Gigi yang Kurang Waras

Pengrajin-Gamelan

Sekitar satu bulan belakangan ini, saya bermasalah dengan gigi. Bahkan, saat mengetik tulisan ini, salah satu gigi saya sedang coba mencari perhatian. Penyebabnya? Biasalah. Akumulasi kemalasan di masa lalu (hingga saat ini) plus tidak pernah memeriksa gigi ke dokter (kecuali ketika sudah benar-benar bermasalah). Hasilnya, ya, beberapa gigi harus dicabut dari tempatnya di gusi dan beberapa menunggu untuk menyusul. Yang paling bermasalah belakangan ini adalah sebuah gigi di bagian kiri atas.

Saya baru sadar kalau ternyata gigi ini sudah berlubah ketika rasa sakit yang sangat dahsyat menjangkiti. Kondisinya kini tidak menjadi lebih baik. Walau rasa sakit sudah agak teratasi, gigi ini goyang dan hampir tidak mungkin digunakan untuk mengunyah makanan, terlebih pada jenis makanan yang keras atau alot.

Rasa sakit. Ya, itu dia. Ketika kondisi gigi masih baik-baik saja, saya bertanya-tanya kenapa orang yang sedang sakit gigi bisa berubah menjadi monster, penuh emosi. Dan belakangan ini, saya mendapatkan jawabannya – dengan cara yang sangat menyakitkan. Rasa sakit yang timbul karena gigi berlubang ini sungguh luar biasa – dahsyat. Saking dahsyatnya, saya sampai harus mengkonsumsi dua butir pil pereda nyeri 500 mg. Itupun sebenarnya belum membuat saya terlepas dari derita sakit gigi. Baru setelah ‘dibantu’ antibiotik, rasa nyeri itu perlahan menghilang.

Satu hal yang saya ingat ketika rasa nyeri yang luar biasa itu menyerang adalah timbul pemikiran bahwa suatu saat, jika kondisi gigi saya tidak kunjung membaik, saya akan kehilangan kesadaran. Bukan meninggal, tapi lebih pada kehilangan kewarasan – singkatnya gila. Jangan dulu berpikir kalau saya berlebihan.

Rasa sakit karena gigi berlubang itu sangat luar biasa. Dan, dari yang saya tahu, bagian gigi sangat berkaitan dengan syaraf-syarat di otak. Karenanya, dengan rasa nyeri yang sangat luar biasa, saya berpikir suatu saat itu akan berpengaruh pada syaraf-syaraf saya di otak. Dan sepertinya, memang itulah yang terjadi.

Saat sedang senggang, saya coba menganalisa kondisi yang sedang saya hadapi. Bukan hanya soal kesehatan gigi yang memang sudah buruk, tapi secara umum. Tentang kehidupan yang sedang saya jalani dan masa depan yang mungkin akan saya hadapi. Jujur saja, bahkan saya pribadi pun berpikir yang sedang saya jalani ini adalah tidak waras. Saya sudah gila. Iya. Benar. Dan pemikiran saya itu dipertegas oleh seorang teman.

Kondisinya seperti ini. Teman ini merupakan orang yang suka mencari konflik dalam hidupnya. Bahkan, di antara teman-teman saya yang lain, teman yang satu inilah yang paling sering terlibat dalam masalah. Lagipula, teman ini hanya tahu sebagian dari konflik yang sedang saya hadapi. Dengan kondisi seperti itu pun, dia berkomentar “drama…”. Pelan saja suaranya, tapi penuh penekanan. Saya tidak terbayang jika dia tahu keseluruhan konflik.

Saya tidak akan membeberkan konflik-konflik itu di sini. Sederhananya, saya coba menetralkan konflik yang saya hadapi dengan menciptakan konflik yang baru. Dan ketika konflik yang baru ini berjalan dengan lancar, saya membuat konflik yang lain sebagai pelarian. Terdengar cukup gila? Kalau belum, fakta yang lainnya adalah saya menikmati semua konflik tersebut. Kecuali nyeri gigi yang sangat tak tertahankan, saya masih bisa tertawa. Bahkan menertawakan semua ini. Kurang waras? Ya, itulah saya saat ini.

Namun, sepertinya saya tidak sendiri. Berbicara dalam konteks yang lebih luas, ternyata ada banyak orang yang kurang waras di negeri ini. Dan, kekurangwarasan itu juga terungkap belakangan ini – dalam rentang waktu yang hampir berbarengan dengan kekurangwarasan yang sama alami.

Contohnya saja ada penegak hukum yang sudah disumpah untuk menegakkan hukum malah tertangkap tangan melanggar hukum. Ya memang, penegak hukum yang melanggar hukum bukanlah hal baru di negeri ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan seperti itu seperti menjadi pemandangan yang sangat biasa dan gelagatnya pun sudah dapat diprediksi. Tapi kali ini, yang melakukan bukanlah penegak hukum jalanan. Kali ini pelakunya adalah penegak hukum tingkat tinggi. Bahkan salah satu yang posisinya berada di hirarki tertinggi. Gila? Pastinya.

Bagaimana mungkin orang yang sangat tahu tentang hukum dan disumpah serta berprofesi sebagai penegak hukum dapat dengan sadar, sengaja, dan malah mencari cara untuk melanggar hukum? Kalau bukan gila, apa namanya? Wong saya saja yang pengetahuan dan pemahamannya tentang hukum sangat minim berusaha semaksimal mungkin menaati hukum. Hehehe…. Sok alim.

Mungkin logikanya harus di balik. Tidak lagi menggunakan logika normal, yang wajar. Justru orang yang paling mengertilah yang tahu cara mengakali. Saya pun teringat pada cerita seseorang di kampus dulu. Alasan dia memilih suatu jurusan di kampus karena ingin merusak sistem bidang yang dipelajarinya. Karena dengan mengetahui sistem suatu bidang, dia akan bisa dengan leluasa dan mudah mengobrak-abrik sistem itu. Semacam viruslah. Dia masuk ke dalam sistem dan baru kemudian melakukan aksinya. Itu pula yang terjadi di negeri ini. Banyak pihak yang justru merusak sistem dari dalam.

Kekurangwarasan yang lain dilakukan oleh pemimpin negeri ini. Entahlah, semakin lama saya merasa Bapak yang satu itu semakin tidak penting dan tidak bisa menempatkan dirinya sebagai kepala negara. Bagaimana mungkin seorang kepala negara menanggapi gosip dalam jumpa pers kenegaraan? Pentingkah gosip itu? Benar tanggapan sebuah surat kabar. Kalau memang Bapak itu pintar, cerdas, dan bijaksana, dia bisa menuntut penyebar gosip dengan dakwaan pencemaraan nama baik. Jika memang itu sekadar gosip, toh oknum yang dimaksud akan dijerat hukum. Dan kalau memang itu bukan sekadar isapan jempol, Bapak harus dengan besar hati mengakui kesalahannya dan menerima ganjaran dari kesalahan yang telah dia lakukan. Tidak perlu menggelar jumpa pers kenegaraan dan dibumbui dengan ungkapan yang hiperbola. “1000 persen”? Sepertinya, sejak Sekolah Dasar, saya diajarkan nilai maksimal adalah 100 persen. Tidak ada seribu bahkan sampai dua ribu. Apakah Bapak tidak ingin popularitasnya tersaingi oleh para pejabat yang melakukan kejahatan apalagi oleh selebrita yang gemar membuat kehebohan karenanya dia pun ikut-ikutan membuat sensasi? Kalau memang begitu, apa kerja tim penasihat? Mengapa Bapak tidak diarahkan untuk melakukan komunikasi yang lebih bijaksana?

Namun pada akhirnya, saya pribadi harus puas dengan kenyataan yang terjadi. Wong saya saja sedang kurang waras, kenapa berharap orang lain untuk menjadi waras? Kalau memang mau semuanya waras, buat dulu diri sendiri waras – dan sepertinya itu sangat sulit dilakukan. Karenanya, saya tidak teralu ambil pusing. Cukup mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu tersenyum dengan lebar – sambil menikmati nyut-nyut gigi saya yang berlubang. Orang gila, mah, bebas.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s