Menikmati Kebodohan

Menikmati Kebodohan

“Bodoh, kok, bangga.” Hmmm… sebuah pengakuan yang mungkin tidak akan dilakukan oleh orang lain. Saya ini orang bodoh. Jujur saja, saya memang bodoh dan sialnya saya bangga (bahkan menikmati) kebodohan saya itu. Aneh? Coba teruskan membaca tulisan ini.

Dalam kamus, bodoh mengandung makna negatif. Tidak ada satu makna dari kata ini yang dapat dirujuk ke nilai positif. Wajar saja jika di kehidupan sehari-hari banyak orang (mungkin hampir semua orang) tidak mau dikatakan bodoh. Apalagi mereka yang merasa sudah mengenyam dunia pendidikan sampai tingkat sarjana, bahkan mungkin lebih dari itu.

Sayangnya, tidak dengan saya. Saya menyadari dan mengaku bodoh. Dan mungkin, selamanya saya ingin menjadi orang bodoh. Saya tidak ingin melepaskan titel ini dari kehidupan saya.

Saat kuliah, saya pernah tertarik pada seorang wanita. Saya bahkan sempat berniat mendekati wanita ini. Maklum, secara fisik, dia sangat menarik. Terlebih, ketertarikan saya pada wanita ini berawal dari perjumpaan di sebuah rapat kegiatan dan saya selalu tertarik pada wanita-wanita yang aktif. Untung saja, saat itu Tuhan masih baik pada saya. Saya menahan diri untuk mendekati wanita ini sambil coba mencari tahu tentang dia.

Seiring waktu, saya mendapatkan banyak informasi mengenai wanita ini. Sederhananya, dia tipikal wanita yang sadar bahwa dirinya cantik dan dengan sengaja memanfaatkan kecantikannya itu untuk mendapatkan yang diinginkan. Salah? Sebenarnya tidak. Kecantikan merupakan berkah yang diberikan oleh Tuhan. Hanya saja, saya memandang otak berada di kasta yang jauh lebih tinggi dari kecantikan. Karenanya, saya akhirnya memutuskan mundur dan melenyapkan rasa suka saya pada wanita ini.

*Cerita yang penting banget. Apa hubungannya sama orang bodoh?

Nah, dalam hal ini, saya sama seperti wanita itu. Kami sama-sama memanfaatkan anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Jika dia memanfaatkan kecantikan, saya memanfaatkan kebodohan. Sadar bahwa dirinya cantik dan disukai banyak pria, dia meminta pertolongan kepada pria-pria ini. Mulai dari jemput-antar, membawakan barang, sampai membelikan sesuatu. Saya pun seperti itu – tapi dalam aplikasi yang berbeda.

Sadar dengan kebodohan yang saya miliki dan orang-orang berpengetahuan yang ada di sekitar saya, saya pun coba mengisi kebodohan itu dengan pengetahuan yang saya dapat dari orang-orang di sekitar saya – juga dari berbagai sumber lain. Cara sederhana: bertanya.

Saya ini orang yang sangat gemar bertanya. Bahkan, beberapa orang menganggap saya terlalu banyak bertanya. Saya tidak akan menghentikan pertanyaan saya jika saya merasa pengetahuan yang saya inginkan belum lengkap. Saya pun senang membaca. Apapun. Mulai dari buku, artikel, koran, majalah, iklan, leaflet, dan sebagainya. Ketika ada orang yang bertanya alasan saya suka membaca: jawabannya ya karena saya bodoh. Kalau pintar, saya tidak perlu lagi membaca.

Sialnya, karena orang-orang di sekitar saya tahu saya gemar membaca, mereka menganggap saya ini orang pintar. Whahahahaha…. Mereka salah besar. Saya ini orang bodoh yang banyak bertanya. Tambah sial karena mereka tahu bahwa pada suatu masa saya pernah menjadi pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Orang yang menjadi pengajar tentu orang yang pintar,” begitu pemikiran standar. Tidak bisa disalahkan. Karena pada kenyataannya, tidak mungkin mengajarkan sesuatu jika tidak tahu mengenai sesuatu yang diajarkan. Begitu, toh.

Yang mereka tidak tahu, yang sebenarnya saya lakukan ketika menjadi pengajar adalah berbagi pengalaman dan berbagi semangat. Sebagai orang bodoh yang sudah sadar kebodohannya sejak lama, saya sudah sangat banyak bertanya, membaca, dan belajar. Hasil dari semua proses itulah yang kemudian saya bagikan di dalam kelas. Lagipula, saat itu, yang terjadi bukanlah proses ‘asupan satu arah’, dari pengajar ke pelajar. Yang saya senang dari menjadi pengajar ketika itu adalah terjadinya proses ‘asupan dua arah’ (timbal balik). Saya membagikan pengalaman yang sudah saya dapat kepada mereka. Sementara, mereka memacu saya untuk bisa berbuat yang lebih baik dari mereka. “Takut dibilang lebih bodoh dari pelajarnya?” Tidak. Bukan itu motivasi saya. Saya memacu diri saya menjadi lebih baik lagi karena saya merasa terpacu dengan semangat belajar para pelajar.

Dikaitkan ke soal agama, bukankah sudah menjadi kewajiban setiap umat manusia di bumi ini untuk saling berbagai, dalam hal apapun? Saya tidak punya harta yang berlimpah, tapi saya punya cukup banyak jawaban dari rentetan pertanyaan yang pernah saya ajukan. Jawaban-jawaban inilah yang kemudian saya bagikan kepada orang-orang yang kebetulan bertanya pada saya. Kalau kemudian ada orang yang bertanya pada saya dan saya tidak dapat menjawabnya, itu suatu berkah. Saya akan semakin tersadar bahwa saya ini orang bodoh dan masih harus terus bertanya, membaca, dan belajar.

Karena semua itulah saya bangga menjadi orang bodoh, menikmati kebodohan saya, dan akan berusaha tetap mempertahankan kebodohan saya ini – kalau bisa sampai habis waktu saya di dunia ini.

Salam.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s