Pri, itu Rahasia

Respect

Dalam kolomnya yang dimuat di Majalah Tempo edisi 23-29 Desember 2013, Todung Mulya Lubis menganggap aksi yang dilakukan oleh Edward Snowden dilandasi sebuah motif: “hak-hak privat” (privacy) tak boleh diintervensi oleh negara atas alasan apa pun. Begitu pentingnya hak-hak privat tersebut sampai bahkan negara yang melindungi dan menjadi tempat berlindung setiap warga negara tidak boleh ikut campur. Bahkan, lembaga hukum seperti halnya Komisi Pemberatasan Korupsi dan Polisi pun tidak dapat sembarang masuk ke dalam ranah privat seseorang. Diperlukan surat hukum sebelum dilakukan tindakan yang menyentuh ranah privat seseorang – dalam bentuk apapun.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, privat memiliki tiga makna, yaitu “pribadi”, “tersendiri”, dan “partikelir”. Dalam kamus Merriam-Webster, privacy pun memiliki beberapa makna. Makna pertama terbagi menjadi beberapa, yaitu “the quality or state of being apart from company or abservation: seclusion”, “freedom from unauthorized intrusion”. Makna kedua adalah “a place of seclusion”. Sementara, makna ketiga adalah “secrecy”, “a private matter: secret”.

Berdasar penjelasan dua kamus tersebut, dapat diketahui “kesendirian” yang dikandung privat. “Kesendirian” bukan dalam arti ditinggal, tetapi untuk tidak diganggu oleh pihak lain. Bahkan, kamus Merriam-Webster sampai harus memasukkan “secrecy” dan “secret” sebagai bagian dari makna privacy. Segitu pentingkah privacy? Melihat makna yang terdapat di kamus, saya dapat menjawabnya dengan “sangat”.

Mau buktinya? Mudah saja.

Beberapa waktu belakangan ini, berdasarkan beberapa survei yang dilakukan, popularitas Presiden SBY di masyarakat Indonesia sangat rendah. Angka yang didapat oleh Pak Presiden jauh di bawah yang didapat Gubernur DKI Jakarta saat ini, Joko Widodo. Artinya, Joko Widodo lebih popular bagi masyarakat Indonesia – walau pada kenyataannya daerah yang dia pimpin hanya sebagian kecil dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun begitu, ketika Edward Snowden mengungkap bantuan yang diberikan pemerintah Australia kepada pemerintah Amerika Serikat dalam upaya menyadap beberapa pejabat pemerintah Indonesia, sontak rakyat Indonesia langsung berang. Padahal, salah satu pejabat yang menjadi korban penyadapan adalah tokoh yang sedang tidak terlalu popular (Presiden SBY). Seberapapun tidak popularnya nama SBY di tengah masyarakat Indonesia, selain karena posisinya sebagai kepala negara, tindakan yang dilakukan kedua pemerintah negara asing tersebut (terutama pemerintah Australia yang terikat perjanjian persahabatan dengan Indonesia) telah membuat marah rakyat negeri ini. Berbagai aksi dilakukan. Mulai dari yang bersifat diplomatis dan legal (penarikan Duta Besar dari Australia) sampai yang bersifat ilegal (serangan peretas ke berbagai jejaring milik Australia).

Begitulah. Siapapun dapat melakukan tindakan di luar batas ketika sisi paling sensitifnya diusik oleh pihak lain – terlebih jika tindakan itu dilakukan tanpa seizin dan sepengetahuan yang bersangkutan. Penyadapan, bagaimanapun dan atas alasan apapun, merupakan tindakan yang mengusik bagian pribadi. Seperti dikemukakan sebelumnya, bahkan penegak hukum harus mendapatkan izin khusus sebelum melakukan penyadapan dan masuk ke dalam ranah pribadi seseorang. Namun jika penyadapan itu dilakukan tanpa izin khusus, pelakunya sudah melakukan perbuatan yang melanggar hukum – bahkan jika itu dilakukan oleh pihak penegak hukum sekalipun.

Merujuk pada makna privacy, kamus Merriam-Webster sampai memasukkan “secercy” dan “secret” sebagai bagian dari makna. Sebagai sesuatu yang “secrecy” dan “secret”, yang dilakukan pihak lain ketika dengan sengaja dan tanpa izin masuk ke ranah privacy merupakan tindak kejahatan. Perbuatan yang dilakukan dapat disetarakan dengan pencurian – karena “mengambil” sesuatu yang bukan haknya.

®

Seminggu yang lalu, saya baru selesai membaca novel terjemahan karya Haruki Murakami, 1Q84. Pada salah satu bagian, terdapat penjelasan mengenai filsuf kelahiran Swis, Carl Jung. (Sebenarnya, agak aneh membaca penjelasan ini, terutama karena penjalasan diberikan oleh seorang pembunuh yang akan menghabisi korbannya.)

Dijelaskan, Carl Jung memiliki sebuah bangunan di kawasan Bollingen. Bangunan ini disebut “menara”. Awalnya, Jung hanya menumpuk batu-batu hingga membentuk suatu bangunan berbentuk silinder. Bangunan ini tidak memiliki ruang, tanpa sekat. Tapi seiring perjalanan waktu, Jung kemudian merasa perlunya dibuat sekat dan ditetapkannya ruang-ruang di dalam bangunan tersebut. Bahkan, Jung kemudian membagi bangunan tersebut menjadi dua lantai.

Kisah Carl Jung dan “menara” miliknya dapat dikatakan merupakan cerminan kehidupan manusia. Pada awalnya, manusia tidak memiliki kebutuhan. Yang dia inginkan hanya sekadarnya. Tapi seiring berjalannya waktu, tuntutan, dan perubahan kesadaran, manusia merasakan adanya kebutuhan. Bukan hanya “sekadarnya”, tapi juga untuk memenuhi kadar yang diinginkan.

Seperti halnya “menara”, manusia (seiring dengan perkembangan kejiwaannya) memilah-milah kehidupannya, membuat sekat-sekat, dan membentuk ruang-ruang. Setiap ruang memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Ruang ini untuk keperluan A, ruang itu untuk tujuan B, ruang di ujung sana digunakan untuk kegiatan D, dan seterusnya. Bayangkan jika sebuah rumah tidak memiliki ruang, tidak dibatasi dengan sekat. Apa yang akan terjadi?

Misal saja rumah itu dihuni oleh keluarga muda yang memiliki seorang anak. Tanpa adanya sekat, si anak dapat melihat kegiatan kedua orangtuanya yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh si anak. Atau, berkas-berkas pekerjaan milik si ayah yang diacak-acak oleh anaknya. Dan lain sebagainya. Sekat sangat diperlukan untuk memilah dan mengkhususkan, agar tidak bercampur dan membuat keadaan menjadi rumit.

Adanya sekat juga memudahkan memilah permasalahan. Misalnya saja, walau terikat dalam hubungan darah, apakah seorang ibu berhak memberi tahu anaknya uang yang ia miliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir bulan? Sekat membuat suatu hal berada di ruang khusus.

Lagipula, berbicara tentang kebiasaan, sejak kecil saya diajarkan (dibiasakan) untuk selalu mengetuk pintu dan mengucap salam sebelum masuk ke dalam sebuah rumah atau ruang. Bukan apa-apa, ini masalah etika saja. Bagaimanapun, ketika kita tahu rumah atau ruang tersebut bukanlah milik kita, kita harus meminta izin dulu untuk masuk ke dalamnya. Kecuali pada saat-saat tertentu, ketika setelah beberapa kali mengetuk dan mengucap salam tapi tidak ada jawaban yang diterima sementara pintu terbuka, balasan harus kita terima sebelum mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah atau ruang tersebut.

Jangankan ketika datang ke rumah orang lain, bahkan di dalam rumah sendiri pun hal tersebut harus dilakukan. Bukankah ketika masuk ke kamar orangtua, kakak, atau adik sekalipun harus mengetuk pintu terlebih dahulu? Dalam hal ini, bukan lagi sekadar ranah hukum yang berlaku – tetapi juga etika.

Yang dilakukan pemerintah Australia adalah bagai tetangga yang songong. Karena rumah mereka berdampingan, dengan seenaknya saja membolongi dinding dan mendengar segala pembicaraan yang seharusnya tidak mereka dengar. Atau setidaknya, pembicaraan yang belum saatnya mereka dengar – karena pertimbangan apapun yang dimiliki pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak harus selalu memberitahukan Australia mengenai apapun – terlebih jika hal tersebut tidak berkaitan dengan Australia. Misalnya saja mengenai permohonan Indra Sjafri yang ingin blusukan untuk mencari bakat-bakat muda di pelosok tanah air. Apakah hal ini perlu diberitahukan kepada Australia? Sekat-sekat diperlukan agar semuanya tertata dengan rapi. Masalah ini berhubungan dengan pihak ini dan hanya kepada pihak ini saja masalah ini disampaikan. Kalaupun ada pihak lain yang diberi tahu mengenai masalah ini, itu tentu sepenuhnya merupakan otoritas yang bersangkutan – mungkin untuk keperluan meminta pendapat atau pertimbangan. Bagaimanapun, pihak luar tidak dapat memaksa pihak yang bersangkutan untuk selalu diberi tahu (apalagi dilibatkan) dalam setiap masalah yang dihadapi.

Hubungan apapun yang terjalin tidak dapat dijadikan alasan. Dalam kerja sama, setiap pihak harus tahu batas yang harus dijaga dan tidak melanggar batas tersebut. Sialnya, itu yang dilakukan oleh pemerintah Australia.

Singkirkan sejenak hubungan persahabatan. Persahabatan, antara siapapun, merupakan hubungan tak kasat. Tidak ada landasan otentik menyangkut hubungan persahabatan. Hubungan ini terjalin atas dasar rasa, yang bersifat tak kasat. Mari pertimbangkan hubungan lain yang memiliki landasan otentik, bahwa Australia dan Indonesia melakukan hubungan kerja sama. Hubungan tersebut tertuang jelas, berlandas hukum, dan sepenuhnya dilakukan dengan sikap waras (tanpa paksaan). Adanya perjanjian hitam di atas putih, yang sah diakui secara hukum, ternyata tidak membuat pemerintah Australia menjaga hak privacy tetangganya. Perjanjian itu hanya dianggap sebagai kertas biasa yang dibubuhi rangkaian kalimat dan terdapat tanda tangan beberapa orang. Itu saja. Kertas itu tidak dianggap sebagai bukti komitmen. Sebuah janji yang akan ditepati sampai pada masa perjanjian berakhir – entah sampai kapanpun itu, bahkan kalau perjanjian itu berlaku seumur hidup.

Perbuatan pemerintah Australia yang membantu penyadapan menunjukkan sikap mereka yang hipokrit, tidak dapat dipercaya. Bahkan dengan perjanjian yang berlandaskan hukum, mereka tetap melakukan tindakan yang melukai pemerintah dan masyarakat Indonesia. Tidak salah jika kemudian pemerintah dan masyarakat Indonesia pun memberikan reaksi. Walaupun reaksi yang diberikan bersifat negatif, itu merupakan hal yang wajar. Karena, apakah pantas menghormati pihak yang tidak lagi menghormati kita? Bahkan dengan perjanjian yang dibuat atas kesepakatan bersama, tetap saja melakukan hal-hal yang melanggar perjanjian? Terlebih, hal-hal tersebut dilakukan secara sadar dan sengaja?

Sederhana saja, saya pribadi percaya pada kodrat “me-“ dan “di-”. Antara aktif dan pasif. Subjek dan objek. Prinsip yang sangat sederhana, tapi sangat sulit dilakukan. Intinya sederhana, jika tidak ingin disakiti, jangan menyakiti. Atau dalam kasus ini, jika ingin dihormati, hormatilah pihak lain.

Sekian.

Tabik.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s