Don’t Judge

Men-Circle
Men-Circle

Sepuluh hari sudah penyelenggaraan Piala Dunia 2014. Dengan bayang-bayang aksi demonstrasi di penjuru Brazil dan kekhawatiran terhadap kesiapan tuan rumah menyelenggarakan ajang terakbar olahraga sepakbola, Piala Dunia, sejauh ini, berjalan dengan lancar.

Ada banyak yang terjadi. Kejutan, aksi, tangis, tawa, emosi, dan sebagainya. Masing-masing tim coba melakukan yang terbaik. Hasilnya, dari dua pertandingan yang sudah dijalani oleh tiap tim, ada yang sudah dipastikan akan melangkah ke babak berikutnya, ada pula yang harus memupus asa dan bersiap kembali ke tanah air dengan kekecewaan, serta ada pula yang masih memelihara asa serta bersiap melakukan yang terbaik di laga sisa.

Kejutan? Tentu tidak dapat dipisahkan – apalagi di ajang sebesar Piala Dunia. Dan, justru hal inilah yang sangat dinanti oleh para penikmat pakbola. Apalah artinya sepakbola tanpa kejutan. Apalah artinya pertandingan tanpa perjudian. *Lho, kok?

Kejutan pertama terjadi di Grup B. Siapa yang menyangka sang juara bertahan dapat dijungkalkan oleh mantan lawannya di Final Piala Dunia yang lalu, Belanda. Ya, memang, Belanda dapat mengalahkan Spanyol bukan suatu hal yang mengejutkan. Bahkan, kalau boleh mengulas ulang pertandingan Final Piala Dunia 2010, Belanda sebenarnya bermain lebih bagus dan memiliki peluang lebih banyak untuk dapat memenangkan pertandingan tersebut. Tapi, yang terjadi kali ini di luar perkiraan. Siapa yang pertandingan tersebut akan berakhir dengan skor 5-1 untuk kemenangan Belanda? Bahkan, Bandar-bandar judi pun, mungkin, tidak mengharapkan hasil seperti itu. Grup-grup yang lain pun tidak kalah memberikan kejutan.

Dan, kejutan semakin menarik ketika memasuki pertandingan kedua. Pasalnya, usai menjalani pertandingan kedua, beberapa tim sudah dipastikan akan melaju ke babak berikutnya dan beberapa yang lain akan segera pulang. Belanda lolos ke fase berikutnya, itu hal yang wajar. Tapi kalau Spanyol yang harus pulang lebih dulu karena tidak lolos ke babak enambelas besar – sementara mereka menyandang predikat sebagai juara bertahan –, itu sesuatu yang tidak wajar. Setelah dikandaskan Belanda dengan skor yang “sangat memukau”, tim asuhan Vicente del Bosque pun harus kembali mengalami kekalahan dari Chili dengan skor 2-0. Walhasil, tim ini pun harus menelan pil pahit. Penggemarnya di seluruh dunia harus kecewa. Dan, para pemain serta staf akan melalui sisa musim panas dengan liburan yang penuh luka, duka, dan tekanan. Kasihan….

Memang, pada kenyataannya, Spayol bukanlah tim pertama yang mengalami nasib seperti itu. Di penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya, sudah ada beberapa negara yang mengalami nasib serupa – juara bertahan yang tidak berhasil lolos dari fase penyisihan grup. Brazil dan Prancis pernah mengalami hal serupa. Bahkan, Italia harus dua kali mengalami kejadian seperti itu. Namun begitu, tetap saja, kegagalan Spanyol lolos dari fase grup merupakan berita besar yang tidak pernah diduga sebelum ajang Piala Dunia dimulai.

Kejutan yang lain terjadi di Grup D. Disebut-sebut sebagai grup neraka, Grup D sudah memilih satu korban untuk merasakan pahit lebih awal. Dan, korban tersebut adalah Inggris. Tidak terlalu mengherankan. Dibandingkan dengan Uruguay dan Italia, kans Inggris untuk lolos dari fase grup dapat dibilang kecil. Tapi, yang mengejutkan adalah kegagalan itu dipastikan di pertandingan kedua. Setelah kalah dari Italia, Steven Gerrard dan kawan-kawan harus siap-siap berkemas setelah kalah dari Uruguay dengan skor, juga 2-1. Tapi……… (harus panjang karena ini merupakan kejutan yang paling besar), masih ada kejadian yang sangat tidak diduga dan kejadian itu terjadi di grup ini.

Berada satu grup dengan tiga negara yang pernah menjadi juara dunia, siapa yang mengira Costa Rica akan lolos dari fase grup? Berani bertaruh, bahkan para pemain dan staf tim nasional Costa Rica pun terkejut sekaligus terkagum-kagum dengan hasil yang mereka peroleh dari dua pertandingan yang sudah dijalani.

Pada pertandingan pertama, tiga gol yang dibuat oleh Joel Campbell, Óscar Duarte, dan Marco Ureña hanya dapat dibalas oleh gol Edinson Cavani. Uruguay pun tunduk dengan skor 1-3. Pertandingan selanjutnya, gol semata wayang dari Bryan Ruiz membawa Costa Rica meraih kemenangan atas Italia. Dan, Costa Rica pun menjadi tim pertama dari Grup D yang memastikan diri lolos ke fase berikutnya. Dan, itu diperoleh dengan hanya menjalani dua pertandingan. Dan, pesaing yang dihadapi adalah negara-negara yang pernah menjadi juara dunia. Dan, tidak ada yang menyangka mereka akan dapat melakukan hal tersebut.

Kejutan yang lain? Untuk kepastiannya, setidaknya, sebaiknya menunggu sampai akhir minggu ini, setelah semua tim melakoni pertandingan terakhir di fase grup. Tapi, dari berbagai kejutan yang mungkin terjadi, yang paling mungkin adalah ketidakberhasilan Protugal lolos dari fase grup. Skenarionya amat mudah dan, mungkin, melibatkan “sedikit” KKN. Penampilan yang penuh emosi, para pemain tampil egois, dan pola permainan yang tidak rapi. Penampilan Portugal di dua pertandingan awal sangat tidak meyakinkan. Karenanya, tidak heran kalau nasib tim ini sangat ditentukan oleh pertandingan lain – dan karena itulah sangat mungkin terjadinya KKN. Begini skenarionya.

Dengan hanya satu poin yang diperoleh dari dua pertandingan, Portugal harus menang saat melawan Ghana – dan dengan catatan harus dengan skor besar untuk membayar kekalahan telak dari Jerman di pertandingan pertama. Di pertandingan lain, Jerman dan Amerika yang sama-sama mengumpulkan poin empat saling berhadapan. Sekadar mengingatkan (Bagi yang lupa. Bagi yang masih ingat, sih, ya tidak apa-apa, asal jangan bilang informasi ini basi), Amerika saat ini dilatih oleh Jürgen Klinsmann. Bukan sekadar menjadi pemain legendaris, pria asal Jerman ini pun pernah menjadi pelatih tim nasional Jerman pada 2004-2006. Dan, saat itu, yang menjadi asistennya adalah Joachim Löw – yang kini menjadi pelatih tim nasional Jerman. Tidak hanya itu, beberapa pemain tim nasional Jerman saat ini pun pernah berada di bawah asuhan Jürgen Klinsmann ketika dia melatih Bayern Munich. Jadi, walau dengan alasan fair play, kesucian permainan, dan apapun itu, sangat mungkin terjadi “main mata” di pertandingan Amerika melawan Jerman. Karena, dengan hasil seri pun, keduanya akan lolos dari fase grup – dan melambaikan tangan pada Ronaldo yang menangis terhemek-hemek dengan rambut yang selalu klimis. Tapi, yang perlu diingat, itu hanya kemungkinan. Untuk hasil pastinya, mari tonton pertandingan ketiga di fase grup – dan jangan lupa berdoa agar Meksiko bisa lolos dari fase grup. Amin….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s