Cikal

Courtesy of The Guardian
Courtesy of The Guardian

*Untuk seorang teman yang harus belajar arti ikhlas dengan cara yang begitu sulit

Pria itu masih terus sibuk dengan kegiatannya. Di depannya, tergeletak sesosok tubuh wanita. Berambut lurus menutupi pundak, tubuh wanita itu bersimbah darah. Pria itu seakan tidak peduli dengan darah yang menggenangi lantai. Menggenang hingga hampir menutupi lantai ruangan. Dia terlalu sibuk dengan pisaunya. Membelah tubuh wanita itu. Mencari-cari sesuatu dari dalamnya. Menyibak ruang yang tertutup berbagai organ di dalam tubuh wanita.

Di dekatnya, di sudut ruang, seorang wanita lain bersandar lemah ke pintu. Wanita itu tidak berani melihat yang sedang dikerjakan sang pria. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kepalanya ditundukkan di antara kedua kaki yang dilipat di depan tubuhnya.

“Menangis tak akan membuat semuanya kembali.” Si pria terus mencari di antara organ-organ tubuh wanita itu. Entah apa yang dia cari, sepertinya ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya. Sesuatu yang tersembunyi sehingga dia harus menyibak di antara usus, lambung, dan kubangan darah.

Wanita yang bersandar ke daun pintu terus saja menangis. Air matanya menetes ke lantai. Membentuk genangan sendiri. Di sebelahnya, genangan cairan berwarna merah mengalir dengan deras.

“Kecilkan suara tivi,” perintah si pria. Yang diberi perintah tidak ambil peduli. Dia hanya melirik ke arah remote yang ada di dekat kakinya. Remote itu sekarang sudah dikelilingi darah. “Mungkin remote itu sudah rusak,” begitu pikir si wanita tanpa menggerakkan tangannya untuk mengambil remote.

Si pria bangkit. Berjalan agak kesal ke arah wanita yang bersandar ke daun pintu. Diambilnya remote televisi. Dia lalu mematikan siaran televisi. “Percuma menangis. Lebih baik ambil lap dan bantu bersihkan darah,” katanya sambil melemparkan remote ke lantai. Si wanita tetap di posisinya.

Ruang itu tidak terlalu besar. Hanya sebuah kamar kos berukuran tidak lebih dari empat kali empat meter. Darah dari tubuh wanita yang tergelatak di lantai hampir menutupi seluruh permukaan lantai. Di luar, malam terasa sangat sunyi. Tidak ada suara yang terdengar. Hanya terkadang angin menggoyangkan pohon mangga yang berdiri tegap di depan bangunan kost. Sebelumnya, hanya suara televisi yang dinyalakan wanita yang bersandar di daun pintu yang mengisi malam.

Wanita itu tidak kuat dengan keheningan malam. Di depannya, ada pemandangan yang sangat mengguncang. Dia yang selama ini terbenam dalam kesunyian, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan yang begitu mengucak. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang saat itu tersaji di hadapannya.

“Aku tidak ingin kamu menjalani kehidupan yang penuh derita,” begitu kata si pria ketika menyambutnya. Dia tidak tahu maksud perkataan pria itu. Dia pria pertama yang wanita itu lihat. Bertubuh tegap dengan rambut lebat yang menutupi hingga bagian punggung. Pria itu mengenakan jaket kulit berwarna cokelat. Lengan jaketnya disingsihkan hingga ke atas sikut. Kedua tangannya bersimbah darah. Tangan kanan menggenggam pisau, sementara tangan kiri menerombol ke dalam perut. Keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang mengigal. Bergerak lincah di atas perut yang terkoyak. Darah mengalir deras dari ujung pisau tersebut. Wanita itu seketika menyingkir. Menjauh dari tubuh wanita yang tergeletak di atas lantai dan pria yang bersimbah darah. Seketika tubuhnya menjadi lemah. Dia kehilangan tenaga. Semangat yang dirasa selama ini tiba-tiba meredup, hilang entah ke mana.

Menyandarkan tubuh ke daun pintu, dia tidak punya kekuatan untuk menatap kegiatan yang dilakukan pria yang ada di depannya. Perlahan air mata keluar dari kedua matanya. Mengalir melalui pipi dan terjatuh dari wajahnya.

Malam itu terasa sangat sepi. Wanita yang baru saja keluar dari keheningan tidak kuat dengan kesepian malam itu. Dia sudah terbiasa dengan keheningan. Sepanjang yang dia ingat, adalah hening. Hanya saja, sepi malam ini terasa sangat tidak nyaman. Dia tidak mampu menghadapinya. Diambilnya remote televisi dan dinyalakan dengan volume suara yang keras. Seluruh ruang kamar itu terisi dengan suara yang keluar dari televisi. Tapi suara itu mengganggu si pria. Dan ketika pria itu mematikan siaran televisi, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia menangis keras untuk mengusir keheningan malam? Apa yang akan dilakukan pria itu kalau dia menangis keras? Apakah dia akan mengambil remote dan menghilangkan suara tangisnya? Wanita itu merasa menangis keras hanya akan membuatnya berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Dia tidak dapat membayangkan yang akan dilakukan pria itu seandainya dia menangis dengan keras.

Wanita itu mengepalkan jemarinya lalu menyumbat mulutnya. Dia tidak ingin suara tangisnya terdengar jelas oleh pria itu. Cukup samar saja, karena suara samar itu pun sepertinya sudah cukup mengganggu konsentrasi si pria.

“Akhirnya,” suara si pria pelan memecah kesunyian malam. Dia lalu mengambil pisau dan memotong sesuatu dari dalam perut wanita yang tergeletak di lantai. Dari dalam perut itu, terlihat tangan si pria mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti usus. Tampaknya, itulah yang baru saja dia potong dari dalam perut si wanita.

“Kau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal?” tanya si pria sambil menatap wanita yang bersandar di daun pintu. Yang ditanya tidak memberikan reaksi, bahkan sekadar mengangkat kepalanya.

Pria itu lalu berdiri. Dari saku jaketnya, dia mengeluarkan sebungkus rokok, diambil satu batang dari dalamnya lalu dinyalakan. “Setidaknya ucapkanlah salam perpisahan pada wanita yang memberikanmu kehidupan.” Suara si pria melemah. Dia berdiri di samping tubuh wanita yang masih tergeletak di lantai. Menatap tubuh yang bersimbah darah itu seakan dia sedang tidur dalam kedamaian.

Pandangan pria itu pun beralih ke wanita yang bersandar di daun pintu. Dihampirinya wanita itu lalu ditawarkan padanya rokok yang diambil dari saku jaket. “Ambillah, mungkin akan membantumu agar lebih tenang,” tawar pria itu sambil menyodorkan sebungkus rokok yang kemasannya sudah basah oleh darah. Lagi, tidak ada reaksi yang diberikan oleh wanita itu.

Pria itu menghisap dalam-dalam rokoknya lalu mematikannya di lantai. Dia lalu berjalan ke sudut lain ruangan, ke tempat tasnya berada. Dari dalam tas itu, dikeluarkan sebuah kotak kecil. Kotak itu itu berisi jarum dengan beberapa gulung benang. Benang itu tidak berwarna, transparan. Seperti benang yang biasa digunakan oleh para pemancing, hanya saja lebih lembut. Diuraikan benang itu cukup panjang lalu dimasukkan ke lubang jarum. Setelah dirasa panjang benang yang dibutuhkan cukup, dia mengambil pisau dan memotong benang itu lalu berjalan ke arah tubuh wanita yang tergeletak di lantai.

Perlahan benang transparan itu dirajut di perut wanita. Gerakan tangannya begitu luwes. Sangat hati-hati tapi tegas. Direkatkannya kulit perut yang tadi dia buka hingga menyatu kembali, persis seperti keadaan semula. Di akhir, dia membuat simpul yang sangat kuat, agar rajutan yang dia buat tidak terlepas sebelum waktunya. Setelahnya, dia mengembalikan jarum dan benang ke dalam kotak kecil lalu memasukkan kembali kotak itu ke dalam tas. Dia lalu mengambil pisau yang masih bersimbah darah. Pisau itu dia bersihkan dengan kaus yang dia kenakan. Hanya seadanya, sekadar agar darah tidak lagi menetes darinya lalu pisau itu juga dimasukkan ke dalam tas.

Pria itu merapikan dirinya. Mengelap kedua tangannya, juga, menggunakan kaus yang dia kenakan. Merapikan rambut seadanya lalu menghampiri wanita yang bersandar ke daun pintu. “Kita berangkat,” ajaknya sambil menyodorkan tangan kiri, menawarkan bantuan agar wanita itu dapat berdiri. Yang diajak bicara tak memberikan respon. Pria itu lalu jongkok di depan wanita itu. “Tak perlu bersedih. Dia juga akan merasa kehilangan, sepertimu. Ikutlah denganku. Tugasmu bukan di sini. Kita siapkan tempat terbaik untuknya,” suara pria itu meyakinkan wanita yang masih saja duduk bersandar.

Pria itu lalu berdiri sambil menarik tubuh wanita itu, agar ikut berdiri. Tidak lama, pintu kamar dibuka. Mereka berlalu. Berjalan di antara keheningan malam. Meninggalkan tubuh wanita yang terbaring di lantai. Di sekelilingnya, darah menggenangi lantai.

Tangerang

30 September 2013

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s