Salahkan Bisnis Olahraga jika Terjadi Krisis Ekonomi Dunia

VaB

Dua remaja 13 tahun yang bahkan tidak mengenal tanda nada, tidak dapat memainkan alat musik, serta tidak mengerti istilah “chord” berusaha membentuk band. Aliran musik yang mereka usung: punk. Mereka ingin menyuarakan pada dunia bahwa punk belum habis. Mereka lalu bertemu dengan seorang remaja lain. Remaja ini pandai memainkan gitar. Aliran musiknya klasik dan sering membawakan lagu-lagu gereja. Mereka bertiga kemudian sepakat membentuk band dan menyuarakan aspirasi.

Jangan membayangkan film musikal layaknya Sound of Music atau Chicago. Pertama, karena aliran musik yang diangkat dalam film ini. Kedua, ya bacalah kembali keterangan mengenai kemampuan bermusik para pemain utama di film ini. Mungkin pengikut aliran punk akan bersikap negatif pada film ini – entahlah, karena jujur saja saya tidak paham mengenai aliran ini. Yang ditunjukkan oleh film ini adalah hipokrit. Keinginan membentuk band oleh orang-orang yang tidak mengerti musik. Merasa sebagai anak jalanan tapi menangis histeris ketika tangan teriris pisau – sampai terpikir luka irisan tersebut dapat membuatnya kehilangan nyawa. Dan, perhatikan poster film ini. Mengerti yang saya maksud?

Lalu, apa hubungannya dengan olahraga?

Salah satu hal yang menjadi persamaan ketiga tokoh utama dalam film ini adalah kebencian mereka terhadap olahraga. Sebenarnya, mereka hanya tidak menyukai jam pelajaran olahraga karena pada jam pelajaran tersebut mereka harus terus bergerak dan berkeringat. Tapi dengan tambahan pemikiran punk dan musik yang ingin mereka perdengarkan, terciptalah lagu yang sederhana, jujur, ironis.

“Hate sport, hate sport

Hate sport, hate sport

People die every day,

You only care about your high jump team

In Africa children are starving,

You only care about your football field”

Sederhana, kan? Enam baris lirik yang dinyanyikan tanpa nada beraturan (Anda akan mengetahuinya saat mendengar lagu yang mereka bawakan). Tapi, itulah kenyataannya – bukan sekadar ketidakmampuan mereka dalam bermusik, tapi juga realita yang mereka hadirkan dalam lirik yang sederhana tersebut.

Bukan hal baru memang. Dalam dunia sepakbola misalnya. Sudah beberapa tahun yang lalu Michel Platini mengkhawatirkan kekuatan finansial akan menghancurkan olahraga terpopuler di muka bumi ini. Bagaimana tidak, dalam 20 tahun, banyak hal berubah dengan drastis – terutama berhubungan dengan bidang finansial. Kurang dari 20 tahun yang lalu, saat terjadi transfer Ronaldo dari Barcelona menuju Inter Milan, dunia dibuat heboh. Rekor transfer terpecahkan. Uang yang sangat besar dikeluarkan demi mendapatkan seorang pemain yang diinginkan. Dunia semakin heboh pada beberapa musim setelahnya. Inter Milan kembali membuat gebrakan. Klub asal Italia ini kembali memecahkan rekor transfer pemain. Christian Vieri dibeli dengan harga yang fantastis. Jumlah yang dikeluarkan Inter Milan untuk mendapatkan dua penyerang tersebut tidak pernah terbayangkan akan terjadi di dunia sepakbola. Uang yang dapat digunakan untuk membeli beberapa yacht termahal di dunia dikeluaran hanya untuk mendapatkan dua orang pemain bola yang kontraknya hanya berlaku selama beberapa tahun untuk kemudian harus diperbarui atau dilepas secara gratis kepada klub lain. Tapi, lihat sekarang. Jumlah yang dikeluarkan Inter Milan untuk mendapatkan Ronaldo dan Christian Vieri tidak lagi menjadi angka yang fantastis. Banyak pemain yang proses transfernya melibatkan uang dalam kisaran jumlah seperti itu. Bahkan, banyak pula yang di atasnya. Sialnya, sebagian (untuk tidak menyebut sebagian besar) pemain berbandrol mahal tersebut sebenarnya belum menunjukkan kemampuan seperti halnya yang dilakukan Ronaldo dan Christian Vieri sebelum akhirnya mereka dihargai dengan sangat tinggi.

Mau bukti? Mudah saja. Lihat dua transfer termahal yang terjadi pada musim ini, dua-duanya terjadi di Spanyol: Gareth Bale di Real Madrid dan Neymar di Barcelona.

Sebagai pesepakbola, keduanya memiliki kemampuan yang mumpuni. Tapi sebagai pemain bola profesional, keduanya belum memiliki catatan yang bagus. Maksudnya, keduanya belum berhasil membawa klub masing-masing untuk menjadi juara. Memang, berhasil-tidaknya seorang pemain membawa timnya menjadi juara bukanlah patokan utama penentuan biaya transfer pemain tersebut. Hanya saja, itu menjadi faktor yang patut diperhitungkan karena berarti sang pemain sudah dapat mencapai sesuatu, baik sebagai individu maupun sebagai tim.

Kalau dipikir, uang dalam jumlah yang sangat besar yang terlibat dalam dunia olahraga, khususnya sepakbola, jika digunakan dalam bidang lain, dapat membuat suatu hal yang cukup signifikan. Kembali soal Gareth Bale dan Neymar. Jika digabungkan, transfer keduanya berjumlah sekitar US$200 juta. Wuihhhhh…. Apa yang dapat dilakukan dengan uang sejumlah itu? Saya bahkan tidak dapat membayangkannya.

Saya yakin uang dalam jumlah sebesar itu dapat sangat bermanfaat di negara-negara berkembang. Dengan US$200 juta, dapat dibuat program pendidikan dan pertanian untuk jangka panjang. Masalah kebodohan dan kelaparan pun dibuat menjadi ringan dengannya. Tidak hanya mengalir begitu saja untuk mendapatkan pemain yang bahkan belum teruji kemapanan mentalnya.

Itu baru transfer yang melibatkan dua orang pemain. Di musim ini saja, ada berapa banyak transfer pemain yang terjadi. Jika digabungkan, uang yang terlibat mungkin dapat membantu menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia – apalagi jika digabung dengan transfer para staf serta gaji dan bonus yang harus dibayarkan.

Sebagai dampak dari besarnya uang yang terlibat dalam bisnis sepakbola, para penggemar, pemilik klub, dan sponsor yang harus bertanggung jawab. Baiklah, singkirkan pemilik klub dan sponsor – karena mereka memiliki kepentingan finansial dari uang yang dikeluarkan. Tapi, bagaimana dengan para pendukung? Mereka, orang-orang yang datang ke stadion, berteriak sepanjang 90 menit, menangis ketika tim kesayangan kalah atau bergembira bersama ketika kemenangan yang diraih, harus menjadi salah satu pihak yang menyokong besarnya uang yang terlibat dalam bisnis sepakbola.

Dalam kondisi yang agak melankolis, saya menganalogikan kondisi itu dengan kekasih matre dan pacarnya. Kekasih matre di sini adalah klub sepakbola sementara pacar yang terus diporotin adalah para pendukung. Tidak peduli seberapa pun pengorbanan yang diperlukan, selama itu demi kekasih tercinta, pasti akan dilakukan. Tabungan selama bertahun-tahun pun rela dikorbankan demi melihat senyum terpampang di wajah sang kekasih. Hanya bermodal rayuan dan memasang tampang manja sambil menyebutkan keinginan, hati sang pacar pun akan lulus. Padahal, pada kenyataannya, yang diminta sang kekasih bukanlah barang yang diperlukan. Bahkan, mungkin saja sangat tidak diperlukan. Tapi, begitulah. Rasa cinta mengalahkan segalanya.

Bodoh? Banget. Jahat? Sangat. Lalu, kalau memang kenyataannya seperti itu, kenapa masih terus berlanjut? Sederhana saja, coba tanyakan pada pacar yang terus diporotin sama kekasihnya, apa alasan dia masih bertahan? Jawaban yang sama juga sepertinya akan dikemukakan oleh para pecinta sepakbola. Sederhananya, sih, karena memang suka melakukannya. Upsss… saya berkata terlalu jujur, tapi memang itulah kenyataannya.

Dengan harga transfer yang semakin tinggi dan gaji para pemain yang begitu besar, kehawatiran Michel Platini terhadap olahraga ini sangat beralasan. Ratusan juta, bahkan mungkin miliaran, dollar Amerika terlibat dalam bisnis sepakbola setiap tahunnya. Saat ekonomi stabil, hal seperti itu tidak menjadi masalah. Uang yang dikeluarkan dapat ditutup dengan pendapatan. Tapi ketika ada salah satu aspek yang tidak berjalan dengan lancar, yang akan terjadi adalah kekacauan. Beberapa contoh telah terjadi. Beberapa klub Liga Italia dapat menjadi contoh. Pada era 90-an, Parma, Lazia, dan Fiorentina merupakan klub besar. Tapi, lihat mereka saat ini. Meski secara prestasi tidak terlalu buruk, tapi pemain kelas dunia akan berpikir panjang sebelum memutuskan untuk bergabung dengan klub-klub tersebut. Lalu, di Inggris, ada Porthsmouth yang beberapa waktu lalu dinyatakan bangkrut – padahal saya masih ingat klub ini sempat menjadi kuda hitam di bawah asuhan Harry Redknapp.

Beberapa kasus tersebut hanya merupakan contoh kecil. Dampak ringan yang terjadi akibat kekuatan uang yang tidak terkontrol. Coba bayangkan jika krisis seperti itu terjadi pada klub-klub besar yang selama ini dapat dengan mudah mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk mendapatkan pemain, seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester City, Bayern Munich, PSG, Monaco, dan sebagainya. Apa yang akan terjadi? Tidak hanya dunia sepakbola, ekonomi Eropa, bahkan mungkin ekonomi dunia, akan mengalami krisis. Penyebabnya? Transfer dan gaji pemain bola yang terlalu tinggi. Untuk menutupinya, pihak klub menaikkan harga tiket masuk dan harga merchandise. Para penggemar tidak menyanggupinya. Klub kehilangan salah satu sumber pemasukan. Penonton sepi, pihak sponsor enggak membayar mahal untuk memajang materi promosi mereka. Kehilangan pendapatan klub semakin besar. Sementara, gaji dalam jumlah besar harus tetap dibayarkan. Booommmmm…. Semua menjadi sangat ruwet. Kacau. Yang dialami para pemain liga Indonesia beberapa tahun kemarin akan dirasakan oleh para pemain kelas dunia. Dan jika hal itu sampai benar terjadi, beruntunglah Bambang Pamungkas yang telah merintis karier sebagai penulis sebagai salah satu profesi yang dapat dijalani ketika dunia sepakbola tak lagi dapat dijadikan lahan meniti karier.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s