Kegagalan Penulis? Mungkin…

Courtesy of The Guardian
Courtesy of The Guardian

“Kalau suatu hari gue bisa ngobrol sama dia, gue mau blg. Saya ngga ngerti tulisan bapak. Seperti kebanyakan orang. Kalau menurut bapak saya bodoh, ya gpp juga. Tapi asal bapak tau, itu artinya kegagalan bapak.”

Begitu tulis salah seorang di grup WhatsApp yang saya ikuti. Malam itu, pembicaraan awalnya tentang pidato yang disampaikan Joko Widodo setelah KPU menyatakan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai pemenangan pemilihan Presiden Republik Indonesia 2014. Seperti biasa, satu topik lalu berkembang, menyambung ke topik lain. Dan, malam itu topik mengenai pidato Joko Widodo pun berkembang, menyambung ke soal Goenawan Muhamad (GM) – tokoh yang disebut “dia” dan “bapak” dalam kutipan tersebut.

Yang menjadi pembahasan sebenarnya sederhana, menyoal tulisan-tulisan GM. Bagi yang mengikuti dan sering (atau setidaknya pernah) membaca tulisan GM, akan dapat mengerti yang dimaksud dalam kutipan tersebut. Dalam tulisannya, GM sering kali mengutip ide dari berbagai tokoh tanpa secara langsung memberikan referensi tokoh yang dimaksud.

Jujur saja, saya pun sependapat dengan orang tersebut. Membaca tulisan-tulisan GM memerlukan “perhatian” khusus. Perlu fokus dan tenaga tambahan agar dapat mencerna maksud yang ingin disampaikan. Baru pada tahap mencerna, belum sampai pada tahap memahami. Karena, jujur saja, seperti halnya orang yang menyampaikan pendapat tersebut, saya pun menjadi orang bodoh (bahkan sangat) ketika membaca tulisan-tulisan GM. Jarang sekali saya dapat memahami yang dimaksud GM dalam tulisan-tulisannya – meskipun terkadang, atas nama gengsi, saya mengaku mengerti kepada orang-orang.

Membuat Paham atau Minta Dipahami?
Dalam percakapan tersebut, seorang yang lain melebarkan topik dengan membahas keterlibatan GM dalam Surat Kepercayaan Gelanggang. Saya pun teringat pada polemik yang terjadi saat itu antara dua kelompok budayawan yang memiliki pandangan berbeda mengenai ideologi karya yang mereka buat. Menurut saya, percakapan di grup malam itu pun mirip dengan polemik yang terjadi di masa lalu, terkait dengan Surat Kepercayaan Gelanggang.

Kebetulan, salah satu anggota grup juga seorang penulis. Seperti halnya GM, orang ini pun memiliki kolom khusus yang terbit secara berkala di sebuah media cetak nasional. Namun, yang membedakan adalah orang ini memiliki gaya tulisan yang berbeda dengan GM. Dibandingkan dengan tulisan-tulisan GM, tulisan-tulisan orang ini terasa ringan, lucu, dan mudah dimengerti. Membaca tulisan-tulisannya, meski sering kali membuat saya (sebagai pembaca) jadi berpikir tentang hal-hal yang disampaikan dalam tulisan, merupakan momen menyenangkan. Semacam pelepasan diri dari kelelahan. Rendezvous, bahasa kerennya.

Orang ini pun sependapat dengan kutipan di awal tadi. Meski memiliki pengalaman panjang sebagai penulis dan jurnalis, dia pun mengakui mengalami kesulitan memahami tulisan-tulisan GM.

Kalau begitu, apakah benar GM telah gagal menjadi penulis?

Membagi Pengetahuan
Seperti halnya mengajar, menulis merupakan aktivitas membagikan pengetahuan. Seorang penulis, mungkin secara tidak sadar, telah membagikan pengetahuan yang dimilikinya kepada para pembaca. Itu pula yang dilakukan GM dan seseorang di grup saya itu (termasuk juga saya ketika membuat tulisan ini. Semoga kami semua mendapatkan pahala di bulan yang penuh berkah ini. Amin….).

Pengetahuan yang dibagikan atau terasa maksimal jika semakin banyak orang yang dapat menerimanya. Itu idealnya. Atau, setidaknya begitulah menurut agama. Lagipula, saya pun meyakininya seperti itu. Dan jika memang seperti itu sikap yang diambil, GM memang telah gagal sebagai penulis. Karena, tulisan-tulisan yang dia buat memang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan seperti yang dia miliki, dan, jujur saja, hanya sebagian kecil orang yang memiliki pengetahuan sepeti itu. Selesai.

Namun, jika mau mempertimbangkan hal lain, sepertinya GM tidak terlalu gagal sebagai penulis.

Begini. Seperti berbagai hal lain, tulisan pun dapat dikategorikan. Ada bahan bacaan yang dibuat untuk level Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Perguruan Tinggi, Profesor, Profesional, dan sebagainya. Nah, yang dilakukan GM adalah mengkhususkan pembaca. Kalau boleh bersok tahu, GM memang sengaja menspesifikasikan pembaca tulisan-tulisannya. Dia tidak berambisi agar semua orang dapat memahami maksud yang ingin disampaikan. Kelompok yang termasuk dalam klasifikasi pembaca yang dituju adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan seperti yang dia miliki. Karenanya, ketika dia mengutip pemikiran tokoh-tokoh dunia, pembaca akan dapat memahami maksud yang ingin disampaikan – meski tidak mereferensi langsung pada tokoh yang dimaksud.

Saya pribadi, sebagai pembaca (dan kalau boleh mengklaim diri sendiri) dan penulis, memilih bersikap netral. Bagi saya, perbedaan antara GM dan orang yang tergabung di grup tersebut hanyalah mengenai sikap. Keduanya merupakan penulis yang sangat berpengalaman. Hanya saja, keduanya memiliki pandangan yang berbeda mengenai sikap dalam menulis. Mana yang lebih baik, ya, tergantung pembaca. Keduanya bisa sama-sama yang terbaik. Saya pun, meski mengalami kesulitan memahami maksud tulisan-tulisan GM, terkadang masih membaca “Catatan Pinggir”. Terkadang, karena saya tidak mau memaksakan diri saya ke level yang sebenarnya bukanlah tempat saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s