Telanjang tapi Tak Tertantang

Di Kompas, 24 November 2013, Bre Redana membuka tulisan kolomnya dengan pengalaman yang selalu dia rasakan ketika pulang kampung. Di kolom tersebut, ada kalimat “Seandainya berpapasan di mal, mereka di depan hidung saya telanjang sekalipun, saya tak akan mengenali.”

Cukup mudah untuk memahami kalimat itu. Dalam bahasa Indonesia, ada istilah khusus untuk bentuk bahasa seperti itu – yang saya lupa namanya. Bentuk itu sudah biasa digunakan oleh penutur bahasa Indonesia – karenanya diberikan istilah khusus. Jadi, bukan sesuatu yang aneh.

Namun, karena saya ini orang iseng ditambah saat ini sedang menjadi bagian dari permasalahan sosial di negara ini (pengangguran), saya tidak bisa diam begitu saja. Jiwa usil saya mengusili saya. *Halah….

Coba perhatikan kembali kutipan tadi. Merasa ada yang aneh? Kalau saya, sih, iya. Dua hal, bahkan. Yang pertama, “mereka di depan hidung saya”. Bagi saya, ini seperti peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Semut di seberang laut terlihat.”

Sederhana saja, untuk dapat menangkap penampakan suatu objek, mata memerlukan cahaya dan ruang. Bayangkan kalau objek yang dilihat (dan dalam hal ini adalah seekor gajah yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuh manusia) berada di pelupuk mata. Apa iya akan terlihat? Enggak mungkinlah. Tercium iya. Tapi terlihat, itu tidak mungkin. Yang kemudian membuat saya berpikir, “mungkin sifat kaum @l4y yang L384y sudah diturunkan oleh nenek moyang kita.” Karena pada dasarnya, analogi yang diberikan tidak harus ‘seperti itu’.

Kembali ke tulisan Bre Redana. Objek yang berada di depan hidung pun kurang lebih seperti itu. Berdasar keterangan dari kalimat sebelumnya, “mereka” yang dimaksud pada kalimat ini adalah artis-artis sinetron. Intinya, manusia. Walau objek yang dimaksud dalam pernyataan ini tidak sedekat gajah dalam perubahasa (pun ukurannya tidak sebesar binatang berbelalai itu), tetap saja. Jika ada seseorang yang berdiri di depan hidung (membayangkan hal ini pun sudah sulit), apa Anda bisa mengenalinya? Saya, kok, enggak yakin ya. Sama sekali. Mungkinkah Bre Redana memiliki gen dari nenek moyang yang sangat kuat, karena analogi yang dia buat, kok, mirip-mirip ya dengan analogi yang dibuat nenek moyang ketika menyusun peribahasa (a.k.a. L384y)?

Kemudian, yang kedua adalah “telanjang sekalipun, saya tidak akan mengenali.”

Saya mengenali orang-orang di sekitar saya dalam wujud (penampakan) mereka sehari-hari. Saya masih ingat ketika pertama kali melihat keponakan saya mengenakan seragam sekolah. Selain kenyataan bahwa dia sudah semakin besar, juga rasa pangling. Saya terbiasa melihat dia mengenakan pakaian biasa. Dan ketika melihatnya mengenakan seragam sekolah, saya pangling. Hampir tidak mengenali. Tapi, apakah rasa pangling (hampir tidak mengenali) itu sama seperti yang dialami Bre Redana?

Beberapa tayangan yang hampir rutin saya ikuti adalah Lensa Olahraga di

ANTV dan Indonesia

Morning Show di NET. Alasannya? Sederhana saja. Franda untuk yang pertama dan Marisa untuk yang kedua. Saya terbiasa melihat Franda dengan busana yang berhubungan dengan sepakbola, sementara Marisa hampir selalu mengenakan pakaian formal yang rapi dan membuatnya terlihat anggun. Lalu, ini sekadar khayalan, jika suatu saat saya melihat mereka dalam kondisi telanjang, apakah saya pasti menenali mereka? Apakah aneh jika saya tidak mengenali mereka padahal hampir setiap hari saya melihat wajah mereka di layar televisi?

Tidak juga. Ya seperti kasus keponakan saya tadi, saya terbiasa melihat mereka dalam ‘suatu gaya penampilan’. ‘Gaya penampilan’ itu yang menjadi identitas mereka, setidaknya bagi saya. Dan ketika mereka tidak lagi mengenakan ‘gaya identitas’ itu, melepaskan identitas, saya akan sulit mengenali mereka. Saya akan pangling. Butuh waktu untuk beradaptasi.

Itu kasus untuk orang yang sudah terbiasa, mengenal. Keadaan semakin bertambah parah untuk kasus Bre Redana, karena dia tidak mengenal artis-artis sinetron yang dimaksud. Jadi, bagaimana bisa mengenali, wong tahu saja tidak. Tapi, kok, saya jadi terpikir suatu hal, ya. Sebuah pertanyaan tepatnya. Memangnya Bre Redana biasanya mengenal seseorang dalam keadaan telanjang, ya, kok sampai “telanjang sekalipun, saya tak akan mengenali”? Hehehe….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s