna menyembunyikan secarik kertas itu turut berperan dalam kejadian hilangnya kertas yang sangat penting bagi Julia.

Rasa kehilangan terhadap putri tercinta coba diatasi Theresa dengan membatu Julia mendapatkan hak bertemu dengan putranya. Bukan jalan keluar yang mudah. Bukan sekadar karena Theresa harus bekerja secara sukarela (mengingat kesulitan ekonomi yang dialami Julia), tetapi bersama dengan proses tersebut Theresa juga harus mengatasi rasa kehilangannya.

Hal lain yang saya kagumi di sini adalah cara membangun (mengadakan) jembatan itu. Terasa normal. Tidak dipaksakan. Ketika awal, masing-masing hubungan seperti terpisah, tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya. Terus berlanjut hingga sampai pada hampir setengah film, ketika muncul adegan secarik kertas yang sangat berarti bagi Julia tapi diambil oleh Anna.

Peran Theresa sebagai jembatan yang lain baru disampaikan ketika film hampir selesai, menjelang akhir. Dengan adegan yang sangat sederhana, penonton diberi tahu hubungan antara Scott dan Theresa – melalui percakapan di telefon antara kedua tokoh tersebut.

Cerita yang dibangun dengan sangat baik. Hubungan antartokoh pun terjadi dengan sangat baik. Terasa lancar tanpa ada kesan dipaksakan. Begitu pula dengan akhir cerita. Di sinilah saya tambah kagum – meski harus bercampur sedih, gembira, ironis, dan sebagainya. Akhir cerita tidak dipaksakan sama untuk semua tokoh yang terlibat dalam cerita ini. Ada yang bahagia, ada yang duka, ada yang terbebas dari beban, ada yang malah tersesat dalam pencarian (menggantung). Lengkap, kan?

The Best of Three

Sebagai orang awam yang cukup sering menikmati film, bagi saya ketiga hubungan yang tersaji dalam film ini dapat menjadi film tersendiri – tentunya dengan menghilangkan jembatan-jembatan dan memikirkan cara untuk membangun konflik yang setidaknya sepadan seperti yang dilakukan di film ini. Dan jika masing-masing hubungan menjadi sebuah film, kalau boleh memilih, saya akan menyebut kisah tentang Michael sebagai yang terbaik. Bukan berarti dua kisah lainnya tidak menarik.

Kisah Julia cukup menarik, meski agak klise. Perjuangan hidup seseorang demi memperbaiki masa lalu sudah begitu banyak diangkat menjadi tema sebuah film. Yang menarik dari cerita ini adalah ketika Julia mendapatkan kesempatan berdua dengan putranya. Dalam kesempatan yang sangat singkat dan sangat berharga tersebut, yang dilakukan (dikatakan) Julia merupakan sesuatu yang di luar bayangan – setidaknya bagi saya. Alih-alih meminta maaf kepada sang putra atas perbuatan buruk yang pernah dilakukan di masa lalu atau meminta sang putra untuk hidup bersamanya, Julia malah berpesan agar sang putra dapat menjaga ayahnya (Rick). Kalau mengutip istilah office boy di kantor, menyentuh banget.

Yang menarik dari kisah Scott adalah permainan penipuan-ketulusan. Saat bertemu dengan Gina di sebuah bar, Scott seperti hanya ingin mengajak wanita seksi yang sedang terlibat masalah tersebut untuk tidur. Terlebih ketika ternyata Scott-lah yang mencuri uang tebusan untuk putrid Gina. Tapi yang kemudian terjadi malah sebaliknya. Ketika Scott menunjukkan ketulusan untuk membatu Gina – yang bersamaan dengannya juga membantunya menghilangkan trauma masa lalu –, justru Gina-lah yang digambarkan seperti memanfaatkan kebaikan hati Scott. Setelah persenggamaan yang sangat mesra, ekspresi yang ditunjukkan Gina mengundang kecurigaan. Terlebih ketika dia menentukan pilihan dari dua opsi yang ditawarkan Scott.

Namun, semenarik apapun yang disajikan oleh dua hubungan tersebut, yang paling menarik saya adalah kisah Michael. Bagi saya, kisah Michael sangat fluktuatif – seperti kurs rupiah. Hahaha…. Naik-turun istilah sederhananya. Penuh dengan warna istilah kiasannya.

Di awal pertemuan, Anna tampil seperti wanita jalang yang sangat menggoda. Persenggamaan yang dilakukan pun terkesan brutal. Terburu-buru. Penuh dengan nafsu. Ketika Michael menunjukkan keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama, Anna malah menjauh. Menjaga jarak, bersikap tak acuh. Michael bukanlah pria yang mudah menyerah. Dia terus berusaha mendapatkan wanita yang diingininya. Di saat yang bersamaan, yang dilakukan Anna semakin gila. Bukan sekadar berkencan dengan pria lain. Yang dilakukannya lebih dari itu. Dia tidur dengan ayahnya sendiri. Ketika kembali ke kamar dan mendapati kamarnya dipenuhi mawar putih, hati Anna hancur berantakan. Setelah yang dilakukan bersama sang ayah, perlakuan Michael padanya adalah sesuatu yang sangat menyakitkan – sekaligus meluluhlantakkan hati. Halah….

Anna pun jatuh cinta pada Michael dan bersedia menyerahkan hidupnya pada Michael. Anna masuk dalam perangkap. Michael berhasil. Dia mendapatkan yang diinginkan. Dia berhasil mendapatkan wanita yang pernah mengombang-ambingkan perasaannya sekaligus mendapatkan cerita brilian sebagai bahan buku yang berikutnya – setelah kegagalannya dengan buku-buku sebelumnya. Tetapi, bukan berarti pula Michael berakhir dengan bahagia. Michael justru tersesat. Yang dia lakukan malah membawa dirinya pada kegamangan. Dia tidak dapat terus bersama wanita yang telah dia hancurkan pun dia tidak dapat kembali ke masa lalu dan memperbaiki hubungan dengan mantan istri. Michael terjebak dalam cerita yang dia buat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s