Chat with the Stranger

The-Lunchbox-poster

Dabba (The Lunchbox)

2013-India

Sutradara: Ritesh Batra

Penulis: Ritesh Batra

Pemain: Irrfan Khan, Nimrat Kaur, Nawazuddin Siddiqui, Lillete Dubey, Nakul Vaid, dan Bharati Achrekar

 

Bukan maksudku mau berbagi nasib,

nasib adalah kesunyian masing-masing

Kupilih kau dari yang banyak, tapi

sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.

Aku pernah ingin benar padamu,

Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

 

Kita berpeluk cium tidak jemu,

Rasa tak sanggup kau kulepaskan.

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,

Aku memang tidak bisa lama bersama

Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!

(“Pemberian Tahu”, Chairil Anwar)

“Kenapa kamu nyeritain semua ini ke aku?” itu pesan yang dikirim seorang teman menanggapi cerita panjang yang baru saja diselesaikan. “Kenapa?” Hmm… terlalu rumit untuk dijelaskan.

Perkenalan yang terjadi baru sesaat. Hanya dalam hitungan jam. Hanya bertukar nama panggilan dan akun dijejaring sosial. Wajah masing-masing hanya terlihat di foto yang terpampang di keterangan akun. Selebihnya, hanya dua orang yang tidak saling mengenal. Lalu, kenapa bisa begitu saja mengalirkan cerita pribadi?

Kalau ditanya, jujur saja, saya pun bingung. Tapi, pada kenyataannya, itulah yang terjadi.

The-LunchboxMenurut pengalaman saya, yang sangat mungkin akan berbeda dengan orang lain, ada dua tipe orang yang dapat dipercaya untuk diceritakan masalah-masalah pribadi. Yang pertama adalah orang yang sudah dikenal lama dan begitu dekat. Dengannya, berbagai hal sudah dilalui dan satu sama lain sudah saling mengenal hingga ke bagian yang sangat pribadi. Itu standar. Tipe yang kedua adalah orang yang sangat tidak dikenal. Orang yang bahkan dengan berbagai kemungkinan yang terjadi di dunia ini, sangat sulit untuk bertemu atau terhubung. Satu hal yang memungkinkan terjalinnya hubungan dengan orang seperti ini adalah kebetulan yang biasa terjadi di media sosial. Dan, itulah yang terjadi.

Pada dasarnya, meski terdengar seperti langit-bumi, kedua tipe tersebut memiliki kesamaan fundamental. Bercerita dengannya, berbagi kisah kepadanya terasa aman. Pada tipe yang pertama, keamanan itu terbangun karena sudah saling mengenal. Sementara, pada tipe kedua, keamanan itu terbangun karena “masa-bodoh”. Seperti yang saya bilang tadi, dengan segala kemungkinan yang terjadi, meski berada di kota yang sama, kecil sekali kemungkinan keduanya akan berhubungan di dunia nyata – kecuali ketika keduanya sama-sama berkomitmen untuk melakukannya. Masa bodoh, karena orang yang dibagi cerita pun tidak tahu kebenaran dari kisah yang disampaikan. Masa bodoh pula kalau yang diceritakan kemudian membaginya kepada orang lain. Toh, nama-nama yang terlibat pun patut dipertanyakan kebenarannya.

Apapun yang dikemukakan, pada intinya yang dilakukan adalah berbagi kesendirian. Semua orang, siapapun, memiliki kebutuhan untuk didengar, berbagi cerita, berbagi kesendirian. Tak ada yang pasti, kenapa harus terhubung dengan Si A lalu berbagi kisah dengannya. Nasib menuntun kita menjalani hidup. Nasib kesendirian yang mendorong kita untuk berbagi dengan yang lain.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s