The Truth Is…

Radiohead-Meeting People Is Easy

Meeting People is Easy

1998-Amerika Serikat

Sutradara: Grant Gee

Pemain: Radiohead, Thom Yorke, Jonny Greenwood, Ed O’Brien, Colin Greenwood, dan Phil Selway

Kira-kira, yang saya bayangkan, adalah seperti ini skenarionya. Pada awalnya, yang diinginkan adalah berkarya. Berpikir dan berusaha menciptakan karya. Segala daya, upaya, rasa dikerahkan. Tujuannya, agar karya yang dibuat diterima dan dihargai oleh khalayak. Jika sudah demikian, berkarya dapat menjadi jalan hidup. Mencukupi kebutuhan dan membuat si pekarya dapat terus membuat karya-karya yang lain. Itulah gambaran yang sangat naïf. Betul-betul naif. Karena, pada kenyataannya, tidak sesederhana itu.

Dalam proses berkarya, pekarya memang bekerja sendiri. Dalam hal ini, dia (mereka) tidak melibatkan pihak luar – kalaupun ada, hanya minim. Tetapi, ketika karya yang dibuat diperkenalkan kepada publik, sudah pasti akan ada pihak lain yang terlibat. Pihak lain ini, sayangnya, merupakan pihak yang berkuasa. Dia tidak sekadar pihak yang terlibat, tetapi juga yang memiliki kuasa.

Dalam bisnis, yang terpenting adalah keuntungan. Untuk apa membuat suatu usaha tanpa menghasilkan keuntungan? Dalam hal ini, keuntungan tersebut adalah uang. Industri musik pun seperti itu.

Setiap saat, ada saja talenta-talenta baru yang datang dengan ambisi dan keinginan besar, bahwa mereka dapat membuat sesuatu yang besar yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, berharap karya yang dibuatnya itu dapat memberikan pengaruh pada kehidupan masyarakat. Mereka, talenta-talenta baru itu, masihlah amat naif. Dan, kenaifan itulah yang menjadi keuntungan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pelaku bisnis musik.

Ketika masuk dan dirasa memiliki bakat besar yang sanggup mendatangkan keuntungan, pelaku bisnis tentu akan menyodorkan berbagai hal yang menggiurkan. Uang dalam jumlah sangat banyak, ketenaran, kemewahan, perjalanan eksklusif yang dulu dirasa hanya angan semata, dan sebagainya. Tetapi, apakah sesungguhnya semua itu menyenangkan?

Bagi musisi, rilisnya album merupakan pencapaian yang luar biasa. Semua yang sudah dilakukan selama ini akhirnya menghasilkan sesuatu. Sebuah pelepasan. Hembusan napas lega setelah air dingin mengisi tenggorokan yang kering. Lega. Puas. Bahagia.

Dalam industri musik, rilisnya sebuah album hanyalah awal dari sebuah perjalanan dan kesibukan panjang yang sangat melelahkan. Rilisnya album akan diiringi dengan jadwal konser, wawancara dengan berbagai media, tampil di berbagai acara, dan lain-lain. Tujuannya hanya satu: mempromosikan album yang baru dirilis agar dapat terjual dengan laris. Di sinilah ketahanan musisi akan sangat diuji.

Melihat kehidupan artis ternama dan yang sudah mendunia memang terasa menyenangkan. Mereka dapat memiliki apapun yang diinginkan. Hidup nyaman dengan harta melimpah. Tapi ternyata, di balik hal-hal yang membuat orang lain iri, ada cengkraman yang sangat menyiksa batin mereka.

Bagi musisi, tampil di depan khalayak ramai merupakan suatu kesempatan yang tidak ternilai harganya. Terlebih jika khalayak yang menyaksikan memberikan apresiasi yang luar biasa. Tapi coba bayangkan jika konser dilakukan sebanyak ratusan kali? Persiapan demi persiapan harus dilakukan. Perjalanan panjang yang sepertinya tidak akan berakhir. Kelelahan luar biasa yang menguras tenaga. Dan, meski yang dibawakan adalah lagu sendiri, pasti akan ada saatnya timbul rasa muak ketika terus dan terus memainkan lagu itu.

Belum lagi menghadapi media. Media memang memiliki peran penting dalam kepentingan promosi. Tapi jika menghadapi ratusan media dan itu terjadi tidak dalam satu kesempatan, bukankah itu merupakan hal yang sangat melelahkan, dan membosankan. Bosan? Tentu saja.

Mungkin Anda pernah membaca artikel atau berita tentang musisi yang tidak ramah saat menghadapi wartawan. Dalam sesi wawancara, musisi tersebut bersikap tidak kooperatif bahkan cenderung memarahi wartawan. Sialnya, itu merupakan sesuatu yang wajar. Manusiawi. Media, dalam hal ini wartawan yang melakukan wawancara, tidak boleh menghakimi musisi tersebut.

Apa yang akan Anda rasakan ketika harus menghadapi ratusan wawancara yang di dalamnya ada beberapa pertanyaan yang terus berulang? Apakah itu hal yang menyenangkan? Berpikir dari sudut pandang lain sangat penting untuk memahami kondisi psikologis musisi dalam situasi ini.

Tidak heran pula kalau ada di antara musisi yang kemudian memiliki tergantung psikologisnya. Bagi yang tidak memiliki mental kuat, menjadi musisi yang karyanya diterima dengan baik oleh masyarakat adalah cobaan yang sangat besar. Bahkan mungkin dia akan berdoa, “Seandainya saja saya tidak pernah membuat karya itu…” dengan nada yang sangat putus asa.

Obat-obatan, alkohol, dan lain sebagainya pun menjadi jalan keluar. Dan ketika itu terjadi, masyarakat pun akan dengan mudah memandang para musisi tersebut sebagai orang yang tersesat. Orang yang kebanyakan uang tapi tidak dapat memanfaatkannya dengan benar – tanpa tahu kondisi sebenarnya yang dihadapi oleh musisi tersebut. Dan pada akhirnya, musisi itu tidak lebih dari sekadar “sapi perah” industri musik. Mereka dipaksa untuk terus menghasilkan karya yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, tapi sebenarnya yang mendapat keuntungan terbesar ketika karya yang dihasilkan tersebut laris di pasaran adalah bukan musisi yang membuat karya – tapi justru pihak-pihak yang menciptakan industri musik.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s