Versi Adaptasi: Tak Harus Memilih yang Terbaik, kan?

IP-low

Sabtu yang cerah. Bangun pagi, bermain bersama keponakan sambil menjemur badan di bawah sinar matahari. Menyenangkan. Hanya saja, kondisi tubuh tidak terlalu menyenangkan. Hanya dapat bertahan sampai sekitar jam 10, setelah itu mulai bersin-bersin dan cairan pun sedikit demi sedikit keluar dari kedua lubang hidung. Buku yang ada di genggaman, yang baru dibaca satu bab, pun harus diletakkan. Mata sudah tidak dapat lagi fokus memindai dan memahami deretan huruf yang tercetak di atas kertas. Saatnya mengganti aktivitas – sementara tidak dapat memejamkan mata.

Saya pun lalu menyalakan laptop, mencolokkan external hard disk, dan mencari-cari memindai daftar film yang ada di folder “Baru” (ini berisi film-film yang belum saya tonton). Pandangan mata pun lalu terhenti di folder “Ip Man-Series”. Setelah dibuka, pas sekali. Ada lima film di dalam folder ini – bekal yang cukup untuk menghabiskan waktu bersantai di dalam kamar sambil berusaha meredakan flu dengan segelas teh hijau hangat dan sebutir vitamin C.

Sedikit pengantar mengenai Ip Man (Yip Man). Ip Man (Yip Man) adalah seorang guru yang menyebarkan salah satu seni bela diri asal China, Wing Chun. Sampai dengan akhir hayatnya, dia terus menyebarkan seni bela diri ini ke penjuru dunia. Salah satu muridnya yang kemudian menjadi aktor terkenal adalah Bruce Lee. Kelima film yang saya tonton pada Sabtu lalu pada dasarnya merupakan semi-biografi mengenai kehidupan Ip Man (Yip Man) – dengan fokus penceritaan yang berbeda-beda pada setiap film.

Memulai kegiatan menonton sekitar jam setengah sebelas, maraton ini berakhir sekitar jam delapan malam – dengan diselingi dua kali makan, dua kali mandi, bercanda dengan keponakan, mengambil air minum dan cemilan, mengajak pergi keponakan yang menangis karena ditinggal kedua orangtuanya, dan lain-lain.

Secara umum, kelima film tentang Ip Man (Yip Man) tersebut dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok. Untuk memudahkan, pembagian ini berdasarkan nama sutradara film-film tersebut. Yang pertama adalah Wilson Yip yang menyutradarai Ip Man (2008) dan Ip Man 2: Legend of the Grandmaster (2010). Kedua adalah Herman Yau yang menyutradarai The Legend is Born: Ip Man (2010) dan Ip Man: The Final Fight. Terakhir adalah Wong Kar Wai yang menyutradarai The Grandmaster (2013).

Cerita

Cerita dalam dua film karya Wilson Yip berurutan. Film pertama mengisahkan kehidupan Ip Man (Yip Man) di masa tenang sampai dengan masa pendudukan Jepang. Sementara, film yang kedua mengisahkan kehidupan Ip Man (Yip Man) setelah dia dan keluarganya pindah ke Hong Kong.

Cerita yang berbeda ditampilkan di dua film Herman Yau. Film pertama mengisahkan masa muda Ip Man (Yip Man), ketika dia pertama kali mempelajari Wing Chun, belajar di Hong Kong, sampai menjadi seorang guru. Cerita pada film kedua melompat cukup jauh. Di film ini, dikisahkan Ip Man (Yip Man) sudah berusia uzur. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, dia berusaha untuk terus menjaga dan melestarikan seni bela diri yang dikuasainya sejak remaja.

Cerita dalam film karya Wong Kar Wai agar bersinggungan dengan film Wilson Yip, baik yang pertama – ketika masa damai sampai dengan masa pendudukan masa Jepang – maupun yang kedua – ketika pindah ke Hongkong. Hanya saja, dalam film ini disajikan hal-hal yang tidak diungkap di dua film Wilson Yip – pertentangan master dari Utara dan Selatan China serta kisah asmara dengan seorang ahli bela diri.

Pendekatan

Entah apa sebenarnya istilah yang tepat – maklum, tidak pernah belajar tentang sinematografi dan film-film yang ditonton aja hasil unduhan. Hehehe…. Intinya tentang cara si sutradara menyampaikan cerita dalam film yang dibuatnya.

Dalam hal ini, Wilson Yip dan Herman Yau memiliki kesamaan. Keduanya menampilkan gambar yang cukup terang dengan minim efek grafik. Sementara, Wong Kar Wai tetap bertahan dengan gayanya.

Jujur saja, saat menonton film The Grandmaster, saya teringat pada In the Mood for Love (2000) – yang juga disutradarai Wong Kar Wai. Gambar yang ditampilkan lebih gelap. Dengan detail pada adegan tertentu – misalnya percikan air atau ketika terjadi perkelahian. Entahlah, mungkin karena terbiasa dengan film-film silat (kungfu) yang dominan dengan warna cerah dan karena saya menonton film ini sebagai menu paling akhir, saya merasa agak kurang nyaman dengan gambar yang ditampilkan. Wong Kar Wai lebih menonjolkan sisi drama, terlebih kisah percintaan Ip Man (Yip Man) dengan Gong Er.

Namun, yang perlu ditekankan, bukan berarti itu hal yang buruk. Bagaimanapun, sebagai seorang sineas, Wong Kar Wai memiliki kekhasan dalam setiap karya yang dia buat. Dan, kekhasan itu tetap dia pertahankan dalam film ini. Lagipula, yang menjadi titik berat dalam ketidaknyamanan saya adalah karena keterbiasaan saya menonton film-film silat (kungfu). Bukan berarti film-film silat (kungfu) yang tidak seperti yang biasa saya tonton itu buruk.

Fakta

Bagian ini sebenarnya tidak berkaitan dengan bidang sinematografi. Ini lebih berhubungan pada kebenaran sejarah. Mengenai referensi yang digunakan ketika membuat cerita.

Ada beberapa hal yang membuat saya agak bingung setelah menonton ketiga kelompok film tersebut. Yang pertama mengenai penokohan, terutama Ip Man (Yip Man). Dalam karya Wilson Yip dan Herman Yau, Ip Man (Yip Man) ditampilkan sebagai sosok yang menghindari pertarungan – meskipun dia memiliki keahlian bela diri yang sangat baik dan keahliannya tersebut sangat diakui oleh masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, Ip Man (Yip Man) menghindar ketika ada orang yang mengajaknya berduel. Atau, kalaupun ada seorang guru silat (kungfu) yang mengajaknya berduel (untuk kepentingan latihan), dia akan melakukannya di tempat tertutup, sehingga tidak ada orang yang melihat pertarungan yang terjadi. Dalam The Grandmaster, sosok Ip Man (Yip Man) ditampilkan lebih agresif. Dia lebih mudah menerima tantangan berduel dan rela melakukannya di tempat publik.

Kalau boleh ber-sotoy-sotoy ria, saya pribadi lebih condong pada penampilan sosok Ip Man (Yip Man) yang dilakukan oleh Wilson Yip dan Herman Yau. Hal ini berkaitan dengan beberapa dialog yang diucapkan di film-film tersebut. Kepada para muridnya, Ip Man (Yip Man) beberapa kali berkata Wing Chun bukan sekadar seni bela diri, tapi juga memahami filosofi China. Orang-orang yang belajar Wing Chun tidak menjadikan pertarungan terlebih kemenangan sebagai solusi dari sebuah masalah. Pertarungan hanya dilakukan ketika memang sudah tidak dapat dihindari lagi. Tapi, entahlah. Saya hanya mengetahu Wing Chun dari film-film tersebut dan saya pun hanya mengenal sosok Ip Man (Yip Man) dari kelima film tersebut.

Selanjutnya adalah mengenai anak kedua Ip Man (Yip Man). Dalam karya Wilson Yip, dikisahkan Ip Man (Yip Man) baru memiliki anak kedua ketika dia dan keluarganya kehilangan kekayaan dan harus hidup menderita – setelah datangnya invasi Jepang. Hal berbeda ditampilkan di The Grandmaster. Di film ini, Ip Man (Yip Man) telah memiliki dua anak ketika dia masih menikmati kehidupan yang nyaman dan damai. Penelitian sejarah perlu dilakukan jika ingin mengetahui yang sebenarnya.

Hal lain lagi mengenai kebiasaan Ip Man (Yip Man) merokok – lagi-lagi mereferensi pada karya Wilson Yip dan Wong Kar Wai. Dalam Ip Man, Ip Man (Yip Man) terlihat sudah merokok ketika masih menikmati masa tenang, sementara di The Grandmaster kebiasaan merokoknya baru dimulai setelah Jepang masuk ke China. Bukan hal yang terlalu penting dan signifikan, tapi kebenaran tetaplah kebenaran.

Yang terakhir mengenai kepindahan Ip Man (Yip Man) ke Hong Kong. Menurut versi Wilson Yip, kepindahan Ip Man (Yip Man) langsung bersama istri dan anaknya. Mereka lalu tinggal di sebuah apartemen kecil dan hidup dengan sangat sederhana – sementara Ip Man (Yip Man) berusaha membuka sekolah Wing Chun pertamanya. Hal berbeda ditampilkan di The Grandmaster. Di film ini, Ip Man (Yip Man) pindah lebih dulu ke Hong Kong – sementara istri dan anaknya masih tinggal di China. Ip Man (Yip Man) pun tidak terlihat hidup sederhana. Dari penampilannya, dia tidak terlihat seperti orang yang harus mengumpat di dalam apartemen demi menghindar tagihan dari pemilik apartemen. Kepindahannya yang lebih dulu ke Hong Kong pun membuat Ip Man (Yip Man) dapat leluasa bertemu kembali dengan Gong Er.

Verdict

Bagian ini tidak dapat dikatakan sebagai simpulan atau semacamnya. Saya hanya ingin menulis hal yang tidak dapat dimasukkan ke bagian-bagian sebelumnya – mungkin dengan mengulang sedikit bagian yang sudah diungkapkan.

Ketika mendengar Wong Kar Wai merilis film terbarunya, sulit rasanya menahan diri untuk segera menonton film tersebut. Fakta bahwa film terbarunya tersebut mengenai Ip Man (Yip Man), yang kisahnya sudah diangkat oleh beberapa film yang sayangnya sebelumnya tidak mendapatkan atensi saya, tidaklah menjadi soal. Malah, itu manambah rasa penasaran saya. Dan secara kebetulan, seorang teman sudah mengunduh kelima film tentang Ip Man (Yip Man). Karenanya, saya tidak perlu bersusah payah dan menunggu lama untuk dapat menikmati film-film tentang Ip Man (Yip Man).

Soal kenyaman seperti yang sudah saya ungkap itu merupakan persoalan pribadi. Setiap orang memiliki referensi dan kenyamanannya sendiri. Saya menikmati beberapa film Wong Kar Wai. Bahkan saya beberapa kali mengulang My Blueberry Nights (2007). Fakta bahwa saya merasa kurang nyaman dengan cara pendekatan yang dilakukan pada The Grandmaster hanyalah masalah personal, soal kebiasaan. Lagipula, siapalah saya yang tidak memiliki latar belakang sinematografi dan menikmati film-film hasil unduhan.

Ketika selesai menonton kelima film tentang Ip Man (Yip Man), sambil cemas memperhatikan layar handphone yang membuka laporan pertandingan Liverpool melawan Chelsea (sialnya Liverpool kalah. B*ngs*t!!!), saya sempat terpikir untuk memilih salah satu versi dari ketiga sutradara itu sebagai yang lebih baik dari yang lain. Tetapi, setelah kembali merenung (sambil merenungkan nasib Liverpool yang kemungkinan gagal meraih gelar juara Liga Primer Inggris setelah 24 tahun), saya pun mengurungkan niat tersebut. Rasa-rasanya tidak adil menghakimi karya seseorang dengan cara seperti itu.

Seorang seniman pasti memiliki pemikiran, referensi, obsesi, dan berbagai macam hal ketika dia berkarya. Segala hal itu berpadu dan terwujud dalam karya yang dihasilkan. Entah itu buruk atau tidak, nyaman atau tidak, memukau atau membosankan, itu hal yang sepertinya tidak perlu diperdebatkan – sepertinya. Satu hal yang saya akui setelah menonton kelima film tersebut: saya menikmati kisah tentang Ip Man (Yip Man) dan tak sabar menanti Ip Man 3 yang menurut kabar akan rilis tahun depan. Apakah film ini akan mengisahkan masa-masa ketika Ip Man (Yip Man) mengajarkan Wing Chun kepada Bruce Lee?

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s