Jembatan

Courtesy of The Guardian
Courtesy of The Guardian

Jembatan penghubung jalan raya dengan pemukiman warga itu berdiri tegak. Usianya sudah cukup tua. Beberapa bagian sudah berlubang termakan air hujan dan waktu. Pagar besi di sisi-sisinya sudah banyak yang keropos.

Pada pagi hari, jembatan itu ramai dilalui warga. Orang-orang melintas di atasnya. Pergi bekerja, ke pasar, atau ke sekolah. Tapi ketika malam menjelang, jembatan itu seperti bangunan tua yang terlalu rapuh untuk disentuh. Karya seni yang terlarang untuk dijamah.

J

“Kamu yang ambil,” ucap salah seorang anak dengan nada agak tinggi.

“Kamu aja.”

“Kan, kamu yang nendang, jadi kamu yang harus ngambil,” anak yang tadi semakin mendesak.

“Iya. Kamu yang nendang. Kamu yang harus ngambil,” anak yang lain ikut bicara.

“Cepetan ambil!” yang lain pun ikut mendesak. Sementara, anak yang didesak hanya berdiri, diam menatap bola yang lajunya berhenti di dekat tiang jembatan. Wajahnya terlihat lesu. Tubuhnya bergerak dengan ragu.

“Siapa, sih, yang ngusulin bikin gawang di sini? Kan, biasanya juga bikin gawang di sebelah sana,” anak yang didesak coba membela diri sambil menunjuk sisi lapangan yang dekat dengan sungai.

“Dia,” anak yang pertama menunjuk temannya yang berdiri di ujung lain lapangan.

“Ya, dia, dong, yang harus ambil. Ini, kan, idenya dia,” anak itu coba mengalihkan tanggung jawab.

Anak yang tadi berdiri diam pun tak terima jika dia yang harus bertanggung jawab. “Kok, aku? Kalau gawangnya di situ, terus bolanya nyebur ke sungai gimana? Siapa yang mau ambil? Andi enggak ada hari ini. Siapa yang mau berenang?” belanya membabi buta sambil berjalan cepat ke arah teman-temannya di sisi lain lapangan.

“Pokoknya kamu yang harus ambil,” si penendang menunjuk temannya yang berjalan-cepat ke arahnya.

“Kok, aku?”

“Ya, kamu. Kalau enggak ngusulin bikin gawang di sini, bolanya enggak mungkin ke bawah jembatan.”

Anak yang tadi berjalan cepat pun mengubah lajunya. Dia berlari, berusaha menyerang teman yang menudingnya sebagai orang yang bersalah. Mereka hampir saja berkelahi. Anak-anak yang lain berusaha keras memisahkan dua temannya yang ingin berkelahi. Keduanya dipisahkan, walau masing-masing masih saling mengumpat.

J

Warga yang tinggal di sekitarnya sudah lupa kapan pastinya jembatan tersebut berdiri. Kapan pertama pemukiman tersebut dihubungkan ke jalan raya melalui sebuah jembatan. Kebanyakan warga baru tinggal di pemukiman tersebut setelah jembatan berdiri. Sementara, beberapa warga yang sudah menempati pemukiman sebelum jembatan dibangun sudah berusia sangat lanjut. Ingatan mereka sudah bercampur dengan kenangan panjang kehidupan.

Yang menyebar dan dipercaya warga adalah cerita-cerita misteri mengenai pembangunan jembatan. Mengenai anak-anak dan orang-orang jalanan yang dijadikan korban ketika jembatan dibangun. Orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, anak-anak yang menggelandang, tubuh mereka dimasukkan ke dalam bahan bangunan. Menjadi bagian dari material yang membangun jembatan.

Beberapa menyebut tubuh-tubuh itu dilemparkan begitu saja, dalam keadaan hidup-hidup, ketika bahan-bahan pembangunan jembatan dimasukkan ke dalam rangka-rangka pembangun jembatan.

Pengecoran jembatan dilakukan pada malam hari. Di antara dentuman mesin-mesin yang memuntahkan bahan bangunan, terdengar jeritan orang-orang tak berdaya. Hanya sesaat, sebelum kemudian tertelan timbunan pasir, semen, dan bahan bangunan lainnya.

Jika pun cerita itu benar, tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah orang-orang tak berdaya yang dikorbankan untuk membangun jembatan. Ada yang bilang tidak lebih dari jumlah jari satu tangan, sementara yang lain bilang jumlahnya lebih dari sepuluh. Bukan jumlah yang menjadi hal penting bagi warga, tapi adanya korban dalam pembangunan jembatan itulah yang menjadi momok bagi warga. Koban-korban yang arwahnya menghantui warga, terutama di malam hari.

J

Hujan yang turun beberapa hari belakangan membuat arus sungai menjadi begitu deras. Anak-anak pun tidak bisa keluar untuk bermain. Tempat tinggal yang dekat dengan aliran sungai membuat para orangtua harus waspada mengawasi anak-anak mereka. Dan ketika cuaca sore itu cerah, anak-anak pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik untuk bermain di luar rumah.

Sebuah bola ditendang, digiring ke arah tepi sungai. Di dekat jembatan, di bagian yang lebih rendah dari jembatan, ada sebuah tanah lapang yang biasa dijadikan arena bermain oleh anak-anak. Mereka, anak-anak itu, membagi dalam dua kelompok. Gawang dibuat dari tumpukan sandal yang mereka pakai dari rumah. Sementara ketika bermain, mereka biarkan kaki telanjang menapak di atas tanah dan menendang bola.

Namun kini, permainan itu harus terhenti. Seorang anak menendang bola dengan sangat keras. Tendangan yang tidak bisa dihalau oleh penjaga gawang tim lawan. Bola meluncur kencang ke arah kolong jembatan dan berhenti di dekat tiang jembatan – di sisi yang gelap tertutup bayangan jembatan.

Sebuah gol, yang hanya dirayakan sesaat sebelum kemudian digantikan dengann kebingungan. Kebingunan yang hampir saja memicu perkelahian di antara dua orang anak – padahal mereka berada di tim yang sama.

“Kita ambil pakai bambu saja,” usul seorang anak ketika suasana kelompok itu sudah mulai tenang.

“Siapa yang pegang bambunya?” balas anak yang lain.

“Ya, yang nendang,” jawab pemberi usul.

“Enak aja. Kalau dia enggak ngusulin bikin gawang di sini, bolanya enggak mungkin ke kolong jembatan,” si penendang kembali membela diri. Ucapan anak itu pun kembali memanaskan suasana. Emosi kembali meninggi. Kedua anak yang tadi berhasil dilerai kembali terlibat dalam adu mulut. Teman-temannya pun kembali sibuk memisahkan mereka.

“Udah-udah!” teriak seorang anak yang badannya paling besar dibanding yang lain. “Kita pegang bambunya bareng-bareng. Coba cari bambu yang panjang.”

Mendengar perintah itu, anak-anak berpencar. Masing-masing bergerak coba mencari bambu yang cukup panjang untuk mengambil bola.

“Tapi, kalau bambu itu ditarik sama hantu terus kita ikut ketarik gimana?” ujar seorang anak penuh ragu, yang menghentikan langkah teman-temannya.

Anak-anak itu pun kembali diam. Merenung. Bingung.

“Kita lempar saja bolanya, biar bergerak ke sebelah sana,” usul anak yang lain sambil menunjuk sisi seberang jembatan.

“Pakai apa?” tanya anak yang lain.

“Hmmm… pakai sendal.”

“Terus, nanti kita pulangnya nyeker?”

“Hmmm….”

“Pakai batu aja.”

J

Cerita misteri pembangunan jembatan diperkuat dengan berbagai kejadian aneh yang dialami warga sekitar. Suatu malam, sepulang kerja, seorang warga hendak pulang melewati jembatan tersebut. Turun dari angkutan umum, warga tersebut melihat sekelompok anak yang sedang bermain di atas jembatan. Mereka berlarian ke sana-ke mari. Sementara, di pagar pembatas, sekelompok orang berkumpul. Ada yang berdiri menyandar, ada pula yang duduk di atas aspal jembatan. Masing-masing dari mereka tidak ada yang berbicara. Pandangan mereka pun tidak saling bertemu. Melihat pemandangan tersebut, warga itu lalu mengubah arah langkahnya. Cerita mengenai misteri pembangunan jembatan yang didengar seketika membuatnya ragu melangkah ke arah jembatan. Dia lebih memilih jalan memutar melalui jembatan yang lain. 

Belum lagi cerita-cerita tentang orang yang hilang secara misterius ketika berjalan di atas jembatan tersebut. Korban-korban tersebut bukanlah warga sekitar, tapi orang-orang yang karena berbagai alasan melintas di atas jembatan tersebut.

Jangan pula bertanya tentang nama-nama atau identitas para korban hilang kepada warga. Mereka akan menggelengkan kepala. Tidak penting siapa yang hilang, anak siapa, istri atau suami siapa, saudara siapa, atau kenapa mereka melintas di atas jembatan tersebut. Yang penting adalah adanya cerita tentang orang yang tiba-tiba menghilang ketika berjalan di atas jembatan.

J

Matahari semakin condong ke barat. Bayang-bayang bangunan semakin panjang. Begitu pula dengan bayangan jembatan itu.

Tanah lapang yang tadi diramaikan sekelompok anak bermain bola sudah lengang. Gawang dadakan yang dibuat dari tumpukan sendal sudah tidak ada lagi. Anak-anak yang berlarian mengejar bola pun sudah kembali ke rumah masing-masing.

Di atas tanah lapang itu, hanya bayangan jembatan yang memenuhi hampir seluruh permukaan lapangan. Sementara, di kolong jembatan, di antara kegelapan dan tiang-tiang jembatan, sebuah bola teronggok. Diam. Tidak ada lagi kaki-kaki kecil yang menendangnya ke sana-ke mari.

Kelapa Dua, Depok

20 April 2013

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s