Mou-Mo Main Mata

Main-Mata-Kecil

Meskipun saya pendukung Liverpool yang tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan atas kemenangan si Merah akhir pekan lalu, tulisan ini bukan semata euforia atas kemenangan itu – meskipun tidak dapat dipungkiri kesenangan atas kemenangan itu sangat meluap. Berhasil mengalahkan Manchester United di Old Trafford merupakan suatu hal yang tidak biasa. Karenanya, merupakan sesuatu yang dapat dijadikan alasan atas rasa senang pendukung Liverpool. Yang tidak boleh dilupakan, dan menjadi penetral rasa dari euforia kemenangan itu, adalah situasi Manchester United saat ini. Bagaimanapun harus diakui bahwa klub ini sedang mengalami krisis. Krisis yang lebih parah dibanding yang pernah mereka alami saat kehilangan Peter Schmeichel pada 2001. Bahkan, lebih parah dibanding yang pernah dialami Liverpool pada 2011.

Saat Peter Schmeichel memutuskan hengkang dari Old Trafford, dibutuhkan empat tahun hingga akhirnya mereka menemukan sosok sebanding yang dapat mengembalikan keseimbangan pada tim ini. Sepanjang waktu pencarian tersebut, beberapa nama besar sempat menjadi pilihan (yang diharapkan dapat menjadi kiper dengan kapasitas seperti Peter Schmeichel). Tapi yang terjadi adalah kekecewaan. Bahkan, Fabien Barthez (yang membawa Prancis juara Piala Dunia dan Piala Eropa) gagal mengemban tugas tersebut. Sampai kemudian, sosok penjaga gawang kurus nan jangkung yang beberapa tahun sebelumnya dikira sudah akan berada di akhir karier yang dapat melakukannya dengan sangat baik. Dan kini, yang hilang dari klub ini bukan sekadar penjaga gawang fantatis. Yang pergi adalah seorang legenda yang menyematkan kebesaran pada sejarah keberadaan klub ini.

Pertanyaannya, jika untuk menemukan penjaga gawang yang sama mumpuni memerlukan waktu empat tahun dengan berbagai percobaan, berapa waktu yang diperlukan untuk menemukan manajer yang sepadan dengan Sir Alex Ferguson? Memang, hitung-hitungannya tidak semudah itu, tapi itu dapat dijadikan semacam pengingat. Terlebih, yang dijalani David Moyes di klub ini tidak sekadar menjadi manajer. Dia tidak hanya menjalani tugas seperti yang dia lakukan di Everton. Lebih dari itu, ada sosok yang begitu melekat pada klub ini. Sosok itu sudah pergi. Hanya saja, jejak yang ditinggalkan sangat melekat. Tugas Moyes-lah untuk meneruskan jejak yang telah dibuat. Bukan sesuatu yang mudah, bahkan sangat sulit. Karena, jejak yang ditinggalkan begitu indah. Begitu indah sampai para pendukung klub ini tidak rela jika jejak indah yang telah dibuat dirusak oleh sang penerus. Itulah tugas yang diemban Moyes. Dia, setidaknya, harus membuat jejak yang sama indahnya seperti yang telah dibuat oleh Sir Alex Ferguson. Saya pribadi tidak yakin nama seperti Jose Mourinho (yang begitu terobsesi ingin menjadi manajer Manchester United) mampu melakukannya.

Untuk kepentingan tulisan ini dan logika yang akan saya gunakan di dalamnya, lupakan tentang pandangan yang beredar di luar sana. Soal rivalitas kedua klub yang kemudian ikut berdampak pada percekcokan di antara pendukung kedua klub. Faktanya adalah, sejak menggunakan sistem kompetisi yang baru, Manchester United menjadi klub yang paling sering menjadi juara – sementara Liverpool tidak pernah menjuarainya. Jadi, bagaimana mungkin tim penguasa menjadi rival klub yang tidak pernah menjadi juara? Rivalitas itu sebuah omong kosong. Hal lain adalah sikap Sir Alex Ferguson. Singkirkan sejenak pernyataan di buku biografi opa ini yang ‘sangat menyerang’ Steven Gerrard. Anggap saja itu ungkapan sakit hati seorang kekasih yang ditolak oleh pujaannya. Pujaan tersebut kini menjadi seseorang yang sukses dan hidup bahagia bersama keluarganya. Sementara, sang kekasih yang telah melewati puncak kariernya menghabiskan waktu di rumah sederhana di tepi pantai yang sepi. Setiap saat, hanya angin laut yang menerpa keriput-keriput wajahnya. Dia hanya duduk, menatap televisi yang terus menayangkan kebahagiaan sang pujaan.

Sebagai pendukung Liverpool, ada satu kejadian yang membuat saya sangat menghargai Sir Alex Ferguson. 9 Januari 2011, Manchester United menjamu Liverpool di ajang Piala FA. Saat itu, Liverpool sedang mengalami krisis. Roy Hodson dipecat. Kenny Dalglish ditunjuk sebagai caretaker sehari sebelum pertandingan berlangsung – ketika sedang menikmati liburan bersama sang istri di Dubai. Bahkan, perjumpaan King Kenny dengan para pemain Liverpool terjadi di hotel, sebelum mereka berangkat menuju Old Trafford. Melihat yang terjadi, Manchester United sangat mungkin menang dengan dua dijit gol, dan kejadian di atas lapangan selama 90 menit membenarkan pendapat tersebut. Tapi, itu tidak terjadi. Sir Alex Ferguson merasa satu gol sudah cukup untuk meloloskan Manchester United ke fase berikutnya, lagipula kekalahan menyolok bukanlah sambutan yang baik bagi kembalinya sahabat lama. Dan, itu pula yang menjadi alasan tidak diperlukan euforia atas kemenangan Liverpool di kandang Manchester United akhir pekan lalu. Tapi… ada alasan lain yang membuat kemenangan itu patut dirayakan.

25 Januari 2014, terjadi sebuah transfer yang cukup menggemparkan. Juan Mata melepas kaos biru, mengemas barang-barang, lalu beranjak ke Manchester United. Beberapa manajer berkomentar negatif atas transfer ini. Arsene Wenger dan Brendan Rodgers termasuk dapat manajer yang mengeluarkan komentar negatif soal kejadian ini – maklumlah, keduanya memiliki kepentingan terhadap terjadinya proses transfer tersebut.

Yang menjadi perhatian bukanlah besarnya jumlah uang yang terlibat. Lebih dari itu. Ini menyangkut kepentingan tim-tim lain yang bersaing di Liga Primer Inggris, terutama empat tim yang terlibat dalam persaingan perebutan gelar juara – dengan menyingkirkan Manchester United yang pada musim ini lebih layak disebut Kuda Merah. Skenario yang muncul dari terjadinya transfer ini adalah, dengan masuknya Juan Mata, Manchester United akan menjadi tim yang lebih kuat dan dapat bersaing di papan atas Liga Primer Inggris. Jika itu terjadi, Jose Mourinho berharap dapat mengambil keuntungan darinya. Pasalnya, Chelsea sudah dua kali bertemu dengan Setan Merah (pertemuan kedua terjadi sekitar seminggu sebelum proses transfer Juan Mata), sementara tiga kontestan persaingan gelar juara masih harus bertemu dengan Manchester United. Juan Mata punya kemampuan membuat Manchester United menjadi klub yang lebih kuat. Dan dengannya, diharapkan menjadi batu sandungan bagi Arsenal, Liverpool, dan Manchester City. Ketiga klub itu akan kehilangan poin saat bertemu dengan Manchester United, dan ditambah dengan kesialan yang mungkin saja terjadi, peluang Chelsea untuk menjadi juara lebih besar. Wajar saja jika Arsene Wenger dan Brendan Rodgers menjadi berang.

Namun, yang terjadi tidak seperti yang direncanakan – terutama rencana Jose Mourinho jika memang dia menginginkan Manchester United menjadi tim yang lebih kuat sejak kedatangan Juan Mata. Bahkan, yang terjadi sepertinya kebalikan dari yang diharapkan. Kedatangan Juan Mata ke Manchester United seperti menjadi musibah bagi klub ini. Berbagai kritik tajam disampaikan menanggapi permainan yang ditampilkan pemuda Spayol ini. Keadaan menjadi semakin runyam ketika berbagai pihak menilai Juan Mata akan lebih efektif jika dimainkan di posisi yang saat ini diisi oleh Wayne Rooney – sementara penyerang Inggris ini baru saja menandatangani kontrak super mahal dengan Manchester United. Alih-alih dapat meningkatkan peforma klub, kedatangan Juan Mata membuat permasalahan di klub ini semakin pelik. Memang, pada percobaan pertama, setan merah membuat Arsenal kehilangan poin penting. Kedua tidak tidak mampu membuat gol. Tapi, pada percobaan kedua, dan itu terjadi pada akhir pekan lalu, harapan Jose Mourinho tidak terwujud – dan itulah alasan kemenangan Liverpool akhir pekan lalu patut dirayakan. Tinggal percobaan terakhir, apakah harapan Jose Mourinho akan terwujud?

J

Memperhatikan yang coba dilakukan Jose Mourinho (dengan asumsi membenarkan skenario penjualan Juan Mata ke Manchester United adalah untuk menjegal para pesaing) para penggemar olahraga ini mungkin saja merasa jijik. Cara yang dilakukannya terkesan kotor. Agak licik. Tapi, cara seperti legal. Setidaknya, tidak ada aturan yang melarangnya. Baik itu aturan yang dibuat oleh FA, UEFA, maupun FIFA. Bahkan, jujur saja, yang dilakukan Jose Mourinho belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dilakukan Bayern Munich – dan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun. Memang, keduanya melakukan hal yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan pada tujuan utama – melemahkan para pesaing demi memuluskan jalan mencapai gelar juara.

Sedapat yang saya ingat, Jose Mourinho baru kali ini melakukan perbuatan putus asa seperti ini. Baik di Porto, Chelsea (edisi pertama), Inter Milan, bahkan Real Madrid, dia tidak melakukannya. Dan dalam praktiknya, skenario yang direncanakan Jose Mourinho hanya melibatkan seorang pemain. Coba hitung berapa jumlah pemain yang menjadi korban kebijakan transfer Bayern Munich! Ketika ada pemain yang menunjukkan permainan cemerlang, terutama jika dia berada di klub yang memiliki potensi menghambat jalan Bayern Munich meraih gelar juara, dapat dipastikan pemain tersebut akan segera berseragam Bayern Munich – meski pada kenyataannya Bayern Munich tidak membutuhkan jasa pemain tersebut.

Bayern Munich telah melakukannya selama bertahun-tahun. Tidak ada regulasi yang menjadi penghambat. Dan sialnya, klub ini didukung dengan faktor yang sangat penting – finansial. Jujur saja, Bayern Munich tidak perlu terlalu risau dengan uang yang harus dikeluarkan demi melemahkan klub-klub yang menjadi pesaingnya selama prestasi dapat mereka raih. Kebijakan itu berubah ketika Louis Van Gaal menahkodai The Bavarian. Yang lucu, Pelatih asal Belanda ini memiliki kebijakan transfer yang bertolak belakang dengan Bayern Munich. Alih-alih melemahkan klub pesaing, Louis Van Gaal memboyong pemain-pemain dari Liga Belanda yang menjadi pesaing AZ Alkmaar – klub yang sebelumnya dia bawa menjadi juara liga.

Bayern Munich memang terbilang sukses dengan skenario yang dijalankan. Kecuali beberapa kali terjadi kejutan, merekalah penguasa Liga Jerman. Hanya saja, yang perlu diingat, tidak selamanya skenario dapat berjalan dengan mulus. Ya, kasus Juan Mata contohnya. Alih-alih membantu menyelesaikan, gelandang Spanyol ini malah membuat situasi semakin runyam. Plus, yang membuat saya lebih menikmati euforia ini adalah kemenangan Liverpool atas Manchester United terjadi di pekan yang sama dengan kekalahan yang diterima Chelsea atas Aston Villa (dengan dua kartu merah untuk pemain dan pengusiran Jose Mourinho). Istimewa? Tidak juga. Ketika skenario yang direncanakan tidak berjalan dengan sempurna, emosi yang meningkat tak terkendali merupakan reaksi yang sangat wajar.

Bagi Arsene Wenger dan Brendan Rodgers, terutama untuk nama terakhir karena menjadi manajer klub favorit saya, sikap kedua manajer ini menanggapi transfer Juan Mata terlalu berlebih. Mereka terlalu khawatir. Tidak perlu menyerang keputusan Jose Mourinho karena telah melepas salah satu pemain terbaiknya ke klub rival. Bagaimanapun, itu hak Jose Mourinho dan legal untuk dilakukan. Menyerang Jose Mourinho atas terjadi transfer tersebut menunjukkan ketidakpercayaan diri kedua manajer ini pada tim mereka. Padahal, kenyataannya, terutama Brendan Rodgers, mereka memiliki tim yang lebih baik dibanding Manchester United – bahkan ketika Juan Mata sudah bergabung. Sepakbola permainan tim. Absennya seorang pemain atau masuknya seorang pemain tidak serta-merta mengubah pertandingan. Pasti ada cara untuk dapat mengatasi segalanya.

Salam. 

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s