Mengidola dalam Kesederhanaan

“Lo fans Liverpool, kan?” begitu tanya seorang teman ketika berada di dalam kamar saya, dengan nada heran. Tak kalah heran dengan pertanyaan yang saya dengar, saya pun mengiyakan pertanyaan teman tadi. Saya memang penggemar Liverpool Football Club. Masih dengan rasa heran, saya pun balik bertanya, “Kenapa emangnya?” Teman itu lalu menjelaskan keheranannya. Saat masuk ke kamar saya, dia tidak menemukan satu hal pun yang menjadi petunjuk bahwa saya merupakan seorang penggemar Liverpool Football Club. Petunjuk yang dimaksud di sini dapat diartikan dalam beragam wujud, seperti poster, syal, bendera, atau lainnya. Keheranan teman saya ini semakin menjadi ketika dia membuka lemari pakaian saya. Di dalam lemari itu, tidak ada satu pun pakaian (kaos atau jaket) yang berhubungan dengan Liverpool Football Club. Malah, di dalam lemari itu, dia menemukan kaos dua tim lain di liga Inggris (Arsenal dan Chelsea).

Sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi seseorang yang mengidolakan sesuatu untuk mengumpulkan berbagai benda yang berkaitan dengan idolanya tersebut. Bagi seorang penggemar klub sepakbola, kaos tim sudah menjadi suatu hal yang wajib dimiliki. Karenanya, tidak mengherankan jika teman tersebut merasa heran dengan situasi yang didapatinya ketika bertandang ke kamar saya. Saya, yang mengaku mengidolakan Liverpool Football Club, tidak memiliki satu benda pun yang berkaitan dengan klub sepakbola idola saya tersebut. Tidak ada poster yang menghias di dinding (yang menghias dinding saya hanya sebuah kipas angin dan sebuah rak yang di atasnya terdapat beberapa miniatur mobil yang saya dapatkan sebagai hadiah). Selebihnya adalah dinding bercat putih. Lalu, dengan kenyataan seperti itu, benarkah saya mengidolakan Liverpool Football Club?

Pertanyaan tandingan yang kemudian harus saya ajukan adalah, “Pentingkah memiliki berbagai hal yang berkaitan dengan Liverpool Football Club untuk membuktikan bahwa saya mengidolakan klub sepakbola tersebut?”

J

Liverpool Football Club bukanlah klub sepakbola pertama yang saya idolakan. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ketika awal menggandrungi sepakbola, saya mengidolakan Internazionale Milan – klub sepakbola asal Italia. Saat itu, saya sempat memenuhi aturan seorang penggemar klub sepakbola. Dinding kamar saya dipenuhi berbagai gambar yang berkaitan dengan Internazionale Milan, mulai dari poster para pemain klub tersebut sampai guntingan-guntingan foto dari majalah atau koran. Saya pun memiliki beberapa kaos klub tersebut. Tetapi kemudian, entah kenapa sikap saya sebagai pengidola klub sepakbola berubah seiring berubahnya klub sepakbola yang saya idolakan – saya lupa tahun berapa tepatnya perubahan tersebut terjadi, tapi sepertinya saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Hal itu terjadi begitu saja, tanpa saya sadari. Mungkin karena faktor ekonomi. Saat duduk di Sekolah Menengah Atas, pengeluaran semakin besar – untuk kumpul-kumpul dengan teman, mengajak pacar nonton atau makan, dan lainnya. Karenanya, saya tidak memiliki sisa uang yang dapat digunakan untuk membeli berbagai benda yang berkaitan dengan klub sepakbola yang saya idolakan. Atau mungkin, tanpa saya sadari, saya memiliki sebuah pandangan yang baru sadari setelah beberapa tahun lulus kuliah.

J

“Kenapa mengidolakan sesuatu harus disertai dengan memiliki berbagai hal yang berkaitan dengan yang diidolakan? Tidak bisakah mengidolakan cukup dilakukan dalam kesederhanaan, meyakini di dalam hati – sebagaimana layaknya iman?”

Terlalu berlebihan mungkin menyandingkan pengidolaan pada sesuatu dengan iman. Akan dapat menimbulkan kontra dan perdebatan, tapi dua hal tersebut memiliki dasar yang sama. Atau begini, mari sandingkan dengan orang yang kita cintai – dalam hal ini pasangan. Apakah ketika mencintai seseorang kita harus memasang foto orang tersebut hingga memenuhi permukaan dinding di kamar? Atau selalu memakai kaos yang bertuliskan nama atau memuat foto orang yang kita cintai? Apa yang akan Anda lakukan jika ternyata dicintai oleh orang yang seperti itu? Jika itu saya, saya akan merasa sangat takut.

Berbicara dalam hal yang lebih luas, pengidolaan seperti ini berkaitan dengan dua hal: identitas dan konsumerisme. Kedua hal ini berhubungan dengan sikap saya.

Saya tidak ingin menjadi orang yang mudah ditebak. Walau begitu, bukan berarti saya ingin menjadi tokoh misterius seperti Rangga di film Ada Apa dengan Cinta yang menyendiri dan terus menulis puisi. Dia enak ganteng. Walaupun misterius dan penyendiri tetep bisa buat Cinta kelepek-kelepek. Lha, kalau gw apa kabar? (halah… enggak penting). Maksudnya, saya hanya ingin membuat diri saya bebas nilai. Saya tidak ingin, sebisa mungkin, mengaitkan diri saya dengan hal-hal tertentu. Seperti misalnya begini. Kalau saya mengenakan kaos Liverpool Football Club, orang-orang yang melihat saya akan dengan mudah tahu bahwa saya merupakan penggemar klub sepakbola tersebut. Beruntung kalau orang yang melihat juga mengidolakan klub sepakbola yang sama, karena yang mungkin terjadi adalah saya mendapat teman baru. Tetapi jika yang melihat mengidolakan klub sepakbola yang lain, klub yang sedang bersaing dengan Liverpool Football Club, apa yang akan terjadi? Sikap penolakan sangat mungkin terjadi, yang berarti saya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan teman baru hanya karena kaos yang saya kenakan. Keadaan akan menjadi netral jika saya mengenakan kaos yang tidak berkaitan dengan klub sepakbola manapun, bahkan tidak berhubungan dengan sepakbola. Dengan penampilan seperti ini, saat bertemu dengan orang baru, topik pembicaraan yang terjadi akan sangat terbuka – dapat tentang apa saja, tidak harus terkait dengan sepakbola, apalagi Liverpool Football Club. Kalau pun kemudian pembicaraan yang terjadi mengenai sepakbola dan orang yang berbicara dengan saya menanyakan klub sepakbola yang saya idolakan, saya akan menjawab dengan jujur – meski saya tahu dia mengidolakan klub yang sedang bersaing dengan Liverpool Football Club. Memang, dalam komunikasi, identitas seperti mengenakan kaos klub sepakbola dapat memberikan keuntungan tersendiri. Dengan mengenakan kaos seperti itu, jika ingin membuka pembicaraan, orang lain topik yang akan dibahas. Hanya saja, identitas seperti itu juga dapat menimbulkan sikap penolakan seperti yang saya utarakan tadi atau menyempitkan peluang topik pembicaraan (ngelantur).

Soal kedua adalah mengenai konsumerisme. Harus diakui, idola, apapun profesinya (baik artis, musisi, olahragawan, atau klub sekalipun) merupakan komoditi ekonomi. Real Madrid melakukannya dengan sangat baik. Tidak peduli seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan seorang pemain, mereka selalu mendapat keuntungan finansial dari hal tersebut. Pemain sepakbola tidak lagi sekadar olahragawan. Mereka telah menjadi komoditi ekonomi yang diusahakan agar dapat menghasilkan keuntungan. Begitulah. Idola telah diubah menjadi aset yang menguntungkan secara finansial. Dan sebagai orang dengan kehidupan yang apa adanya (tepatnya adanya apa), saya tidak ingin masuk ke dalamnya. Hahaha….

Sebagai pembelaan. Begini kondisi lain yang berhubungan dengan olahraga dan idola. Sederhana saja. Apakah setiap pendukung tim balap Ferrari atau McLaren memiliki mobil keluaran pabrikan itu?

Dan ketika teman saya ini terus memojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan pembuktian pengidolaan saya pada Liverpool Football Club, saya menanggapinya dengan santai. Saya mengambil cutter dari dalam kotak alat tulis.

Teman saya lalu bertanya keheranan, “Buat apa?”

Saya lalu membalasanya, “Katanya lo mau bukti kalau gw ngidolain Liverpool?”

“Iya. Terus buat apa cutter?” tanyanya kembali tetap dengan keheranan.

“Biar lo tau gw ngidolain Liverpool sampe ke darah. GW MANUSIA YANG BERDARAH MERAH KARENANYA GW NGIDOLAIN LIVERPOOL,” jawab saya dengan ekspresi datar. Teman saya hanya terbengong.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s