Di Dermaga

Dermaga-dan-Kapal

Untuk S.

 

“Rakit itu tak akan pernah kembali,” katamu sambil tetap menatap rakit yang bergerak menjauh dari dermaga. Beberapa saat lalu, kau yang melepaskan tali pengait rakit ke dermaga.

 

Rakit itu sederhana saja bentuknya. Batang-batang bambu yang dirangkai. Tanpa atap. Tanpa pegangan. Sebuah bambu yang berukuran lebih panjang digunakan sebagai pendorong. Entah siapa yang memilikinya, atau yang membuatnya. Rakit itu sudah bersandar di dekat dermaga ketika kau pertama kali datang di danau itu. Berkali-kali datang, kau tidak pernah melihat ada seorang pun yang menggunakannya. Dia seperti benda yang dibuat untuk kemudian dilupakan oleh si pemiliknya.

 

Kau pernah menaiki rakit itu. Suatu kali, sudah lama sekali. Bersama teman-teman, kalian mendorong rakit itu ke tengah danau. Lajunya perlahan. Kalian tidak terbiasa mengendalikan rakit. Karenanya, cukup kepayahan menjaga keseimbangan rangkaian bambu yang diikat seadanya. Sesekali kalian berteriak ketika posisi rakit miring. Tapi itu tidak mengurungkan niat kalian. Tetap saja melaju perlahan hingga ke tengah danau.

 

Air merembes masuk melalui sela-sela rangkaian bambu. Sepatu kalian basah dan kalian hanya menertawakannya. “Sudah terlambat untuk melepaskannya,” begitu pikir kalian. Dan pagi ini, kau ingin mengulangi kenangan itu. Kau ingin kembali mengarungi danau menggunakan rakit itu. Tapi kali ini, kau sendiri. Tanpa teman-teman yang dulu terbahak menikmati hal yang tak pernah kalian lakukan sebelumnya.

 

Pagi sekali kau tiba di danau. Dari rumah, kau berharap dapat bertemu dengan seseorang. Lebih tepatnya, kau berharap dapat bertemu dengan si pemilik rakit itu. Kau ingin mengarungi danau dengan seorang yang telah terbiasa menggunakan rakit. Yang mampu mengendalikan rakit di tengah hamparan air. Tapi harapanmu tak terwujud. Lama menunggu, tidak seorang pun yang kau temui di danau itu.

 

Matahari semakin tinggi. Beberapa jam sudah berlalu semenjak kau datang ke danau itu. Masih seperti ketika pertama kau datang, hanya kau dan rakit yang terkait ke dermaga di danau itu. Selainnya, tidak ada lagi. Kabut perlahan mulau menutupi permukaan danau.

 

“Tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” pikirmu dalam hati mempertimbangkan kabut yang semakin tebal. Tidak mungkin bagimu mengarungi danau menggunakan rakit di tengah kabut tebal. Kau hanya seorang diri. Tidak punya keahlian mengendalikan rakit. Satu-satunya pengalamanmu menaiki rakit sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Itu pun kau hanya menjadi penumpang yang ketakutan saat rakit bergoyang untuk kemudian terbahak karena teman-temanmu menjadikannya sebagai guyonan. Hanya saja keinginanmu menaiki rakit begitu besar. Tak bisa ditunda apalagi diurungkan.

 

Kau lalu berjalan mendekati dermaga. Dermaga itu sudah cukup tua. Kayu-kayu penyangganya sudah diselimuti kerang dan binatang lainnya. Sekawanan lumut menjuntai darinya. Sementara, papan-papan di atasnya pun tidak lebih baik. Sudah keropos di beberapa bagian.

 

Kau sangat berhati-hati ketika berjalan di atasnya. Langkahmu perlahan, penuh pertimbangan. Kau berhenti sebentar ketika akhirnya tiba di ujung dermaga. Tali pengikat rakit itu tertambat di salah satu tiang. Tanganmu sudah memegang tali itu, tapi kau ragu. Kau mempertanyakan nyalimu, “Apa yang akan terjadi ketika tiba di tengah danau nanti?”

 

Pada akhirnya kau pun melepaskan ikatan tali itu dari tiang dermaga, tentunya setelah kau menyatukan tekad. Tali itu kemudian kau lemparkan ke arah rakit. Rakit itu bergoyang perlahan, sambil bergerak menjauh dari dermaga. Dia terombang-ambing di atas danau. “Rakit terombang di atas danau yang berselimut kabut. Ah, ini tentu momen yang menarik untuk dibagi,” pikirmu sambil kemudian mengeluarkan telefon genggam dari saku celana. Kamu mengabadikan momen itu. Dari atas dermaga. Kau lalu berjalan muncul. Agak menjauh dari dermaga agar mendapat gambar yang lebih lebar.

 

Dermaga tua dan rakit sederhana. Di atas danau yang tertutup kabut. Itukah dirimu saat ini?

 

Kau semakin asyik mengambil gambar. Kau tiba-tiba menjadi seperti seorang fotografer profesional. Mengabil momen-momen yang menurutmu sangat bemakna. Atau, kaulah yang menambahkan makna dalam setiap gambar yang kau rekam?

 

Sementara, rakit bergerak semakin menjauh. Kau tersentak. Lalu berlari kembali ke arah dermaga. Menginjak kayu tua dermaga layaknya dia adalah bangunan baru yang kokoh. Terlambat. Kau hanya berdiri di tepi dermaga. Melihat rakit yang sudah berjarak cukup jauh dari dermaga. Kau tak mungkin lagi dapat menjangkaunya. Kau sadar tidak mampu melompat sejauh itu untuk menjangkau rakit. Lagipula, kalaupun kau mampu melompat sejauh itu, rakit akan terombang-ambing dan kau tetap akan tercebur ke dalam danau.

 

Kau lalu duduk di tepi dermaga. Kembali mengeluarkan telefon genggam dan mengambil gambar rakit. Gambar-gambar itu lalu kau bagi kepada teman-teman yang dulu bersamamu menaiki rakit. Tidak ada balasan dari mereka.

Bangkit lalu berjalan menjauh dari dermaga, kau mengambil sebuah batu. Tidak terlalu besar. Kau pilih yang bentuknya pipih lalu melemparkannya ke tengah danau. Kau melemparnya ke arah rakit. Seperti ingin menjangkau rangkaian bambu yang sekarang terombang-ambing di atas danau, seperti harapanmu yang ingin menaiki rakit itu. Batu itu memantul beberapa kali di atas permukaan air, tapi tidak mampu menjangkaunya.

 

Rakit bergerak semakin jauh dari dermaga, ke tengah danau. Sementara, kau meninggalkannya. Entah apa yang akan terjadi pada rakit itu. Apa si pemiliknya akan mencari ketika datang ke danau itu esok pagi? Kau tidak lagi peduli. Bagimu, pemilik rakit sudah membuat kecewa. Kenapa dia tidak datang pagi ini? Andai dia datang, rakit itu pasti tidak akan terombang-ambing sendiri di tengah danau dan kau pun akan dapat mewujudkan keinginanmu.

 

Kabut semakin tebal. Rakit itu sudah tak terlihat lagi. Kau pun melaju, meninggalkan danau yang hampir sepenuhnya tak terlihat.

 

Tangerang

21 September 2013 

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s