I was 27 and Here I am…

3 Hari Untuk Selamanya (2007)
3 Hari Untuk Selamanya (2007)

Sebuah film lama. Sekitar tujuh tahun yang lalu. Kira-kira hampir seusia keponakan saya yang paling besar (informasi enggak penting). Tapi, baru kemarin saya menontonnya. Ketinggalan banget? Saya enggak peduli. Toh, saya tidak pernah memproklamirkan diri sebagai maniak film apalagi kritikus film. Saya ini hanya orang yang senang menonton film. Secepat mungkin menonton film yang baru rilis tidak pernah masuk dalam daftar hal penting dalam hidup saya. Hehehe… Bahkan, teman-teman di kantor pun (NB: saya menonton film ini di youtube menggunakan komputer dan jaringan internet kantor serta pada jam kerja pula) berkomentar, “Bah… baru nonton lo?” Saya pun terus fokus menatap layar monitor.

Saya tidak mau bercerita tentang film ini. Karena, tentunya, itu merupakan hal yang sangat membosankan – bukan karena film ini membosankan tapi tentunya karena sudah ada begitu banyak yang mengulas dan tentunya jauh lebih bagus dari saya. Yang menarik perhatian saya adalah salah satu bagian pada film ini. Ketika Yusuf (Nicholas Saputra) membahas soal usia 27. Menurut Yusuf, 27 merupakan salah satu usia terpenting dalam hidup manusia. Di usia ini, seseorang akan membuat keputusan penting yang akan menentukan jalan hidupnya.

Entah apa dasarnya pernyataan itu. Apakah memang ada penelitian yang mendukung atau itu sekadar pernyataan-mencari-sensasi. Saya pun tidak ambil peduli. Yang pasti, setelah adegan itu, saya kemudian coba mengingat-ingat yang saya lakukan ketika berusia 27. Dan….

Selepas kuliah, dapat dibilang, saya termasuk orang yang beruntung. Sebelum dinyatakan lulus, saya sudah mendapat pekerjaan – meski sebagai freelance. Beberapa kemudian, saya bahkan menjalani double-job. Penghasilan yang saya dapat pun terbilang cukup. Waktu berjalan, saya merasakan keberuntungan selalu ada di saat yang tepat. Secara kebetulan, saya mendapat tawaran pekerjaan dari seorang teman di saat saya merasa tempat saya bekerja saat itu sudah kondusif. Dan, benar saja. Beberapa bulan setelah pindah tempat bekerja, kantor saya yang lama tutup, a.k.a. bangkrut. Fiuh… Alhamdulillah. Seterusnya, saya semakin menikmati pekerjaan yang saya jalani. Sampai kemudian, saya berusia 27.

Saya pun sebenarnya tidak sadar bahwa saat mengalami hal tersebut saya berusia 27 tahun. Saya menyadarinya setelah menonton film ini.

Saat itu, untuk pertama kalinya, saya mengalami rasanya menjadi pengangguran. Kantor saya memutuskan menutup divisi tempat saya bekerja. Saya sebenarnya mendapat tawaran untuk pindah ke divisi yang lain. Tapi, bekerja di divisi yang lain rasanya sudah setengah hati. Makanya, saya memutuskan keluar dan menerima pesangon. Selama enam bulan kemudian, saya menikmati masa-masa menjadi pengangguran.

Nikmat? Tidak sepenuhnya.

Pada masa itu, saya memang sangat menikmati keseharian yang tanpa rutinitas. Bangun tidur, saya bisa bersantai dan melakukan apapun yang saya inginkan. Beberapa kali bahkan saya melakukan perjalanan bersama sepeda motor sejauh ratusan kilometer – perjalanan tanpa rencana.

Yang tidak nikmat adalah ketika memasuki bulan kelima. Ketika kedua orangtua saya mulai memasang muka “tidak enak”. Walhasil, perburuan mencari pekerjaan baru pun dimulai. Alhamdulillah, tidak terlalu lama. Saya pun kemudian diterima bekerja di kantor yang baru.

Tidak menarik ya? Hmm….

Yang membuat saya akhirnya membuat tulisan ini adalah kejadian setelah itu, setelah saya melewati masa berusia 27 tahun – tepatnya sekitar dua tahun kemudian.

Bekerja di kantor yang baru, awalnya, saya cukup dapat menikmati – walaupun dalam hati masih ada keinginan untuk terus melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor. Tapi, demi melihat senyum di wajah orangtua, ya sudahlah. Nikamti saja. Kebetulan, pekerjaan yang saya lakukan pun cukup menyenangkan – cukup ringan-red. Tapi, seiring berjalan waktu, satu per satu hal kurang menyenangkan mulai timbul. Mulai dari perilaku rekan sekantor yang sangat mengganggu privasi saya, bos yang kurang memperhatikan, sampai masalah-masalah enggak penting yang terlalu dibesar-besarkan. Intinya, saya lalu merasa tidak kerasan bekerja di kantor tersebut. Kebetulan, saat rasa tidak kerasan itu muncul, kontrak saya di kantor itu tinggal beberapa bulan lagi. Dan, ketika masa kontrak usai, saya pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak – walaupun saat itu saya belum mendapat pekerjaan baru dan harus kembali berstatus pengangguran.

Terus, hubungannya?

Saat berkuliah atau awal lulus, saya tidak pernah membayangkan rasanya menjadi pengangguran. Bagi saya, saat itu, pengangguran adalah satu hal yang sangat tidak boleh saya alami. Saya akan merasa gagal jika sampai menjadi pengangguran. Tapi nyatanya, sampai saat ini, saya sudah dua kali menyandang predikat pengangguran.

Saya bukannya ingin berbangga hati atau menyatakan ketidakmampuan saya bersetia untuk tidak pernah menganggur. Tidak. Sama sekali. Yang ingin saya katakana adalah, keputusan saya tidak meneruskan kontrak tidak bisa dilepaskan dari pengalaman menganggur yang pertama. Jujur saja, ketika menolak tawaran pindah divisi dan memutuskan keluar, saya sudah kehilangan semangat bekerja di kantor itu. Karenanya, saat itu, saya berpikir kalau saya terus bekerja di kantor itu, yang saya lakukan hanya membuat kekacauan. Saya hanya akan berulah tanpa pernah memberi kontribusi pada kantor. Dan, itu pula yang saya pertimbangkan ketika memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Saya sudah tidak nyaman. Tidak perlu dilanjutkan. Tidak perlu berpikir lama dan rumit. Cukup meyakinkan diri dan lakukan. Dan sekarang, setelah sekitar enam bulan (lagi) menjadi pengangguran, saya pun mendapat pekerjaan. Sampai sekarang, saya menikmati yang saya lakukan di kantor yang baru. Saya nyaman dengan pekerjaan, orang, serta suasana di sini. Dan mungkin, ini tidak akan saya dapatkan kalau saya tidak berani membuat keputusan penting di usia 27 – keputusan yang tidak hanya membuat saya menjadi pengangguran tetapi juga membuat saya harus berpikir ulang tentang hal-hal yang sangat saya hindari.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “I was 27 and Here I am…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s