Communication Breakdown

image

Mungkin ini merupakan salah satu gejala sosial yang terjadi di negara-negara berkembang dengan identitas nasional yang lemah. Mungkin pula hanya terjadi di sini, atau tepatnya di diri saya dan lingkungan sekitar saya. Entahlah, yang pasti, fenomena (jika dapat dikatakan begitu) ini memang terjadi. Dalam berkomunikasi, bahasa yang digunakan terkadang berbeda dengan yang biasa (atau mungkin seharusnya) digunakan.

Sesuai dengan UUD 45, bahasa nasional negara ini adalah bahasa Indonesia. Dan, apa itu bahasa Indonesia, sepertinya sudah tidak perlu dijabarkan lagi. Yang sering terjadi adalah penggabungan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Bagi ahli linguistik mungkin akan memandang fenomena ini sebagai krisis kepercayaan kepada bahasa Indonesia. Memasukkan bahasa asing ke dalam kalimat yang sesungguhnya merupakan bahasa Indonesia dianggap melecehkan bahasa nasional kita – karena sebenarnya bahasa Indonesia memiliki kemampuan menyampaikan pesan yang ingin diutarakan tanpa memerlukan bantuan bahasa asing tersebut, kecuali untuk konsep-konsep baru yang berasal dari budaya asing. Bahwa dalam pembendaharaan kosa kata bahasa Indonesia terdapat banyak sekali kata yang sebenarnya merupakan bahasa asing merupakan kenyataan yang tidak dapat dielakkan. Tapi, kata-kata tersebut sudah diserap. Menggunakan istilah di dunia sepakbola, sudah dinasionalisasi. Jadinya, dia tidak lagi berstatus kata asing tapi sudah menjadi kata Indonesia.

Saya pribadi, sering melakukannya – entah secara sengaja maupun tidak. Alasannya sederhana saja, ingin terlihat “pintar”. Alasan standar, klise, dan pada akhirnya merupakan upaya bunuh diri.

Saya punya seorang teman yang tinggal di kota nun di sana. Sebagai seorang teman, dia adalah orang yang sangat berharga. Jujur, memberi koreksi dan masukan, tidak hanya terus berucap yang bagus tapi menyembunyikan kenyataan. Kepada teman ini, saya berkali-kali menerapkan gaya komunikasi mencampurkan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Kebetulan, karena memang terpancing gaya komunikasi sang teman yang memang seperti itu. Ya, sederhananya, merasa enggak mau kalah. Yang kemudian terjadi adalah cukup sering teman ini bilang bahwa ungkapan bahasa asing yang saya gunakan tidak tepat – meskipun jujur, dia tetap menjaga perasaan saya (memilih menggunakan “tidak tepat” alih-alih “salah). Ketidaktepatannya pun bermacam. Mulai dari struktur, bentuk, dan sebagainya. Usaha meningkatkan citra saya agar terlihat lebih pintar pun menjadi boomerang (bukan band asal Surabaya). Berharap terlihat pintar, yang saya lakukan malah menunjukkan citra saya yang sebenarnya ;).

Ada pula cara lain yang biasa saya, juga beberapa orang lain, gunakan untuk menunjukkan citra pintar. Alih-alih menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, saya memilih gaya bahasa tersirat, bersimbol. Ya, semacam filsuf atau sastrawan. Kalimat yang mereka hasilkan kaya akan makna. Penuh simbol. Diperlukan pengetahuan dan rangkaian pemikiran untuk dapat mengerti maksud yang ingin disampaikan. Ditambah dengan istilah-istilah yang tidak populer, jadilah gaya komunikasi yang saya terapkan pun menjadi maha cerdas. Berhasil? Sayangnya, lagi-lagi, tidak.

Saya ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat itu, saya sedang mendekati seorang perempuan. Suatu malam, kami intens mengobrol via sms. Komunikasi yang dilakukan ya menggunakan gaya yang “penuh kiasan agar terlihat pintar”. Yang terjadi malah salah persepsi yang hampir-hampir berujung pada kandasnya cinta saya. Masalahnya, saat itu, diantara kami tidak ada kesepakatan mengenai makna dari simbol-simbol yang digunakan dalam percakapan malam itu. Setelah mengobrol panjang lebar, juga karena sudah larut, saya pun semakin pusing dengan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh wanita itu. Saya pun mengambil inisiatif menelefonnya dan berbicara dengan kalimat sederhana dan langsung pada makna yang ingin disampaikan. Tidak perlu waktu lama. Hari itu, kami pun resmi menjadi sepasang kekasih. Cieeee…. gueeeee…..

Sederhana Lebih Mewah
Berbagai kejadian di masa lalu tersebut, yang berhubungan dengan cara komunikasi, membuat saya berpikir ulang. Mungkin sudah saatnya untuk melepaskan cara komunikasi seperti itu. Persetan dengan citra terlihat pintar, ingin seperti filsuf atau sastrawan.

Hal terpenting dari komunikasi bukanlah membangun citra pihak-pihak yang terlihat dalam proses komunikasi tersebut – ya walaupun tidak begitu ketika masuk dalam ranah politik. Pesan menjadi hal utama dan terpenting dalam proses komunikasi. Yang terjadi pada komunikasi yang selama ini saya lakukan adalah sebuah kesalahan fatal. Saya menyingkirkan hal yang primer demi hal yang sebenarnya tersier. Tidak penting seberapa cerdas saya. Tidak penting seberapa romantis kata-kata yang saya rangkai. Yang terpenting adalah ungkapan cinta saya dimengerti oleh wanita yang saya sayangi. Itu, kan, intinya? Hehehehe….

NB: Mengenai judul tulisan ini yang sok-sokan menggunakan bahasa asing, itu bukan agar saya terlihat cerdas. Tidak. Menurut teman saya yang penggiat blog, menggunakan bahasa asing terutama istilah-istilah yang umum digunakan (terutama pada judul) merupakan salah satu cara agar tulisan yang dibuat di blog dapat terlacak oleh orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s