Di Dalam Transjakarta

Courtesy of The Guardian
Courtesy of The Guardian

Kau tahu, aku baru saja mengalami kejadian yang aneh. Aku mengalaminya ketika berada di dalam Bus Transjakarta. Dari kantor, aku dalam perjalanan menuju rumah. Aku duduk di bangku yang ada di bagian agak depan. Bus terisi cukup penuh. Semua kursi terisi, bahkan beberapa orang harus berdiri.

Semua terlihat seperti biasa. Para penumpang naik dari shelter. Satu per satu mengisi setiap ruang kosong yang ada di dalam bus. Hanya saja, dalam perjalanan, aku tertidur. Maklum, semalam aku kurang tidur dan cukup banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Karenanya, tak berapa lama bus meninggalkan terminal, mataku sudah terpejam.

Tidak terlalu lama aku tertidur. Kau mungkin masih ingat, aku tidak biasa dan tidak terbiasa tidur di dalam bus. Karenanya, belum setengah perjalanan, aku pun sudah terbangun.

Saat terbangun, aku layangkan pandanganku ke seluruh penjuru bus – sambil coba mengumpulkan semua kesadaranku. Beberapa sudut masih dapat kukenali. Seorang gadis cantik berkaus hitam masih duduk di bangku yang menghadapku. Masih juga seperti tadi, dia mengelak saat pandangan kami bertemu. Di sebelahku, seorang wanita yang mungkin usianya sekitar 40-an tahun.

Namun, ada beberapa orang yang tadi tidak aku lihat sebelum aku tertidur. Pastinya mereka naik di shelter yang dilewati ketika aku tertidur.

Posisi bangku di Bus Transjakarta memunggungi jendela. Karenanya, sulit untuk memandang keluar – seperti yang biasa kulakukan saat di dalam bus lainnya atau kereta. Sementara, kesadaranku telah kembali sepenuhnya dan penglihatanku sudah tidak kabur lagi. Sekali lagi, aku perhatikan setiap sudut dalam bus.

Dan kau tahu, sudut pertama yang kuperhatikan, lagi dan lagi, adalah gadis yang duduk menghadapku. Kuperhatikan dia. Cukup lama untuk membuat dia beberapa kali mengalihkan pandangannya ketika dia sadar aku sedang memperhatikannya.

Aku jatuh cinta padanya? Hmmm…. Dia gadis yang cantik, aku sudah bilang tadi. Tapi, aku masih seperti orang yang kau kenal. Tidak mudah bagiku untuk jatuh cinta dan kau sangat tahu itu. Aku hanya senang menggodanya. Memperhatikannya dan membuatnya merasa serba salah ketika tahu ada orang yang sedang memperhatikannya. Sama seperti kau dulu, ketika kita baru saling mengenal.

Lalu, setelah cukup lama, satu hal yang aku sadari. Ada sesuatu yang aneh pada wajahnya. Lampu di dalam bus menyala temaram. Supir biasa mengaturnya seperti itu ketika bus meninggalkan terminal – terutama di malam hari. Dan dengan kondisi pencahayaan seperti itu, wajah gadis itu memendarkan cahaya. Ya, ada cahaya yang memancar dari wajahnya.

Pada suatu kesempatan, gadis itu berani menantang tatapanku, sehingga aku punya cukup kesempatan untuk memperhatikan wajahnya dengan cukup jelas. Ya, cahaya itu berasal dari wajahnya. Seperti kunang-kunang, dia menghasilkan cahaya. Ah, kau tahu, hmm… mungkin agak berlebihan dan mungkin kau akan menertawakanku. Sempat terpikir bahwa gadis itu adalah bidadari. Dengan kecantikan dan cahaya yang terpancar dari wajahnya, aku punya cukup alasan untuk berpikir seperti itu dan aku harap kau tidak cemburu – kecuali dia tidak memiliki sepasang sayap seperti penggambaran sosok bidadari yang selama ini kita kenal.

Tapi ternyata, bukan hanya gadis itu yang wajahnya memancarkan cahaya. Wanita yang duduk di sampingku pun demikian. Dan setelah kuperhatikan seluruh isi dalam bus, semua penumpang lain yang ada di dalam bus juga seperti itu. Wajah mereka memancarkan cahaya. Tidak terlalu terang, tapi cukup membuat wajah mereka terlihat jelas di tengah temaramnya cahaya dalam bus.

Untuk sesaat, aku panik. Apakah aku masih tertidur dan ini adalah mimpi dalam tidurku? Mungkin karena aku terlalu lelah sampai imaginasiku menghasilkan gambaran yang begitu aneh seperti ini? Dan, ya, kugerakkan kedua tanganku perlahan. Masing-masing saling mencubit lengan sisi yang lain. Aku masih merasakan sakit dan itu pertanda aku tidak sedang bermimpi – mungkin, ataukah mimpiku begitu nyata sehingga aku bahkan sampai bisa merasakan sakitnya dicubit?

Atau, kemungkinan yang terburuk, bus yang aku naiki mengalami kecelakaan dan aku menjadi salah satu korban yang meninggal. Dan kini, bus ini sedang mengantar kami menuju alam keabadian. Tapi, sepertinya tidak. Kau membaca surat ini, kan? Karenanya, aku sepertinya belum mati.

Lalu, apa yang sedang aku alami?

Beberapa saat kemudian, kuberanikan bertanya pada wanita yang duduk di sebelahku.

“Maaf…” tegurku pelan. Wanita itu bergeming. Dia tidak bereaksi. Mungkin suaraku terlalu pelan sehingga dia tidak menyadarinya. Kuulangi lagi kata yang sama dengan suara yang lebih keras.

“Maaf…” dan kembali dia masih bergeming.

Mungkinkah aku harus berteriak dan mengagetkan semua orang yang ada di dalam bus? Apa yang akan dipikir gadis di depanku kalau aku melakukannya? Tidak. Aku tidak mau mempermalukan diriku seperti itu. Kucoba mengulangi beberapa kali menyapa wanita itu, sampai kemudian aku menyadari kalau ternyata kuping wanita itu tertutup.

Pasa suatu saat, bus melintas di jalan yang agak bergelombang. Bus berguncang dan rambut wanita itu mengambang di udara. Pada saat itu, aku bisa melihat telinganya dengan cukup jelas. Tidak ada lubang di sana. Kupingnya tertutup rapat. Atau, sesuatu yang seharusnya kuping dan memiliki lubang yang ada di kepala wanita itu. Pantas saja dia tidak mendengar.

Seketika, kembali kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru isi bus. Apakah semua orang seperti itu. Apakah telinga mereka juga tertutup rapat? Haruskah aku mengeceknya satu per satu? Mendekati mereka lalu memerhatikan telinga mereka? Bagaimana kalau aku coba memeriksa telinga gadis yang kembali menjadi objek utama di mataku? Hahaha…. Aku tahu kau masih memiliki rasa cemburu itu.

Aku tidak tahu apakah telinga mereka juga tertutup rapat. Tapi, satu hal yang kemudian aku sadari, sejak pertama aku duduk di dalam bus ini, aku tidak melihat ada seorang pun dari mereka yang berbicara.

Walaupun biasanya aku merasa terganggu jika ada orang terlalu berisik di dalam bus, kali ini aku sangat terganggu dengan kesunyian ini. Entah kenapa, aku sangat berharap mereka membuat kegaduhan. Mereka saling berbicara. Biarkan telingaku disesaki suara-suara dari mulut mereka. Mungkin itu lebih baik daripada aku terus merasa tertekan dengan kesunyian ini.

Hal lain yang kemudian aku sadari adalah kedua jempol tangan mereka yang selalu menari di atas sebuah kotak kecil yang selalu ada di dalam genggaman mereka. Entah apa yang mereka tekan, tapi mereka melakukannya setiap saat. Jari jempol itu seakan menari. Pandangan mereka pun selalu tertuju pada kotak kecil itu.

Kadang mereka tertawa, kadang mereka tersenyum, tapi ada pula yang menunjukkan wajah sedih pada kotak kecil tersebut. Dan dengan cahaya yang keluar dari wajah di tengah lampu temaram di dalam bus, semua ekspresi mereka terlihat dengan jelas. Ya, mereka seperti manusia yang kukenal. Seperti aku dan kamu. Aku yakin itu. Hanya saja, aku tidak tahu cara untuk berkomunikasi mereka. Telinga mereka tertutup dan mulut mereka tak pernah terbuka. Bagaimana caranya agar bisa berinteraksi dengan mereka? Mendengar dan berbicara merupakan komunikasi yang selama ini aku kenal. Dan jika tidak bisa dengan cara itu, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Җ

Kau tahu perasaanku saat menuliskan surat ini padamu? Aku seorang pecundang. Ya, pecundang. Kau tahu kan arti kata itu.

P E C U N D A N G. Iya, aku ini.

Mungkin kau masih ingat tentang perjalanan yang aku ingin lakukan. Aku ingin mengunjungi semua daerah yang ada di negara ini. Berbicara dengan penduduk yang mendiami suatu daerah. Coba mengenal mereka. Ya, aku ingin mengenal negaraku. Aku ingin mengenal setiap suku di negaraku. Dan, kejadian yang aku alami di dalam bus membuktikan bahwa aku adalah seorang pencundang. Jangankan mengenal setiap suku yang ada di negara ini – dengan melakukan sebuah perjalanan panjang. Berkomunikasi dengan orang dari berbagai latar belakang. Itu terlalu jauh bagiku. Khayalan yang sangat tinggi.

Bahkan, di dalam bus, di kota yang sudah aku tinggali hampir seumur hidupku, aku tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Di kota ini, kota yang seharusnya sudah sangat aku kenal. Setiap hari aku bersentuhan dengannya. Tapi ternyata, aku tidak bisa berkomunikasi dengan mereka.

Entah apa yang selama ini aku lakukan. Apakah aku terlalu asyik dengan semua khayalanku sehingga aku lupa untuk berkomunikasi dengan sesama sampai akhirnya aku jauh tertinggal oleh mereka dan tidak lagi dapat mengenali, berkomunikasi, dan memahami mereka?

Kau tentu tahu aku sangat senang berkhayal. Aku berkhayal tentang masa depan. Tentang perjalanan yang akan aku lakukan. Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Bertemu dengan orang-orang baru. Berbicara dengan mereka. Saling bertukar cerita. Mendengarkan kisah mereka. Menikmati setiap pengalaman baru. Sungguh indah.

Kita bahkan pernah berbagi khayalan. Kau tidak ingin aku melakukan perjalanan sendiri. Kau ingin ada di sampingku dalam perjalanan itu. Kita berdua melakukan perjalanan bersama.

Atau, tentang sebuah mobil minibus yang kau impikan. Kita menikah, memiliki anak, dan melakukan perjalanan bersama. Dengan sebuah minibus, kita bisa pergi ke manapun yang kita inginkan. Tak perlu khawatir dengan tempat menginap, karena bagian belakang minibus itu telah kita ubah menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Dan, satu lagi. Aku masih ingat tentang keinginanmu memiliki sebuah rumah. Tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk kita dan anak-anak kita. Sebuah rumah mungil dengan halaman yang luas – baik di bagian depan maupun di bagian belakang. Kau bisa menanam bunga-bunga yang kau sayangi di bagian belakang. Membuat tamanmu sendiri di sana. Juga masih ada cukup ruang untuk kita bermain bersama anak-anak, atau menikmati piknik bersama di halaman belakang.

Ya, kita pernah berbagi impian. Kau dan aku memiliki impian yang sama. Tapi sayang, kita tidak akan pernah bisa mewujudkan impian itu. Semoga kau bisa mewujudkan impianmu bersama lelaki yang sekarang menjadi pendampingmu. Dan, aku. Aku akan tetap bermimpi. Tak peduli apakah ada satu atau beberapa dari impianku itu yang akan terwujud. Aku tak ambil pusing. Aku hanya ingin terus bermimpi. Terus berangan. Terus berkhayal. Tentang apapun. Karena, hanya itulah yang tetap membuatku bahagia.

Ada orang yang berusaha keras mewujudkan impiannnya, tapi aku tidak. Aku tidak ingin kehilangan semua impianku. Hanya mereka yang aku punya dan aku tidak akan mungkin melepaskan mereka begitu saja. Impian adalah segalanya bagiku.

Oh, ya. Aku terlalu bersemangat bercerita sampai lupa bertanya tentang kabarmu. Maaf.

Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darimu. Sudah lama pula aku tidak menulis surat untukmu. Aku harap kau masih mau membaca ceritaku.

Aku menuliskan cerita ini begitu tiba di rumah. Ketika bus tiba di pemberhentian terakhir dan pintunya terbuka, aku langsung bergegas meninggalkannya. Aku berlari agar bisa secepat mungkin tiba di rumah. Entah kenapa, yang ada di kepalaku saat itu adalah hanya ingin bercerita padamu. Sebenarnya, aku ingin mengungkapkan semua ini secara lisan, langsung di hadapanmu. Tapi, aku sadar itu tidak mungkin. Karenanya, aku langsung menyalakan laptop ketika tiba di rumah dan mulai menuliskan cerita ini. Untukmu, ya, hanya kepadamu aku bisa menceritakan segalanya.

Aku masih ingat wajahmu ketika dulu kau membaca semua cerita-ceritaku. Kau tersenyum. Mungkin kau tidak terlalu suka dengan cerita-cerita itu, tapi kau tetap tersenyum dan aku sangat menyukai senyummu.

Sekali lagi, aku harap kau masih mau membaca ceritaku kali ini. Bacalah ketika kau tidak sedang sibuk. Tak perlu membalas karena dari dulu pun aku tidak mengharapkannya.

Semoga kau baik-baik saja dan semua impianmu bisa terwujud. Salam.

 

Tangerang-Lebak Bulus

25 September-3 Oktober 2011

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s