Absurd Ending Ruin the Perfect Plot

Enemy

Enemy

Sutradara: Denis Villeneuve

Penulis: José Saramago, Javier Gullón

Pemain: Jake Gyllenhaal, Mélanie Laurent, Sarah Gadon, dan Isabella Rossellini

 

Mari bicara tentang kemungkinan. Dari miliaran manusia yang ada di muka bumi ini, berapa besar kemungkinan ada orang yang memiliki penampakan sama seperti kita? Memiliki wajah dan postur yang sama. Sederhana, secara fisik, sama. Tetapi, bukan kembar. Tidak terlahir dari rahim yang sama. Dua manusia yang dilahirkan di dunia ini terlihat sangat mirip meski mereka tidak berasal dari gen yang sama. Adakah kemungkinan seperti itu?

Jika ada, entah berapapun besarnya tingkat probabilitas untuk hal itu, mari lebih persempit lagi – kecilkan tingkat probabilitas. Sempitkan ruang. Dua orang yang mirip tersebut, meski mungkin lahir di tempat yang berjauhan, ternyata tinggal di kota yang sama. Jarak tempat tinggal mereka hanya beberapa kilometer. Jika demikian kondisinya, berapa besar kemungkinannya? Kecil, sangat kecil, atau hampir nihil? Seberapa pun kecilnya tingkat probabilitas yang dimiliki, tetap saja, ada peluang terjadinya hal ini.

Probabilitas yang sangat kecil itulah yang menjadi kisah utama film ini.

Diangkat dari novel karya José Saramago yang berjudul O Homem Duplicado (versi terjemahan bahasa Inggris berjudul The Double), Enemy mengisahkan Adam dan Anthony. Dua pria yang dilahirkan dari keluarga berbeda tetapi memiliki penampilan (rupa fisik) yang sangat mirip.

Dikisahkan, Adam adalah seorang guru sejarah di sebuah perguruan tinggi. Hidupnya sederhana. Dia tinggal di apartemen sederhana, memiliki sebuah mobil tua yang setiap hari dikendarainya menuju kampus, dan memiliki seorang pacar yang sangat cantik. Sifat Adam, agak stereotipe guru sejarah (seperti yang saya alami ketika SMA), agak pendiam. Sehari-harinya, dia mengenakan pakaian yang terkesan membosankan – jas berwarna cokelat tua dan celana bahan yang membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Bahkan dengan kekasihnya, dia bukan pasangan yang hangat. Sering kali pacarnya harus tidur sendirian sementara Adam sibuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa.

Suatu kali, seorang pengajar di kampus merekomendasikan sebuah film kepada Adam. Meski awalnya tidak terlalu tertarik, Adam akhirnya mampir ke took penyewaan film dan mencari film yang dimaksud. Dan, dari film inilah kisah Adam dan Anthony dimulai.

Saat menonton film tersebut, Adam sangat terkejut ketika melihat salah satu aktor yang bermain memiliki rupa yang sangat mirip. Penasaran, Adam lalu mencari film-film lain yang dibintangi aktor tersebut. Rasa penasaran Adam semakin bertambah ketika dia semakin yakin aktor tersebut (Anthony) memiliki rupa yang sangat mirip dengannya. Adam lalu coba mencari keterangan mengenai aktor tersebut.

Kontak pun dilakukan dengan sang aktor, sampai kemudian keduanya saling bertemu. Reaksi yang terjadi, dua-duanya sama terkejut. Tetapi, Adam menjadi pihak yang lebih tidak dapat menerima. Sementara, Anthony bersikap lebih agresif.

Bukan karena jahat. Sikap agresif Anthony dilandasi perasaan tidak senangnya karena Adam dianggap sudah masuk ke dalam kehidupannya bersama sang istri. Ketika Adam pertama kali menelefon ke rumah Anthony, sang istrilah yang mengangkat telefon. Tanpa disadari Adam, istri Anthony pun menjadi curiga dan bahkan mencari keterangan mengenai Adam – sampai kemudian mendatangi dan bertemu dengan Adam di kampus.

Bertemu dengan Anthony membuat Adam sangat tertekan. Adam bahkan harus berkonsultasi pada Ibunya demi meyakinkan bahwa dirinya tidaklah memiliki kembaran. Sementara, di saat bersamaan, Anthony bersikap lebih agresif menghadapi kejadian tersebut. Merasa kehidupan pribadinya sudah diganggu dengan kehadiran Adam, Anthony balas melakukan hal yang sama. Dia menyelidiki dan mencari tahu kehidupan pribadi Adam. Agresivitas Anthony semakin menjadi ketika dia mengikuti kekasih Adam. Bertemu dengan wanita cantik sementara istrinya sedang hamil, terbesit ide gila di kepala Anthony – dia ingin bertukar posisi dengan Adam dan setelahnya tidak ada lagi dendam di antara mereka. Pertukaran pun dilakukan – dengan keterpaksaan di pihak Adam. Kekasih Adam yang tidak tahu tentang adanya Anthony akhirnya sadar bahwa pria yang tidur bersamanya bukanlah Adam. Sementara, istri Anthony yang berpura-pura tidak menyadari pertukaran itu bersikap menerima Adam.

Dark in Process and Ending

Yang menarik dari film ini adalah cara Denis Villeneuve membangun dan menyajikan cerita. Bertemu dengan seseorang yang secara fisik sangat mirip ditanggapi sebagai kejadian yang kelam dalam film ini. Dan, itu digambarkan dengan sangat baik. Jake Gyllenhaal memerankan dengan baik tokoh Adam, sementara agak kurang ketika memerankan tokoh Anthony. Rasa penasaran yang akhirnya menjadi tekanan tergambar jelas.

Tekanan batin yang dirasakan Adam setelah pertemuannya dengan Anthony membuat jalan cerita ini semakin kelam – dalam arti yang positif. Depresi yang dialami Adam terlihat jelas. Sementara, Anthony semakin menikmati posisinya. Dendam karena Adam sudah berani masuk ke dalam kehidupan pribadinya dijadikan alasan untuk semakin menambah tekanan bagi Adam. Terlebih, ketika dia tahu Adam memiliki pacar yang sangat cantik dan seksi.

Namun, pada akhirnya, film ini diakhiri dengan adegan yang menurut saya sangat absurd. Sebagai hasil dari kekelaman yang dibangun sejak awal, kehadiran laba-laba raksasa di ruang tidur apartemen Anthony (sebelumnya istri Anthony masuk ke kamar itu usai mandi) menjadi puncak kekelaman – kali ini dalam arti negatif. Saya tersentak. “Apa maksudnya, ya?”

Sepanjang film, tidak ada laba-laba yang muncul. Lalu, kenapa di akhir tiba-tiba ada laba-laba raksasa di atas tempat tidur? Seketika, mood saya menjadi runyam. Rasa kelam yang sudah dibangun sepanjang film tandas, berganti menjadi keheranan yang memusingkan.

Seperti halnya Adam, kebetulan saya pun memiliki berewok dan berharap seganteng Jake Gyllenhaal, saya pun coba memuaskan rasa penasaran terhadap hadirnya laba-laba raksasa secara tiba-tiba itu. Terpuaskan? Sayangnya… tidak. Di sebuah sumber, saya membaca bahwa para aktor/aktris yang terlibat di film ini dilarang memberi tahu siapapun makna kehadiran laba-laba raksasa yang tiba-tiba tersebut. Hmmm… semakin aneh.

Sementara, di sumber yang lain, banyak yang mengasosiasikan kehadiran laba-laba raksasa tersebut dengan sifat Adam/Anthony. Dalam keluarga laba-laba, ada jenis yang “agak mengerikan”. Setelah melakukan hubungan seksual, sang betina akan memakan sang jantan sebagai “ransum” bagi janin yang akan dikandungnya. Nah, kehadiran laba-laba di film ini dianggap menjadi symbol sifat Adam/Anthony yang takluk pada wanita – pasangannya. Begitu? Entahlah. Kalaupun pada akhirnya (karena rasa penasaran dan lalu terus mencari tahu) saya diantup laba-laba, saya berharap akan menjadi Spiderman. Dalam angan saya, Tobey Maguire dengan ganteng-dewasa ala Jake Gyllenhaal. Kirsten Dunst aja, sih, pasti keleper-keleper. Hehehe….

 

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s