Dicari: Pembantu yang Setia dan Tidak 4L4y

Courtesy of The Guardian
Courtesy of The Guardian

“Haloo jugaa heeeheeEe ? Bru bngun bobo … TgL 10 oke dc … Q cafcuz jkT … Tfi gajihh taikin ea hEEeehee”

Itu pesan balasan dari seorang baby sitter yang selama beberapa lama ini mengasuh anak teman saya. Sebelumnya, teman saya bertanya pada baby sitter ini mengenai tanggal dia kembali dari kampung halaman – setelah libur lebaran. Reaksi teman saya, yang tidak berbeda dengan reaksi saya ketika teman itu meneruskan pesan yang dia terima kepada saya, tentu saja terkejut, dicampur satu sendok marah, sesiung kesal, beberapa lembar dongkol, dan berbagai bumbu lainnya.

Saya yakin, teman saya itu tidak pernah menyangka bahwa suatu saat dia akan menerima pesan seperti itu dari si mbak yang sudah beberapa waktu mengurus anaknya. “Gua, sih, emang rencananya mau naikin gajinya dia,” begitu lanjut cerita teman saya. Tapi setelah menerima balasan tadi, teman saya ini pun berubah pikiran. Dia lalu sibuk mencari informasi mengenai pengasuh yang baru untuk anaknya.

Sehari setelah percakapan itu, teman saya ini mengubah statusnya di BBM. “I miss you so much, Ayu ” begitu status yang tertulis beserta foto sebuah makam. Merasa penasaran, saya pun bertanya kepada teman itu. Ternyata, Ayu yang dimaksud adalah seorang wanita yang pernah bekerja untuk keluarganya. Wanita ini menjadi pengasuh anak-anak di keluarga itu sejak anak pertama lahir. Berpuluh tahun dia mengabdikan diri untuk keluarga teman saya. Pengabdian Ayu berakhir ketika Tuhan memanggilnya. Foto makam yang dipasang pun merupakan tempat peristirahatan terakhir Ayu.

Saya memang tidak bertanya lebih lanjut soal alasan dia menulis status dan foto tersebut. Tapi, menurut hati sotoy saya, saya dapat membayangkan alasannya. Sederhana saja, yang terjadi bukan sekadar kerinduan terhadap wanita yang dulu begitu dekat dengannya. Dari kecil, remaja, hingga dewasa berada di dekat teman saya ini. Ketika kemudian teman saya ini mengirimkan pesan “Kalau Ayu masih hidup, dia pasti sayang banget sama Anda (nama anak teman saya-red)” saya tahu kerinduan teman saya ini lebih dari itu. Dia rindu pada sosok pengasuh yang tidak hanya bekerja, tapi mengabdi sampai akhirnya menjadi bagian dari keluarga tempat dia bekerja.

Serupa dengan kisah teman itu, teman-teman di kantor pun dipusingkan dengan masalah rumah tangga. Pembantu yang ternyata tidak mau kembali padahal sewaktu pamit untuk pulang kampung berjanji akan kembali setelah lebaran, pengasuh yang ternyata tidak dapat dihubungi, dan lain sebagainya. Hari-hari awal bekerja setelah libur lebaran pun diisi dengan cerita mengenai kesulitan mencari pembantu atau pengasuh yang baru.

Saya yakin, di luar sana, ada banyak orang yang mengalami hal serupa. Setelah libur lebaran, mereka dihadapkan pada permasalah domestik. Ketika pekerjaan dan berbagai rutinitas sudah menanti, ternyata urusan di dalam rumah masih mengganjak dan menjadi beban yang membuat resah menghadapi berbagai aktivitas.

—-

Memiliki pengasuh dan pembantu, atau salah satu di antaranya, seperti menjadi keharusan bagi pasangan muda saat ini. Ketika suami-istri setiap hari disibukkan dengan urusan karier, kehadiran dua orang tersebut menjadi tumpuan anak dan rumah. Inilah realita saat ini. Bukan berarti mereka menyepelekan urusan domestik. Tapi, ada berbagai alasan yang “mengharuskan” hal itu terjadi, mulai dari ambisi mengenai karier sampai keterpaksaan soal ekonomi yang memaksa suami-istri bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka. Apapun alasannya, rumah tangga yang mereka bangun sangat memerlukan kehadiran pihak lain agar semuanya dapat berjalan dengan lancar. Tapi ketika pihak lain ini ternyata malah membuat masalah, jangan berharap rumah tangga dapat berjalan dengan baik. Untuk dapat terus berjalan pun harus menerima kondisi bahwa lajunya tersendat-sendat – dan itu sangat lebih baik dibanding tidak melaju sama sekali.

Yang saya maksud di sini bukan dalam jangka singkat, tapi dalam rentang waktu yang panjang. Untuk sementara, ketidakhadiran pembantu atau pengasuh mungkin dapat diatasi dengan “pengorbanan” salah satu dari pasangan muda tersebut. Entah itu pulang lebih awal, menambah cuti, dan sebagainya. Tapi, itu merupakan solusi sesaat – yang tidak mungkin dilakukan untuk jangka panjang. Jika kondisi itu terus berlangsung, berbagai masalah pun (saya yakin) akan timbul.

Namun, yang juga harus disadari adalah ada realitas lain yang terjadi. Bukan hanya gaya hidup pasangan muda di perkotaan, tapi juga gaya hidup masyarakat di luar kawasan kota. Menjadi pengasuh atau pembantu rumah tangga, saat ini, bukan lagi menjadi pilihan profesi bagi masyarakat di luar kota. Akses informasi sudah terbuka. Mereka punya banyak pilihan mengenai profesi yang ingin dijalani. Bahkan, menurut teman di kantor yang berasal dari daerah, orang-orang di daerahnya yang berlatar belakang pendidikan rendah lebih memilih mengeluarkan uang sogokan agar bisa bekerja di pabrik daripada harus bekerja sebagai pembantu atau pengasuh. Atau, kalaupun mereka memilih menjalani dua profesi itu, luar negeri menjadi tujuan mereka. Gaji yang besar menjadi salah satu alasannya.

Realita lain yang harus disadari adalah jangan berharap hadirnya sosok pembantu atau pengasuh yang penuh pengabdian. Itu cerita masa lalu. Sudah usang. Drama komedi “Losmen” sudah begitu lama tidak lagi ditayangkan di TVRI. Yang hadir saat ini adalah sosok pengasuh atau pembantu yang seperti itu. Ala kadarnya, kalau boleh berkata kasar. Remaja yang sehari-hari sibuk dengan telefon genggamnya, membalas pesan di Facebook, atau berkenalan dengan orang-orang di dunia maya. Remaja yang memasukkan “boleh keluar pada Sabtu atau Minggu” di syarat bekerja. Remaja yang meminta kenaikan gaji ketika majikan mereka memiliki anak lagi.

Jadi, kalau boleh mengambil sikap ekstrim, saat ini bukanlah majikan yang memegang kendali. Justru pembantu dan pengasuhnya yang dapat mengatur majikan mereka. Sabar, ya, Teman….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s