Pertunjukan yang Semakin Kehilangan Kenikmatannya

Gama Gandrung, Gedung Kesenian Jakarta, 11 Juni 2014
Gama Gandrung, Gedung Kesenian Jakarta, 11 Juni 2014

Ini cerita tentang kejadian yang saya alami semalam. Tidak terlalu penting, mungkin agak berlebihan saya memandangnya, tapi inilah yang saya rasakan.

Lampu ruang pertunjukan Gedung Kesenian Jakarta sudah dimatikan. Gong telah dibunyikan tiga kali. Hanya lampu bagian depan panggung yang menyala. Seorang wanita berkebaya merah memasuki panggung dan menjelaskan pertunjukan yang akan segera dimulai. Judulnya Gama Gandrung, kreasi koreografer muda berbakat (Bathara Saverigadi Dewandoro), dan dibawakan oleh kelompok Swargaloka asal Yogyakarta.

Setelah perkenalan dan berbagai ucapan terima kasih kepada berbagai pihak dan sponsor, pertunjukan pun dimulai. Di sisi kiri panggung, terdapat sebuah mahkota penari berukuran sangat besar dengan dihiasi kain warna-warni yang menjuntai. Di sebelah kanan, kelompok pemusik dan penyanyi mengiringi jalannya pertunjukan. Di tengah, sebuah benda besar berbentuk bulat seperti bulan. Di depan, tiga orang penari dalam posisi siap. Dan, dimulailah pertunjukan Gama Gandrung. Ada bagian yang sendu, ada pula yang ingar bingar. Tetapi, bukan pertunjukan itu yang ingin saya bicarakan di sini. Bukan karena tidak menarik, tetapi karena ada hal lain yang sangat mengganggu saya selama pertunjukan berlangsung.

Tak lama setelah pertunjukan dimulai, dimulai pulalah gangguan itu. Awalnya malu-malu tetapi kemudian mencecar tak peduli lagi soal malu. Suara shutter kamera memberondong seperti aksi Rambo atau adegan pertempuran film-film perang. Tiada henti. Tidak keras, tetapi terus menekan sehingga memenuhi telinga – terutama ketika pertunjukan menampilkan adegan yang sendu. Padahal, yang membuat saya bingung, saya duduk di baris yang agak depan sementara para juru foto itu berada di belakang – di dekat pintu masuk ruang pertunjukan. Dalam hal ini, saya salut pada kualitas akustik Gedung Kesenian Jakarta.

Tidak hanya suara. Di awal-awal pertunjukan, kilau lampu flash kamera pun menunjukkan eksistensinya. Dan yang paling menyebalkan adalah pria yang duduk di sebelah saya. Tiba ketika pembawa acara mulai membuka acara, pria ini awalnya terlihat biasa saja. Kecurigaan saya mulai ketika kemudian dia mengeluarkan kamera SLR dari dalam tasnya. “Ah, mungkin keluarga atau teman dari salah satu penampil,” piker saya sambil berharap pria di samping saya ini tahu diri dan hanya mengambil gambar secukupnya. Tapi ternyata, perkiraan saya salah. Dia tipe pemberondong. Suara shutter bertubi-tubi terdengar dari kameranya. Saya sempat berniat menegurnya atau menyuruhnya pindah ke bangku yang posisinya agak jauh dari saya – kebetulan bagian ujung dari baris tempat saya duduk masih kosong. Tapi niatan saya itu tidak saya lakukan karena sudah ada panitia yang datang menghampiri pria di sebelah saya dan menegurnya. Dia pun berhenti memotret. Hanya sebentar. Ketika dirasa panitia yang tadi menegur tidak lagi memperhatikan, dia pun kembali melakukan aksinya. Secara keseluruhan, jika kamera SLR yang digunakan semalam adalah senjata otomatis, entah berapa puluh atau mungkin ratus magasin yang dihabiskan.

Bukannya ingin usil atau sok-sok menjadi penikmat seni yang menyakralkan pertunjukan. Bagaimana pun, saya pernah berada di posisi orang-orang yang semalam memberondongkan kameranya ke arah panggung. Saya pernah datang ke pertunjukan untuk bekerja – bukan untuk menonton. Jadi, saya paham dan memaklumi yang mereka lakukan. Tetapi, yang juga perlu diingat adalah orang-orang yang datang ke gedung pertunjukan adalah ingin menikmati pertunjukan yang disajikan. Walaupun pertunjukan yang dilakukan adalah seni tari (visual), tetapi gangguan suara (audio, seperti suara shutter kamera) merupakan gangguan yang menyebalkan. Terlebih ketika pertunjukan yang disajikan menampilkan kejadian yang sendu atau ingin membangun suasana hening. Pekerjaan atau keinginan seniman untuk menyajikan suasana yang hening, sendu, akan buyar dengan hadirnya suara berondongan shutter kamera. Kalau sudah demikian, gagallah pesan yang ingin disampaikan oleh si seniman. Semua semata-mata karena “Saya harus motret untuk keperluan pekerjaan”.

Sialnya, berapa banyak, sih, foto yang akan ditampilkan di sebuah surat kabar, majalah, atau portal berita? Berani bertaruh, tidak sampai 10 – angka yang sudah saya sangat lebihkan. Lalu, berapa banyak foto yang terekam di kamera sepanjang satu setengah jam pertunjukan? Kalau boleh mencontek kalimat dalam sebuah iklan, “ratusan”. Lalu, selebihnya buat apa? Koleksi pribadi atau… entah apalah. Belum lagi fotografer dadakan yang ingin mengabadikan momen keluarga atau temannya tampil di atas panggung. Sialnya lagi, masih mending kalau pengambilan gambar dilakukan dengan menggunakan kamera, lha, kalau menggunakan tablet yang ukurannya segede gaban? Tambah sial, kalau ternyata yang ingin direkam bukan sekadar gambar, tapi video pertunjukan. Walhasil, orang yang berada di belakang perekam-tablet itu menonton pertunjukan dari layar tablet.

Untuk keperluan pekerjaan atau sekadar kenangan pribadi, dapat dimengerti hadirnya fotografer di ruang pertunjukan. Yang tidak dapat dimengerti adalah ketidaksadaran mereka bahwa di dalam ruang itu mereka tidak sendiri. Ada orang-orang yang sudah membeli tiket dan datang dari tempat yang cukup jauh untuk menikmati pertunjukan dan haknya itu terganggu karena adanya orang-orang yang tidak sadar diri. Lagipula, khusus untuk yang memotret karena alasan pekerjaan, seharusnya kalian lebih dapat mengontrol diri. Apapun latar belakang pendidikan kalian, karena keberadaan kalian di gedung pertunjukan adalah karena profesi, dapat dikatakan kalian adalah profesional. Dan sebagai profesional, seharusnya kalian dapat mengetahui kebutuhan yang diperlukan. Hanya mengambil gambar seperlunya dan tidak perlu sampai memberondong sepanjang pertunjukan. Tapi, saya jadi terpikir sesuatu. Mengkin ini solusinya. Daripada memberondong sepanjang pertunjukan, bukankah lebih baik merekam dalam bentuk video saja. Selesai pertunjukan, tinggal print screen bagian yang diinginkan. Mudah dan yang terpenting tidak mengganggu kenyamanan penonton. Salam.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s