Do Not be a Smart-but-Stupid Person

Monkey

Pernyataan tanpa dasar empiris, dapat diperdebatkan sekaligus mungkin dapat menjadi pertimbangkan. Coba tanya kepada para mahasiswa atau ingat kembali pada masa yang telah Anda lalui: apa alasan memilih suatu jurusan ketika masuk ke bangku kuliah? Sederet jawab akan muncul: “Saya sangat menyukai bidang A dan sangat ingin berkarier di bidang tersebut”, “Sejak kecil, orangtua saya mengarahkan saya untuk menjadi X dan karenanya saya memilih jurusan D”, “Orangtua saya berprofesi sebagai R dan karenanya saya harus meneruskan profesi mereka”, dan masih banyak alasan yang lainnya. Dari sekian banyak alasan yang muncul, dapat dikerecutkan, memunculkan sebuah kecenderungan: demi profesi.

Sistem pendidikan di negara ini sepertinya baru membuka jalan profesi bagi seseorang ketika duduk di bangku kuliah – kecuali untuk kasus sekolah menengah kejuruan yang sudah mengarahkan siswanya dalam bidang spesifik meski tidak menutup kemungkinan bagi para siswanya untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Bagaimanapun, jalan untuk mencapai masa depan yang diinginkan baru terbuka ketika seragam tidak lagi melekat di badan dan terbebas dari upacara di hari Senin pagi. Memang, sebagian orang sudah melakukan usaha keras jauh sebelumnya. Selagi sehari-hari mengenakan seragam. Tapi, yang perlu diingat, usaha yang dilakukan tersebut merupakan penunjang untuk dapat masuk ke jurusan yang diinginkan. Sebagai langkah awal, semacam prakualifikasi.

Dan ketika gelar sarjana dan ijazah didapat, jalan itu pun semakin terbuka. Perlahan demi perlahan jalan menuju cita yang diharapkan dilalui. Ada yang berhasil, ada pula yang tidak. Sebagian menjadi orang yang sangat ahli di bidangnya, mendapat kehormatan atas semua hal yang telah dilakukan. Sementara, sebagian yang lain hanya menjadi pengisi daftar panjang jumlah penduduk di negeri ini.

Sayangnya, sebagian orang (untuk tidak menyebut sebagian besar) hanya memanfaatkan ilmunya dalam profesi yang dijalaninya. Di luar itu, dia seperti manusia bodoh yang tidak memiliki pengetahuan.

Saya ingat sebuah berita yang saya baca di sebuah surat kabar. Peristiwa ini terjadi ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, sedang marak praktik aborsi ilegal. Banyak dokter dan bidan yang menjadi tersangka karena melakukan praktik aborsi ilegal. Satu per satu ditangkap lalu diadili. Salah satunya seorang dokter di kota kelahiran saya. Sepertinya dokter ini cukup terpandang di lingkungannya. Ketika namanya disebut sebagai salah satu pelaku aborsi ilegal yang kemudian diikuti dengan penangkapan oleh pihak yang berwajib, dokter ini menjadi putus asa. Stres, merasa terpojok, dokter ini pun kemudian coba melakukan “jalan pintas”. Dia berniat bunuh diri. Tapi kemudian, keputusannya untuk bunuh diri ini menjadi bahan olok-olok beberapa guru di sekolah.

Ketika memutuskan untuk bunuh diri, dokter ini mengambil sebuah pisau lalu memotong aliran darah di pergelangan tangannya – berharap akan kehabisan darah yang kemudian membuat tubuhnya tak bernyawa lagi. Standar. Tapi, kok, kenapa menjadi bahan olok-olok beberapa guru di sekolah? Ternyata, guru-guru tersebut menganggap niatan dokter ini untuk bunuh diri sekadar mencari sensasi, tanpa sungguh-sungguh berniat untuk mati. “Kalau emang mau mati, potongnya jangan di pegelangan tangan, tapi di sebelah mata. Pasti cepet mati karena aliran darah ke otak berhenti,” jelas seorang guru yang disertai tawa riah guru-guru yang lain.

Ada standar spesial yang harus digunakan dalam kasus seperti ini. Jika yang berniat bunuh diri adalah seorang remaja yang putus asa setelah hubungannya berakhir, wajar jika cara yang dipilih seperti itu. Tapi yang menjadi subjek dalam kejadian ini adalah orang yang sekian tahun menghabiskan waktunya mempelajari anatomi tubuh manusia dan tahu betul cara yang efektif untuk mengobati jika terjadi luka – sekaligus cara menonaktifkan tubuh untuk selamanya.

Sebagai dokter kandungan, dokter tadi tahu betul cara melakukan aborsi – dalam hal ini dapat dikatakan sebagai praktik menghilangkan hak hidup si jabang bayi, walaupun dia juga memiliki pengetahuan cara merawat agar si jabang bayi dapat tumbuh dengan sehat. Entah sudah berapa banyak jabang bayi yang dia keluarkan sebelum waktunya. Karena dia sudah memiliki tempat paktik sendiri, jumlahnya pastilah lebih dari satu. Tapi di saat lain, ilmu mencabut hak hidup itu seketika hilang – atau setidaknya menjadi tidak efektif. Tidak seperti yang biasa dia lakukan. Hilang sudah profesionalitasnya. Dia menjadi amatir yang selalu mendapat makian dari sang mentor karena terus melakukan kesalahan – termasuk ketika ingin menghilangkan nyawanya.

Memang, dalam situasi tertentu, kondisi manusia dapat menjadi sangat turun – lemah – yang berakibat pada kualitas manusia tersebut. Misalnya saja dalam kondisi sangat kelelahan, kelaparan, atau di tengah tekanan yang sangat besar. Dalam situasi-situasi seperti itu, banyak orang yang tidak dapat berpikir dengan jernih dan cenderung melakukan kesalahan. Dapat dimafhumi jika situasi yang dihadapinya asing, tidak biasa. Tapi jika itu masih sangat berhubungan dengan profesi yang dijalani setiap saat?

Kasus seperti yang terjadi pada dokter tadi ternyata juga dialami oleh banyak orang. Jujur saja, dalam keseharian yang saya alami, saya kerap berjumpa dengan orang yang seperti itu. Orang-orang yang sepertinya lupa pada semua hal yang telah mereka pelajari tapi ketika berhadapan dengan situasi yang berbeda hanya selang beberapa saat kemudian ilmu itu pun kembali – muncul entah dari mana.

Pernah dengar jurnalis yang bergosip? Bukan hal yang asing tentu saja. Hanya berdasar dari yang didengar sana-sini, obrolan terhadap isu-isu di sekitar mereka pun mencuat. Tersebar semakin luas dan melebar ke hal-hal yang sebelumnya tak terkait. Tak ada lagi prinsip-prinsip pembuktian kebenaran seperti yang mereka pakai dalam menjalankan profesi. Memang, isu yang dibicarakan bukanlah isu yang menyangkut kepentingan nasional. Bahkan, isu itu tidak berhubungan dengan profesi yang dijalani. Tapi, apakah dengan demikian dapat berarti dapat dilakukan “sekenanya” saja? Bukankah jika itu yang terjadi si jurnalis tersebut dapat dikatakan memelihara kebohongan – sesuatu yang sangat diharamkan oleh profesinya, meski kebohongan itu tidak terkait dengan kepentingan kantor dan profesi.

Analoginya seperti ini. Kembali ke soal dokter. Pernahkah, pada suatu ketika, Anda mendatangi dokter di rumahnya karena ada situasi genting. Katakanlah, dokter ini adalah tetangga atau bahkan anggota keluarga Anda. Dia tidak sedang bertugas – tentu saja, karena Anda mendatanginya di rumah. Ketika si dokter kemudian menemui pasien yang sedang dalam kondisi genting, bolehkah dia menanggapinya dengan “sekenanya” saja? Seperti halnya jurnalis yang sedang membicarakan isu di luar masalah pekerjaan, pasien yang sedang ditangani pun tidak terkait dengan tempat si dokter berpraktik.

Terlalu serius? Hmmm…. Memang, walau bukan maksud saya untuk selalu memandang segala hal dengan serius. Hanya saja, jujur, saya merasa terganggu dengan orang-orang dalam kelompok tersebut. orang-orang yang sepertinya menjadi awam ketika mereka sedang tidak menjalani profesi. Mereka seketika menjadi awam, amatir yang tidak tahu apa-apa – padahal, dalam kenyataannya, mereka merupakan orang-orang yang sangat terdidik. Sulitkah untuk sekadar menerapkan ilmu yang telah didapatkan dan selalu diterapkan ketika menjalani profesi dalam kehidupan sehari-hari? Kita memang hidup di era matrealistik. Segala hal dinilai dengan uang. Tapi, segitu kikirkah untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari dan darinya Anda tidak akan mendapat gaji? Ini demi kehidupan, bukan semata profesi seseorang. Ayolah, saya tahu Anda merupakan orang yang sungguh cerdas, memiliki banyak pengetahuan. Berhentilah bertindak layaknya orang bodoh yang tersesat di tengah hiruk-pikuk keramaian kota.

Tangerang, 2 Februari 14

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s