Kacamata

Kacamata-low

”Kalau memang sudah tidak jelas, ya diganti saja,” Risma berkomentar sambil terus membaca buku tebal yang ada di hadapannya. Di depannya, seorang pria duduk, juga sedang membaca. Sebuah meja kayu panjang beralas kaca ada di antara mereka, menjadi tempat bertumpuk buku.

Mereka berada di perpustakaan kampus. Di antara rak yang menyandang ribuan buku, mereka terbenam di dalam ribuan pemikiran yang dihasilkan umat manusia. Dan, mereka sebagian orang yang ingin menorehkan sejarah dengan menghasilkan karya seperti yang sedang mengelilingi mereka.

Pria yang diajak bicara tidak memberikan tanggapan. Masih sibuk dengan buku bersampul kusam. Buku itu diletakkan agak jauh dari mata, coba mengatur jarak yang sesuai dengan kemampuan jarak pandangnya.

Beberapa kali Risma menggelengkan kepalanya. Dalam hati, dia bertanya, “Untuk apa terus menyiksa diri dengan kacamata yang tidak lagi sesuai dengan keperluan?” Berulang kali sindiran seperti yang baru saja keluar dari mulutnya dia sampaikan kepada pria itu. Tapi tetap saja, kacamata itu terus bersandar di atas hidung pria itu.

Kacamata itu menjadi salah satu hal pertama yang diingat Risma dari pria itu. Pria dengan kacamata agak kotak yang gagangnya agak tipis. Risma ingat betul saat pertama mereka bertemu. Juga di perpustakaan itu. Saat itu, mereka bertemu di depan perpustakaan. Di depan pintu, Risma hendak masuk ke dalam perpustakaan sementara sang pria hendak meninggalkan perpustakaan. Tanpa sengaja, mereka bertabrakan. Tumpukan buku yang mereka bawa terjatuh. Keduanya saling meminta maaf atas kejadian itu. Tapi, tidak hanya itu bagi Risma. Ada rasa lain yang timbul dalam hatinya ketika melihat pria yang ditabraknya.

Setelahnya, perpustakaan menjadi tempat pertemuan favorit mereka. Bukan karena ingin bernostalgia dengan kenangan pertemuan pertama mereka. Mereka bukan tipe orang yang sentimentil semacam itu. Kebutuhan yang membuat mereka sering bertemu di perpustakaan.

Kejadian itu lama berlalu. Sudah bertahun-tahun yang lalu. Keduanya, saat itu, masih menjadi mahasiswa. Dan kini, ketika keduanya tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa, perpustakaan masih saja menjadi tempat favorit mereka. Bahkan rumah tempat tinggal mereka seperti menjadi tempat peralihan setelah puas menghabiskan waktu di antara deretan rak buku.

“Bukannya kamu bisa ngajuin kacamata baru, ya, ke kantor?” gugat Risma suatu kali kepada pasangannya. “Mas… kamu bisa, kan, mengajukan kacamata baru?” pinta Risma di kali yang lain. Dan, segala yang diungkapkan Risma berkaitan dengan kacamata baru seperti angin sore yang berhembus di depan wajah pria itu. Berlalu tanpa meninggalkan kesan yang berarti.

Risma bukanlah orang yang suka menuntut. Terlebih, pada pasangan. Dia hanya terganggu dengan kacamata itu. Kedua kacanya sudah rengkah. “Tertindih saat tidur,” begitu jelas pasangannya. Itu pula alasan ketika Risma menanyakan tangkai kacamata yang sudah tidak lurus.

Risma pun sadar mata pasangannya sudah tidak seperti dulu lagi. Sepertinya minus mata pasangannya bertambah, sehingga tiap kali membaca, dia harus mengatur bahan bacaan agak jauh dari matanya – meski sudah mengenakan kacamata. Hal-hal itulah yang mengganggu Risma. Dia hanya ingin pasangannya dapat membaca dengan nyaman.

….

“Di dekat sini ada optik. Aku kenal sama yang punya. Nanti kita mampir ke sana, ya,” Risma merajuk. Pasangannya tetap diam, asyik dengan buku bersampul kusam yang sedang dibacanya. Risma hanya kembali menggelengkan kepala. Sebuah hebusan napas panjang tanpa sengaja keluar dari hidungnya. Cukup keras, karena kemudian pria yang ada di hadapannya mengalihkan pandangan dari buku ke Risma.

“Selama masih bisa dipakai, kenapa harus ganti?” helat pria itu.

Mata Risma menjegil. “Apanya yang bisa dipakai? Kamu harus menjauhkan buku agar bica membaca dengan jelas.” Suara Risma agak tinggi sehingga menarik perhatian orang-orang yang sedang berada di dalam perpustakaan.

“Harus ya bicara kayak begitu?” pria itu bicara dengan intonasi tenang.

“Kenapa? Kamu tidak senang? Merasa terganggu?” nada bicara Risma tetap tinggi. Emosinya semakin tidak dapat dikendalikan. Tubuhnya dicondongkan mengarah ke pria yang ada di depannya. Matanya masih menjegil. Di balik kacamata yang dikenakannya, mata kecil Risma seperti ingin mengubah bentuk menjadi bola tenis.

Sang pria kemudian melepaskan kacamatanya. Mengangkatnya dan memegang kacamata itu di depan wajahnya, di antara pertemuan mata mereka berdua. “Kenapa, sih, selalu mempermasalahkan kacamata ini?”

“Karena kamu keras kepala!” suara Risma semakin tidak terkendali. Petugas perpustakaan pun menghampiri mereka. Menegur, agar mereka tidak mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain. Keduanya terdiam. Sama-sama menghembuskan napas panjang, menahan emosi. Risma dan pasangannya saling bertatap. Mata mereka beradu. Risma mengenakan kacamata, sementara pasangannya tidak. Kacamata yang menjadi muasal perdebatan mereka diletakkan di atas meja, di antara tumpukan buku yang dipinjam pria itu.

“Kita menikah sudah lebih dari tiga tahun. Kita sudah saling mengenal lebih dari sepuluh tahun. Sepanjang masa itu, aku tidak pernah menggugat kamu. Hanya satu, tolong ganti kacamata itu. Aku risih melihatmu harus membaca seperti itu. Itu saja,” suara Risma terdengar desis tapi penuh penekanan.

“Apa yang membuatmu risih?” tanya pria itu, setelah berhasil menguasai emosinya.

“Ya karena kamu harus mengatur jarak setiap kali mau membaca!”

“Hmmm… bukan karena bersama siapa aku membuat kacamata ini?”

“Maksudmu?” Risma mengernyitkan dahinya.

“Kau mulai menggugat kacamata ini setelah aku cerita soal kacamata ini. Bersama siapa aku membuatnya dan alasan aku dulu selalu mengenakan kacamata ini.”

“Ah…. Sudahlah. Aku tak peduli dengan masa lalumu. Terserah kalau memang kamu masih mengenakan kacamata itu karena masih teringat pada wanita itu. Aku tidak peduli. Seperti katamu, kita hidup untuk saat ini dan masa depan. Persetan dengan masa lalu!” suara Risma kembali meninggi. Orang-orang di perpustakaan kembali menengok ke arah mereka. Pria yang ada di depannya mengangkat kedua tangan ke arah orang-orang itu, coba meminta maaf atas kebisingan yang terjadi.

Napas Risma tersengal-sengal, menghembus kasar, mengalir tak beraturan. Matanya tetap menjegil ke arah pasangannya. Penuh emosi. Pasangannya membalas tatapan itu dengan tenang. Sebuah senyum terhampar di wajahnya. Tangan kirinya memainkan kacamata yang tergeletak di atas meja.

“Bukan maksudku membuatmu cemburu atau terus mengenang masa lalu. Tak ada sedikitpun niatan untuk itu,” papar pria itu sambil mencondongkan kepalanya ke arah Risma, “Aku hanya sudah terlalu nyaman dengan kacamata ini.”

Risma mendekatkan kepalanya ke arah pria itu. “Aku tidak cemburu dengan masa lalumu. Tapi kalau kamu mau mencoba, kamu mungkin akan merasa lebih nyaman dengan kacamata yang baru. Itu saja,” bicaranya lebih teratur.

Pria itu menarik tubuhnya. Menyandarkannya ke kursi sambil memegang kacamata yang tadi dia letakkan di atas meja. Sebuah napas panjang dan berat kembali keluar dari hidungnya. Dia seperti kehabisan akal menjelaskan kepada pasangannya.

“Setidaknya kamu coba. Kalau memang nanti kacamata yang baru tidak senyaman yang sekarang, kamu bisa tetap memakai yang sekarang. Atau, kamu hanya perlu mengganti kacanya. Minus dan silindermu sepertinya sudah bertambah,” bujuk Risma.

Pria itu tidak menjawab. Dia hanya memerhatikan kacamata yang sedang dipegangnya.

“Atau memang kamu yang tak ingin melepas kenangan itu? Kamu senang dengan kacamata itu karena dengannya kamu bisa berbagi pandangan dengan wanita itu?” Gugatan Risma kali ini mengganggu kesabaran pasangannya. Mata pria itu yang kini menjegil.

“Maksudmu?” tanya pria itu.

“Ya, kamu menjalani masa depan bersama masa lalu. Bisa, toh. Kamu tidak harus bersama mantan kekasihmu itu untuk tetap berbagi dengannya.”

Pria itu kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Risma. “Aku sudah selesai dengan dia. Bahkan sebelum bertemu denganmu. Jadi, tolong jangan ungkit masalah itu.”

“Siapa yang mengungkit? Kamu, kan, yang tadi mengungkit soal itu? Aku hanya meneruskan omongan kamu,” sikap Risma tenang, mengejek.

Napas pria itu tersengal-sengal. Tatapannya semakin tajam. “Apa maumu?” tanya pria itu tegas kepada Risma, tapi dengan suara yang tidak mengganggu kenyaman orang-orang di perpustakaan.

Risma mendekatkan wajahnya ke pria itu. Menjawab dengan lirih. “Ganti kacamatamu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Aku akan membuangnya dan memesan yang baru untukmu,” kata Risma penuh penekanan. Matanya menatap tajam ke arah mata pria yang ada di depannya.

“Aku tidak mau,” pria itu menjawab dengan tegas.

Risma bangkit dari duduknya. Sebuah buku setebal lebih dari sepuluh centimeter dilemparkan ke arah pria di hadapannya. Keras. Karena kemudian semua orang di perpustakaan terkejut dan memandang mereka. Risma lalu beranjak, berjalan menuju pintu keluar.

Pria itu tidak kalah terkejutnya dengan orang-orang di perpustakaan. Buku tebal yang dilempar ke arahnya mengenai dada. Terasa sesak. Tambah sesak dengan kepergian Risma. Dia lalu bangkit. Berjalan cepat coba menyusul Risma. Di atas meja, buku-buku bertumpuk. Di antaranya, tergeletak kacamata yang kedua kacanya sudah rengkah.

Yogyakarta

6 Oktober 2013

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s