Jejak

Courtessy of The Guardian
Courtessy of The Guardian

Hujan turun deras di luar. Di balik dinding kaca, mengaburkan penampakan dari dalam. Orang-orang berlari, menghindar, tak ingin tubuhnya menjadi basah. Berusaha secepat mungkin mencapai tempat yang nyaman untuk berteduh. Langkah-langkah kaki menapak di atas tanah yang seketika menjadi basah. Tanah gembur, ketika sebuah beban menapak di atasnya, jejak tercipta lalu kemudian terkubur oleh air yang turun begitu deras.

Di balik dinding kaca, kalian duduk. Berdua, saling menatap. Entah kalian sadar atau tidak bahwa di balik dinding kaca itu, keadaan tiba-tiba menjadi kacau. Ah… kalian bukanlah orang yang membenci hujan. Terlalu banyak hal yang menjadi alasan untuk memujanya – walau pada kenyataannya kalian tidak pernah bersama di bawah payung hujan.

Namun, di situlah. Duduk berhadapan dengan sebuah meja bundar menjadi perantara. Di atasnya, dua cangkir kopi hitam panas tersaji. Dari dalam gelas, asap tipis mengepul.

“Ada jejak yang begitu kejam untuk tetap berada di atas tanah tandus sekalipun,” ucap salah seorang dari kalian sambil terus menatap orang yang ada di hadapnya.

Setiap pejalan meninggalkan jejak. Kitalah para pejalan. Ada begitu banyak jejak yang telah kita buat. Membaris di belakang tanpa pernah bisa dihapus. Dan kini, salah satu dari kalian berusaha, atau setidaknya ingin, menghapus jejak yang tidak disukai. Arogan? Bukankah sudah menjadi sifat manusia untuk memilah hal-hal yang diingini dan membuang yang tidak terasa nyaman – meski yang mengganjal mengajarkan banyak hal.

Kita, pejalan, kadang lupa dengan hal-hal yang membuat kita menjadi seperti ini. Kita adalah kumparan. Tercipta dari penyatuan partikel-partikel ruang dan waktu. Adanya kita di sini, saat ini, adalah karena semua hal yang telah terjadi.

Asap tipis membentuk embun di kacamata ketika gelas diangkat, didekatkan ke mulut. Seruput hangat kopi hitam memberi ketenangan. Kopi hitam tanpa gula. Rasa pahitnya, entah bagaimana, menciptakan ketenangan. Mungkin lebih karena aroma yang disajikan. Melesap ke rongga-rongga pernapasan, mengusap syaraf, dan menentramkan jiwa. Proses super kompleks yang terjadi dalam seketika. Proses itu tak pernah terpikirkan oleh kalian. Yang kalian tahu, segelas kopi hitam memberi ketenangan. Terlebih, di tengah hujan deras seperti ini – meski kalian belum juga menyadarinya.

“Aku melangkah terlalu jauh. Melenceng. Aku sadar di awal persimpangan itu, tapi tetap saja kulanjutkan,” lanjut seorang dari kalian. Yang lain hanya mendengar sambil tetap asyik menyeruput kopi hitam dari gelas, sambil menghisap dalam-dalam aroma yang disajikan minuman itu.

“Andai ada cara yang bisa kulakukan agar jejak itu dapat hilang untuk selamanya, seakan-akan kakiku tidak pernah menapak di atasnya, aku akan melakukannya.”

Jejak-jejak tidak akan pernah dapat hilang. Kalian tahu itu. Jejak di atas tanah yang gersang sekalipun akan tetap membekas. Terlebih, jejak di atas tanah yang gembur, yang disiram hujan. Beban yang menekan akan meninggalkan bekas yang begitu nyata. Tanah kemudian akan menempel pada alas kaki. Melekat sesaat untuk kemudian berpindah pada permukaan lantai kering, meninggalkan noda yang sangat nyata. Jejak pula.

Lagipula, kalau pun bisa, harus memulainya dari mana? Dari titik saat ini lalu berjalan mundur sambil menghapusnya satu per satu, atau dari titik di awal persimpangan lalu berjalan maju? Pilihan apapun, kalau pun mungkin untuk dilakukan, akan membuat perubahan pada kita. Ada bagian yang hilang, yang karenanya akan menghilangkan sebagian dari kita. Maukah kalian menjadi pribadi yang tak lagi utuh, menjalani hidup dengan kesadaran ada bagian yang sengaja dihilangkan hanya karena bagian itu tidak sedap untuk menjadi bagian dari ingatan?

“Aku tidak menyesal karena telah menapaki jalan itu. Hanya saja, jalan itu sekarang menuju ketidakbenaran bagi orang yang sebenarnya tidak ikut bersamaku meniti jalan itu. Dia tidak pernah melalui jalan itu, tapi kini dialah yang harus melanjutkan jalan yang lalu pernah kutapaki.”

Di luar, hujan semakin lebat. Angin bertiup cukup kencang. Titik-titik air yang menerpa dinding kaca semakin kencang. Suaranya bergemuruh. Menyesakkan ruang. Ditambah dengan kepanikan orang-orang di dalamnya, tempat bersantai itu tidak lagi menyajikan keheningan – sesuatu yang menjadi alasan kalian memilih tempat itu untuk bertemu.

Suara-suara khawatir bertebaran di udara. Janji yang sebentar lagi harus ditepati tapi tak mungkin diwujudkan karena cuaca tidak memungkinkan untuk beranjak dari tempat itu. Air yang menggenangi jalan, dan karenanya menghambat laju kendaraan. Bayangkan kelelahan di perjalanan. Sedikitnya waktu untuk beristirahat, sementara esok pagi harus sudah menghadapi kegiatan yang lain.

Segala teror yang mengambang di udara ruang seharusnya menjadi cukup alasan untuk membuat kalian ikut merasa khawatir. Menjadi bagian dari komunitas itu. Tapi, tidak. Satu sibuk dengan pikiran menghalau efek yang mungkin dirasakan orang lain karena jejak yang dia buat. Yang lain sibuk menikmati aroma dan rasa kopi. Perlukah melepas itu semua dan menjadi bagian dari dunia? Kalian tetap bersama. Duduk berhadapan. Sebuah meja bundar menjadi perantara. Di atasnya, dua gelas kopi hitam hangat tersaji – satu gelas di antaranya sudah berpindah ke tangan salah seorang di antara kalian. Segelas kopi hangat tidak hanya memberikan kehangatan ketika diseruput cairan kental di dalamnya, tetapi juga ketika mengangkat wadah itu dengan seluruh telapak tangan menempel di permukaan gelas. Aliran panas mengalir melalui permukaan telapak tangan.

“Seharusnya aku bersamamu dalam perjalanan itu.” Yang sedari tadi asyik menikmati kopi akhirnya berbicara. Ungkapan yang ini mengejutkan orang yang ada di hadapannya. Seketika tersadar dari lamunan. Kedua matanya terbelalak. Sepasang mata yang tidak terlalu besar itu terlihat seperti mau mencuat dari balik kacamata.

“Kau tidak ada dalam perjalanan itu, dan memang tidak terlibat dalam perjalanan itu.”

Sebuah senyum disajikan dari wajah yang setengahnya tertutup gelas kopi. Tidak terlalu jelas, tapi gerak pipi menunjukkan wajah di balik gelas kopi itu tersenyum.

“Masih saja seperti dulu,” balasnya tanpa sedikitpun menurunkan gelas kopi dari depan wajah.

“Maksudnya?” wajah itu semakin terheran. Kepala dijulurkan semakin mendekat ke lawan bicara.

Gelas yang sedari tadi berada di genggaman akhirnya kembali diletakkan di atas meja. Wajah yang tadinya tidak terlihat dengan jelas, kini tampak nyata. Tangannya tak lama diam. Menjurus pada sekotak rokok yang tergelatak tak jauh dari gelas kopi. Sebatang diambil dari dalamnya lalu dinyalakan.

“Kau pernah mengajakku dalam perjalanan itu. Tidak secara terang-terangan, memang, tapi setidaknya aku menangkap harapanmu ketika itu,” jawaban meluncur bersamaan dengan hembusan asap rokok.

Angin yang bertiup kencang mengisi penjuru ruang itu dengan udara dingin. Memutar, tak beranjak ke luar karena dari arah luar terus datang angin dengan hembusan yang lebih kencang. Kekhawatiran orang-orang di dalam ruang mengumpul. Membuat sesak, semakin ditambah dengan asap rokok yang dihembuskan orang-orang di ruang itu.

Dalam kondisi biasa, ruang itu memiliki sirkulasi udara yang bagus. Udara dapat mengalir dengan baik. Dari luar masuk ke dalam ruang untuk kemudian keluar lagi. Berjalan dengan baik. Seberapapun banyak orang yang merokok di dalam ruang, udara tidak akan menjadi sesak. Tapi kini, hujan dan hembusan angin membuat kondisi ruang jauh berbeda. Asap rokok yang seharusnya terbawa keluar mengumpul di dalam ruang. Tapi, walau begitu, orang-orang yang berada di dalamnya tidak punya pilihan yang lebih baik. Diam di antara kepulan asap lebih baik daripada di luar tersiram hujan.

“Benar aku pernah melakukannya?”

“Dulu… dulu sekali. Ketika kau di awal perjalanan.”

“Lalu, kenapa tidak kau ikut serta?”

“Itu jalanmu. Yang kau buat dan tinggalkan adalah tapakmu. Jejak langkahmu. Aku memilih jalanku sendiri.”

Asap yang mengepul dari rokok adalah juga jejak. Jejak dari tembakau kering yang tersulut bara. Asap yang berwarna lebih kuning berarti telah melalui rongga-rongga tubuh manusia. Asap yang berwarna lebih putih berarti langsung mengepul dari tembakau yang terbakar.

Dari tembakau, tersulut bara, menjadi kepulan, berwarna putih, menari-nari di udara, lalu merasuk ke indra penciuman, bersatu dengan udara, lalu menghilang. Dari nyata, menuju samar, sampai kemudian tiada lagi diketahui keberadaannya. “Dapatkah jejak yang kubuat menjadi seperti itu?” tanya seorang dalam hati sambil memperhatikan batang rokok yang menyelip di antara jemari tangan orang yang duduk di hadapnya.

“Jalan itu masih kau tapaki?” tanya meluncur, kembali bersama kepulan asap. Yang ditanya tertegun. Pandangannya kosong. Tidak berani menatap asal suara.

Sebuah hembusan napas panjang dan berat meluncur, menyesaki udara ruang. Asap terus menari dari tembakau yang tersulut bara. “Bagaimana bisa menghapus jika kau masih menapakinya?”

“Jejak itu adalah jejak yang penuh keraguan. Dari awal, aku tidak yakin tiap kali mengangkat kaki untuk membuat langkah yang baru….”

“Jejak yang ragu seharusnya lebih mudah dihapus. Garis yang samar-samar lebih mudah dihilangkan dibanding garis yang tegas,” potong lawan bicara.

“…Aku ragu. Keraguanku membuatku berlama-lama membuat keputusan. Kaki yang sudah kuangkat tidak segera kuletakkan di langkah berikutnya. Kaki yang lain menjadi lebih lama menahan beban. Jejak yang tertinggal pun menjadi lebih dalam, lebih nyata.”

Pohon rindang di luar bergoyang-goyang. Dari balik dinding kaca yang tersiram hujan, tidak terlalu jelas pohon apa itu. Pohon itu hanya seperti bayang-bayang raksasa yang bergoyang-goyang. Mungkin itu pohon beringin yang sudah berusia tua. Dahannya tumbuh subur. Begitu pula dengan akar gantungnya yang menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Angin kencang menggoyang dahan-dahan pohon rimbun itu. Dahan-dahan yang masih muda dan yang terlalu tua tidak kuat bertahan dari terpaan angin. Mereka terlepas dari induk. Terbang bersama hembusan angin lalu jatuh. Sebagian tersangkut di bangunan, sebagian terhampar di tanah, sebagian yang lain ikut terbawa aliran air.

Walau pohon rindang itu tumbuh di tengah kota, di antara gedung-gedung bertingkat, sangat mungkin di antara rerimbun dahannya hidup sekelompok burung. Di tengah cuaca seperti ini, sarang yang dibuat dari rangkaian jerami sepertinya bukanlah tempat yang aman. Terlebih, bagi anak-anak yang baru menetas. Apa yang terjadi pada anak-anak itu jika induk mereka tidak dapat kembali ke sarang, mereka tidak mampu terbang melawan kencangnya angin dan hujan yang begitu lebat? Akankah anak-anak itu meninggal karena kedinginan serta rasa lapar? Kalian berdua yang duduk saling berhadap di dalam ruang sambil menikmati secangkir kopi hangat tidak pernah membenci hujan. Bagi kalian, hujan merupakan saat-saat keintiman tercipta.

“Seandainya kamu ada bersamaku di jalan itu. Seandainya yang melangkah bersamaku itu kamu. Entah apa yang akan terjadi dengan kita seandainya benar-benar kamu yang meninggalkan jejak di sebelah tapakku, aku hanya ingin itu kamu.”

“Sayangnya, bagaimana pun, itu bukan aku.”

Tatapan kalian beradu. Yang satu dengan pandangan tajam, sementara yang lain terbahak-bahak – sambil menikmati sebatang rokok yang baranya sudah hampir pada batas tembakau.

Gelas di atas meja tidak lagi dihiasi asap tipis. Kopi hitam itu sudah dingin. Bahkan, hanya menyisakan ampas dan garis-garis melingkar di sisi dalam gelas. Angin sudah tidak lagi berhembus dengan kencang. Hujan tidak lagi deras. Hanya rintik-rintik. Bau tanah menyeruak. Kalian membuka hidung lebar-lebar. Menghirup bau setelah hujan itu dalam-dalam. Tak cukup kuat aroma itu dicium dari balik dinding kaca. Kalian beranjak, berjalan ke luar ruang. Dari luar ruang, bau itu menyengat. Menyeruak masuk ke dalam hidung. Kalian menyukainya. Kalian merasakan ketenangan yang biasa ditawarkan hujan ketika mereka menghilang.

Di hadapan kalian, sisa-sisa hujan menghampar. Air yang mengenang. Dahan-dahan yang patah. Tanah yang terinjak-injak saat tadi orang-orang panik melarikan diri dari hujan. Di bawah, jejak-jejak memenuhi ruang. Permukaan tanah yang dipenuhi jejak. Ada yang penuh, ada yang sebagian, ada yang terendam air, ada yang mencengkram alas kaki pembuat jejak.

Hujan telah reda.

11-12 Desember 2013

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s