Eksklusivitas Media

Apple

Sebagai orang yang banyak menghabiskan waktu berada di depan layar televisi, saya sering kali mendapati iklan seperti ini “Eksklusif. Hanya di … (nama stasiun televisi yang menayangkan)”. Karena sering menghadapi iklan seperti itu, tidak hanya di satu stasiun televisi, saya pun kemudian merasa terganggu. Bukan karena kalimat sejenis yang digunakan oleh hampir semua stasiun televisi, tapi juga mengenai program yang diberi label “eksklusif”.

Saya pun kemudian mencari arti kata eksklusif di dalam kamus. Berdasar KBBI Daring, kata ini memiliki dua makna, “1 terpisah dari yang lain; khusus” dan “2 tidak termasuk”. Merujuk pada contoh yang diberikan, kasus yang saya temui di iklan televisi tersebut sesuai dengan arti yang pertama.

Yang membuat saya terganggu adalah karena kalimat itu digunakan untuk mempromosikan acara-acara yang hanya ada di sebuah stasiun televisi. Dalam hal media, saya membayangkan “eksklusif” hanya akan digunakan untuk kasus spesial, semisal acara tertentu yang sebenarnya terbuka untuk semua stasiun televisi tapi hanya sebuah stasiun televisi yang berhasil menayangkannya – seperti acara penganugerahan Piala Oscar. Tapi dalam hal program penganugerahaan yang dibuat sendiri oleh sebuah stasiun televisi, sepertinya “eksklusif” tidak cukup layak untuk digunakan.

Kasus seperti ini memang tidak hanya dilakukan oleh stasiun televisi. Misalnya saja, perhatikan iklan perumahan atau cluster yang banyak terpampang di pinggir jalan. Kalimat yang sering terpampang pada reklame sejenis ini adalah “Hunian eksklusif. Unit terbatas.” Saya kemudian berpikir, bukankah semua yang dibuat manusia berada dalam ranah “terbatas”?

Sebagai pihak yang memiliki peran penting dalam komunikasi di negeri ini, juga perannya dalam membentuk pandangan masyarakat, sudah selayaknya media (dalam hal ini stasiun televisi) memperhatikan penggunaan bahasa. Ada kata-kata tertentu (seperti halnya eksklusif) yang tidak dapat digunakan di sembarang kesempatan.

***

Entah kebetulan atau bagaimana, saat terpikir mengenai soal tersebut, saya mendapati majalah ini pun melakukan “pengeksklusivan”. Pada artikel “Stroke Warisan Orang Tua” (Tempo 13-19 Januari 2014 halaman 44-45), disebutkan enam kampus yang memiliki fasilitas laboratorium biologi molekuler. Dari enam kampus yang disebutkan, empat disertai keterangan kota tempat kampus tersebut berada. Dua yang tidak dilengkapi keterangan kota adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Saya pun jadi bertanya, kenapa dua kampus ini tidak dilengkapi dengan keterangan kota seperti empat kampus lainnya? Apakah majalah ini memberikan “eksklusivitas” bagi mahasiswa, karyawan, dosen, atau alumni kedua kampus tersebut? Jika iya, bolehkah saya mendaftar? :d

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s