Too Much to Tell

Yves Saint Laurent

2014-Prancis

Sutradara: Jalil Lespert

Penulis: Laurence Benaïm, Jacques Fieschi, Jalil Lespert, Jérémie Guez, Marie-Pierre Huster

Pemain: Pierre Niney, Guillaume Gallienne, Charlotte Le Bon, Laura Smet, Marie de Villepin, Nikolai Kinski, Ruben Alves, Astrid Whettnall, Astrid Whettnall, dan Marianne Basler

 

Apa persyaratan bagi seseorang untuk dianggap layak kisah hidupnya diangkat ke layar kaca? Yang pasti, seseorang itu melakukan sesuatu yang besar dan membuat atau meninggalkan pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Sederhananya, orang itu harus penting – entah bagi siapapun arti pentingnya tersebut. Jika memang benar demikian persyaratannya, tidak heran jika kisah hidup Yves Saint Laurent diangkat ke layar kaca. Tidak hanya satu, entah direncanaka atau sebuah kebetulan, dua film yang mengangkat kisah hidup salah satu perancang ternama ini hadir di 2014. Satu film sudah beredar sejak bulan Januari, sementara yang satu lagi baru ditampilkan di Cannes Film Festival dan baru pada Oktober nanti akan ditayangkan kepada publik Prancis – entah kapan di Indonesia.

Berita tentang hadirnya dua film tentang Yves Saint Laurent ini baru saya ketahui belakangan. Maksudnya, setelah saya usai menonton film dan berencana membuat tulisan tentang film tersebut.

Awalnya, saya membuka situs Cannes Film Festival dan melihat daftar film yang berkompetisi di ajang tersebut. Satu per satu judul-judul film yang terpampang pun lalu saya cari di situs pengunduhan – maklum, saya tidak memiliki “kecukupan” untuk dapat menikmati film-film tersebut. Dari semua judul yang saya cari, ternyata hanya Saint Laurent yang membuahkan hasil. Saya unduh, menonton, lalu agak terkesiap saat melihat judul film sebenarnya Yves Saint Laurent. Tak terlalu menganggap penting. Toh, intinya sama. Ceritanya tentang orang yang sama. Mungkin hanya kesalahan pengetikan. Tapi ternyata, keduanya film yang berbeda. Yang saya unduh dan tonton adalah film yang sudah tayang sejak Januari, sementara yang sebenarnya saya cari adalah film yang berkompetisi di Cannes Film Festival.

Cari-mencari keterangan membaya saya pada beberapa informasi cukup penting mengenai kedua film tersebut. Salah satu info yang membuat saya penasaran adalah sumber primer cerita yang diangkat dalam dua film tersebut. Yves Saint Laurent dapat dikatakan merupakan film yang “direstui”. Pierre Bergé, pasangan Yves Saint Laurent (di kehidupan dan di bisnis), yang menjadi penentu di sini. Kisah yang diangkat dalam Yves Saint Laurent dibuat berdasar pengakuan Pierre Bergé. Bahkan, Pierre Bergé memberi izin penggunaan pakaian dan sketsa karya sang perancang. Sementara, film yang kedua bernasib lain. Tidak hanya tidak mendapat info dan bantuan dari Pierre Bergé, film ini juga terancam tuntutan jika sketsa dan pakaian yang ditampilkan di film tersebut Pierre Bergé tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Pierre Bergé orang yang memberikan ancaman tersebut.

The Story

Kisah dimulai dengan Yves remaja. Saat itu, usianya 21 tahun. Sejak kecil, Yves sudah jatuh cinta pada dunia fashion. Ketika mendapat kesempatan bergabung dengan Dior, dia tidak menyia-nyiakan. Yves menunjukkan passion dan taste-nya terhadap fashion. Dia diterima. Bahkan, tidak lama kemudian, setelah Dior meninggal, Yves diangkat menjadi direktur desain (menggantikan sang pemilik brand) di usia yang sangat muda – 21 tahun. Tekanan demi tekanan dia terima. Di usia yang begitu muda, banyak yang mempertanyakan kemampuan Yves mengemban tugas yang begitu berat.

Tekanan yang dirasakan Yves semakin besar ketika dia menolak bergabung dengan kemiliteran guna membela tanah airnya – Yves lahir di Aljazair. Besarnya tekanan dari berbagai pihak membuat Yves harus menjalani terapi khusus. Di saat yang bersamaan, Dior pun memecatnya sebagai direktur desain.

Yves beruntung memiliki pasangan seperti Pierre Bergé. Sebagai orang yang sudah berpengalaman di dunia bisnis fashion, memiliki kemampuan dalam mengembangkan suatu brand. Melihat bakat besar yang dimiliki pasangannya, Pierre rela meninggalkan dan menolak tawaran dari berbagai brand ternama demi membesarkan nama Yves Saint Laurent. Tidak mudah. Meski memiliki pengaruh dan jaringan yang luas, perancang yang dia angkat adalah seorang anak muda yang pernah mengalami depresi. Investor pun banyak yang ragu. Tetapi, usaha keras yang dilakukan terbayar. Yves berhasil menunjukkan pada dunia kemampuannya dan mengukuhkan tempatnya di dunia fashion.

Yves yang digambarkan dalam film ini adalah pemuda pemalu yang ambisius. Pemuda yang sangat lembut tapi dengan keteguhan hati dan keras dalam bekerja. Pemuda indah yang digemari banyak wanita tetapi hatinya tertambat pada Pierre Bergé. Pemuda sopan yang pada awalnya tidak mengkonsumsi alkohol tapi kemudian terjebak dalam ketergantungan pada narkotika.

Terlalu Banyak, Sampai Luber

Dalam rentang waktu sekitar 20 tahun (rentang waktu kehidupan Yves Saint Laurent yang diangkat dalam film ini), ada begitu banyak perubahan yang terjadi. Pemuda yang dulu berusaha keras membuktikan kemampuannya telah menjadi perancang yang begitu dihormati.

Fokus utama film ini adalah hubungan Yves dengan Pierre, sejak pertema bertemu, berkenalan, menjalin asmara, tinggal bersama, sampai berhasil membangun brand YSL. Dalam perjalanan itu, ada begitu banyak konflik yang terjadi. Tidak hanya depresi yang dialami Yves setelah mendapat tekanan yang sangat berat dari media (tentang kehidupan seksual, posisinya sebagai direktur desain termuda, dan keputusannya untuk tidak bergabung dengan militer), tetapi juga sisi kehidupan yang lain.

Ketenaran dan kekayaan yang didapat setelah namanya diakui sebagai salah satu perancang ternama membawa Yves masuk dan tenggelam ke dunia narkotika dan seks bebas. Di situlah peran Pierre sebagai pasangan untuk terus menjaga dan menyokong karier Yves. Dalam hal ini, jujur saja, saya jadi tertarik untuk coba mencari tahu lebih dalam tentang sosok Pierre.

Di awal, sosok Pierre sepertinya bukanlah orang yang baik. Ketika Yves sibuk bekerja dan harus tinggal di kantor, Pierre sempat berhubungan dengan Victoire. Victoire adalah teman dekat dan model kesayangan Yves (pernah suatu ketika dilamar oleh Yves). Kehadiran Victoire malam itu di apartemen Yves-Pierre tidak lain adalah karena undangan Yves. Tetapi kemudian, Pierre malah menjadi sosok dewasa yang tahu cara menjaga pasangan.

Dia sadar nama besar yang disandang Yves membawanya pada lingkungan yang baru – dengan pergaulan bersama orang-orang baru. Pierre tidak serta merta melarang atau menarik Yves dari lingkungan barunya. Tekanan sebagai dampak dari ketenaran yang diperoleh membuat Yves “melarikan diri” ke pergaulan tak sehat – mencari pasangan di kolong jembatan dan masuk ke club-club gay yang ada di Paris. Pierre dengan tenang hanya memandang dan memperhatikan perilaku pasangannya. Bahkan ketika Yves menjadi pecandu, Yves tidak langsung melarang atau mengomeli. Dengan tenang, dia coba jauhkan pengaruh-pengaruh negatif di lingkungan Yves tanpa sepengetahuan Yves.

Namun, konflik yang disajikan di film ini tidak hanya tentang kehidupan pasangan tersebut. Masih ada banyak lagi konflik yang disajikan, yang tidak jarang membuat saya merasa bingung. Masalah demi masalah disampaikan dengan “apa adanya” – tanpa eksplorasi dan penjelasan mendalam. Salah satu konflik, misalnya, tentang terapi yang harus dijalani Yves karena merasa depresi. Jujur saja, saya agak merasa bingung ketika tiba-tiba melihat Yves berada di dalam ruang kecil yang ternyata merupakan salah satu ruang perawatan di rumah sakit jiwa. Intinya, semua permasalahan yang disampaikan di film ini terlalu banyak dan disajikan tanpa penjelasan memadai, sehingga tidak heran jika penonton harus berupaya keras memahami kejadian yang ditampilkan – atau malah sama sekali tidak mengerti.

Dapat dipahami, ketika menyampaikan kisah hidup seorang yang berpengaruh, baik itu film, buku, dan sebagainya, timbul keinginan untuk menyampaikannya secara lengkap. Membahas setiap fase dalam kehidupan tokoh tersebut sehingga siapapun yang menikmati karya tersebut mendapat gambaran yang utuh mengenai sosok yang ditampilkan. Hanya saja, yang perlu diingat, berbeda dengan buku yang ketebalannya bisa tak terhingga, film memiliki batasan durasi – terutama yang ditayangkan di bioskop. Dengan durasi 105 menit, ada terlalu banyak permasalahan yang coba diangkat dalam film ini.

Memberikan gambaran yang utuh tentang sosok seseorang memang baik, sehingga penonton memahami sosok si tokoh yang sebenarnya – masa lalu yang dijalani, titik tolak perubahan, hal yang berpengaruh, dan sebagainya. Tetapi, jika yang terjadi malah membuat penonton merasa bingung dan sama sekali tidak mengerti, usaha yang dilakukan pun menjadi sia.

Sekadar memberi perbandingan, saya sangat menikmati Last Days. Di luar kritik yang disampaikan para kritikus mengenai film ini, satu hal yang membuat saya menikmati film ini adalah fokus cerita. Gus Van Sant, sang sutradara sekaligus penulis naskah, tidak berambisi menyajikan sosok Kurt Cobain secara utuh dengan menyajikan cerita dari masa kecil hingga sang musisi bunuh diri. Dalam film ini, yang disajikan adalah kehidupan yang dijalani Kurt Cobain di hari-hari terakhir dalam hidupnya. Tentang kesendirian, depresi, dan hal-hal yang pada akhirnya mendorong Kurt melakukan bunuh diri. Fokus, itu saja. Tidak tergoda untuk menarik cerita ke masa yang lebih panjang – mungkin saja tentang masa perkenalan Kurt dengan narkotika atau ketenaran yang dia peroleh bersama Nirvana. Menarik, tentu saja. Pengaruh besar yang dibuat Kurt pada dunia musik tentu menarik untuk disajikan di layar kaca, tapi Gus Van Sant tidak tergoda dengannya.

Sekadar memberi saran, mungkin ada baiknya jika Jalil Lespert bersikap seperti itu – fokus pada satu fase singkat kehidupan sang tokoh. Kekurangan dari keputusan ini adalah penonton tidak mendapat gambaran yang lengkap mengenai sosok si tokoh. Tetapi, dengan cara ini, dapat lebih dieksplorasi mengenai salah satu fase kehidupan si tokoh tersebut – sehingga penonton dapat memahami permasalahan dengan lebih jelas dan tentunya memberi kesan yang sangat dalam kepada penonton. Ya, itu sekadar saran yang bisa saja benar juga bisa salah. Bagaimanapun, Jalil Lespert tentu memiliki pertimbangan tersendiri ketika memilih cerita ini.

Kecewa? Tidak perlu. Jadi malas menonton film ini? Jangan. Sosok Yves yang disebut “pria yang begitu indah” ditampilkan dengan sangat baik oleh Pierre Niney. Lagipula, yang disajikan dalam film ini pun menarik. Cerita yang disajikan tidak membosankan. Yang Anda perlukan ketika menontonnya hanyalah konsentrasi selama 105 menit. Lalu, sambil menikmatinya, bersabarlah menunggu Saint Laurent yang semoga saja cepat tersedia di situs pengunduhan. Amin….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s