‘Cause We’re only a Human

An-Angel

Dua atau tiga hari yang lalu saya sekilas menonton sebuah acara (kalau tidak salah) di MetroTV. Entah apa nama acara itu. Saya tidak terlalu ingat karena saat itu saya sangat kelelahan dan sudah sangat mengantuk. Yang saya ingat, dari hasil melihat sekilas, acara itu membahas kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta. Yang menjadi sorotan adalah pihak(-pihak) yang tidak ‘menyukai’ gaya kepemimpinan dan kebijakan yang dibuat oleh pria kurus ini. Karena sudah sangat lelah, saya tidak mengikuti dengan seksama acara itu. Saya malah kemudian terlelap dalam tidur.

Pagi harinya, entah kenapa saya teringat pada acara itu. Saya kemudian mengingat berbagai hal yang terjadi sejak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dia dielu-elukan, tapi juga tidak jarang menjadi sasaran kritik. Banyak yang menyukai gaya kepemimpinannya dan mendukung kebijakan yang dibuat. Tapi, juga, tidak sedikit pihak yang memilih menjadi pihak oposisi.

Saya membayangkan para pedagang yang terusir dari tempatnya berjualan selama mungkin puluhan tahun karena pemerintah DKI Jakarta menertibkan pedagang-pedagang yang berjualan di luar lokasi pasar. Para pedagang ini dianggap menjadi salah satu penyebab kemacetan di Ibukota, hanya salah satunya. Selain itu, keberadaannya di luar lokasi pasar yang telah disediakan pun tentunya melanggar hukum. Pihak pemerintah daerah punya hak untuk menertibkan mereka. Hanya saja, di sini berbenturan dengan yang katanya ‘hak’ mencari nafkah.

Hanya berdasar kenyataan telah berjualan di tempat tersebut selama jangka waktu yang cukup lama (bahkan ada yang sampai puluhan tahun) dan ditarik biaya retribusi oleh petugas dari pemerintahan yang sebelumnya, para pedagang ini merasa ‘hak’ mencari nafkah mereka dicabut oleh kebijakan yang dibuat Jokowi untuk menertibkan pasar-pasar di Jakarta. Pasar Minggu dan Tanah Abang menjadi contoh. Siapapun yang sekarang melintasi dua daerah ini akan tersenyum. Kemacetan dan situasi yang sangat ricuh (yang sebelumnya sangat melekat pada keduanya) sudah hilang. Mereka sudah berganti menjadi daerah yang rapi dan teratur – bahkan terkesan lengang.

Merapikan daerah-daerah macet hanya sebagian dari yang telah dilakukan Jokowi bersama wakilnya, Ahok. Masih banyak hal lain yang dilakukannya terhadap Ibukota, yang tentunya tidak terlepas dari kontroversi, pro-kontra.

Mengurus Jakarta bukanlah perkara mudah. Bukan hanya karena berstatus sebagai ibukota negara, tapi juga… ya sudahlah ya… sudah bisa kelihatan dengan jelas, kan?

Mengurus puluhan juta orang bukanlah perkara mudah. Terlebih, statusnya sebagai ibukota negara sekaligus sentra perekonomian nasional membuat ada begitu banyak kepentingan yang meminta untuk diakomodasi di kota ini. Sialnya kepentingan itu bukan hanya timbul dari masyarakat yang tinggal di Jakarta, tapi juga semua orang yang terkait dengan Jakarta.

Sering kali, masing-masing kepentingan saling bertentangan. Mengakomodasi kepentingan yang satu akan merugikan kepentingan yang lain. Ya, seperti kasus penertiban Pasar Minggu dan Tanah Abang tadi. Ada yang senang karena menjadi rapi dan teratur, jalan menjadi lengang, tapi ada juga yang kehilangan lahan berjualan dan tempat langganan.

Namun, sebagai pemimpin, Jokowi tentu sadar betul akan kondisi itu. Kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Kalau memungkinkan, saya yakin Jokowi akan merapikan tempat-tempat tersebut tanpa mengusir para pedagang dari tempat mereka. Tapi, kan, kondisinya tidak memungkinkan.

Kurang lebih satu minggu yang lalu, saya (akhirnya) menonton film The Iron Lady. Film ini mengangkat kisah hidup salah satu pemimpin besar di Inggris Raya. Siapa yang menyangka seorang gadis desa bernama Margaret Thatcher bisa menjadi wanita pertama yang menduduki posisi Perdana Menteri.

Di saat kepemimpinannya, banyak kebijakan yang ‘tidak populer’. Kebijakan yang dia buat dianggap dianggap semakin menyulitkan masyarakat di tengah krisis yang melanda negara itu. Seiring waktu, kondisi di Inggris memulih. Kebijakan yang sebelumnya mendapat kecaman justru berbalik menjadi pujian – ya walaupun tidak semua orang memuji kebijakan tersebut.

Sering kali, membuat pilihan bukanlah perkara yang mudah. Selalu ada pemikiran yang dipertimbangkan. Tidak hanya ada, tapi juga banyak. Terkadang, karena begitu banyaknya pemikiran yang dipertimbangkan, sampai-sampai sudah sangat begitu pusing sebelum pilihan dibuat.

Permasalahannya, dalam setiap keputusan, akan ada dua dampak yang terjadi: positif dan negatif. Jika saya mengecat rambut dengan warna merah, kekasih saya akan semakin sayang tapi saya akan dipecat dari perusahaan. Kalau saya hanya membeli sebutir permen, saya masih memiliki cukup banyak uang, tapi nanti pasti saya akan menyesal setelah permen ini habis sementara saya masih menginginkan permen.

Ya, ibarat kata, seperti dua sisi mata uang. Tidak akan pernah hanya berdampak pada satu hal. Akan ada dampak positif dan negatif dari pilihan yang dibuat. Akan ada pihak yang diuntungkan dari pilihan itu, sementara di sisi lain akan ada yang merasa dirugikan. Itu sudah sangat wajar, menurut saya. Bahkan, karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki manusia, dampak itu dirasakan oleh pihak-pihak yang justru tidak masuk dalam pertimbangan ketika pilihan dibuat.

Nah, ini yang membingungkan. Ketika pilihan dibuat, kadang ada pertimbangan yang terlewatkan. Misal saja, saat akan mengecat rambut, luput memikirkan (mungkin karena sebenarnya tidak tahu mengenainya) bahwa ada seorang teman yang mengalami trauma di masa lalu berkaitan dengan rambut berwarna merah. Dan karenanya, setelah rambut dicat merah, teman ini seketika menjauh dan membenci. Kalau sudah begitu, apakah ini karena salah orang yang mengecat rambut merah?

Mengenai siapa yang mendapatkan dampak negatif dan siapa yang mendapatkan dampak positif, ya itu sepenuhnya terserah pada si pembuat pilihan. Dia tentunya sudah memiliki banyak bahan pertimbangan dalam membuat pilihan. Yang kita bicarakan di sini adalah pilihan yang dibuat oleh orang yang sudah dewasa. Yang sudah mampu mempertimbangkan berbagai hal dengan segala risiko yang mungkin akan dia hadapi dari pilihan yang dibuat.

Sebuah kondisi dilematis adalah bahwa seseorang tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang yang ada di sekitarnya. Dilematis, sekaligus fakta yang sepertinya tidak mungkin dapat disanggah. Setiap manusia memiliki keterbatasan. Ada ruang yang tidak akan pernah bisa ditembusnya. Kedua tangan yang dikaitkan pun tidak akan cukup besar untuk memberikan perlindungan kepada semua orang yang diinginkan – walau sebenarnya sangat ingin melakukannya. Karenanya, pilihan harus dibuat. Bukan untuk membuat kecewa sebagian yang lain tapi untuk memberikan kebaikan kepada yang diingini. Pilihannya adalah melakukan hal positif pada suatu pihak (yang dengannya akan berdampak negatif pada pihak yang lain) atau tidak melakukan apapun (yang sangat mungkin berdampak negatif pada semuanya).

Ada sebuah pepatah Jawa “wong urip iku mung mampi ngombe”. Hidup ini cuma sesaat, sekadar mampir minum. Mungkin di kedai yang ada di pinggir jalan, mungkin pula di sebuah kafe. Nah, pilihan yang dibuat adalah mengenai hal yang ingin dilakukan sembali duduk santai sambil minum itu. Apakah coba berkenalan dengan wanita cantik yang duduk sendiri di sudut ruang? Mencoba menggoda pelayan muda yang mengantarkan kopi? Mengajak teman untuk duduk bersama sambil bertukar cerita? Atau, apa? Semua yang dilakukan tentu akan menimbulkan dampak. Tidak hanya pada si pembuat pilihan, tapi juga orang di sekitar.

Mengajak berkenalan wanita cantik yang duduk sendiri di sudut ruang, misalnya. Mungkin saja ada pria lain di kafe itu yang sebenarnya ingin melakukan hal yang sama. Tapi karena saya sudah melakukannya lebih dulu, pria ini akhirnya mengurungkan niatnya dan menjadi kecewa. Apakah salah saya jika kemudian dia merasa kecewa? Kenapa dia tidak melakukannya lebih dulu dari saya?

Saya yakin tidak ada kebenaran absolut di dunia ini. Tidak ada sesuatu yang benar-benar benar. Kebenaran hanya bersifat subjektif, tergantung dari sudut pandang yang dipilih. Mengajak berkenalan wanita cantik yang duduk sendiri di sudut ruang benar menurut saya. Saya berhak melakukannya. Kalau pun kemudian wanita ini menolak saya, itu hak dia dan saya akan menghormatinya. Di sisi lain, tindakan saya mengajak berkenalan wanita itu dianggap salah karena telah membuat kecewa pria lain yang ada di kafe itu. Pertanyaannya, apakah setiap kecewa selalu karena kesalahan orang lain?

Seperti kasus Jokowi tadi, seandainya dia memiliki pilihan yang lebih baik, menertibkan Jakarta tanpa harus melakukan pengusiran pada para penjual yang sudah bertahun-tahun berjualan di situ, saya yakin dia akan memilih pilihan itu. Kalau saja dia mampu mengakomodir kepentingan masyarakat sehingga semua orang merasa bahagia, dia akan melakukannya. Itu adalah impian yang sangat indah. Sebuah utopia, yang mungkin hanya terjadi di surga – saya tidak tahu bagaimana kondisi di surga. Hanya saja, ini di dunia. Jadi, ya, begitulah. Pilihan sudah dibuat. Yang perlu dilakukan hanya menjalani dan harus siap dengan segala konsekuensi – sambil berharap yang terbaik untuk semua. Amin….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s