Di Tepi Danau

Le-Monde

*Untuk S

Cahaya dari api unggun memantul di wajahmu. Kau hanya duduk, diam. Menatap kobaran api itu seakan ingin menceburkan diri ke dalamnya. Hanya api itu yang menjadi sumber cahaya di antara kita. Duduk di tepi danau, kau sedari tadi lebih banyak terdiam. Tidak seperti biasanya. Kau bukan seperti wanita yang selama ini aku kenal. Yang banyak bicara, bergerak, dan selalu ada canda yang ditawarkan.

Sudah cukup lama kita saling mengenal. Dari dua orang asing, hingga menjadi pribadi yang saling tahu satu sama lain.

Ada banyak cerita yang pernah kita bagi. Ada banyak kejadian yang telah kita lewati. Dan malam ini, kita seperti menjadi dua orang yang dulu. Seperti masa yang pernah kita lewati di masa lalu. Menghabiskan malam bersama. Tapi kali ini, kau lebih banyak merenung – entah apa yang ada di dalam kepalamu.

Pertemuan ini, kau yang mengusulkan. “Ingin mengenang masa-masa lalu,” begitu katamu di telefon tadi pagi. Aku pun tanpa banyak alasan mengiyakannya. Sudah cukup lama kita tak bertemu. Mungkin ada banyak cerita yang akan kita bagi. Dariku, ada banyak kabar yang ingin kusampaikan. Dan akupun yakin ada banyak kisah yang telah kau lalui semenjak terakhir kali kita bertemu. Atau, kisah-kisah yang terjadi di masa sebelumnya yang belum sempat kau ceritakan.

Sepeda motor kupacu laju sore itu. Selesai semua tugas di kantor, aku bergegas menemuimu. Tak sabar ingin merasakan kembali saat-saat bersamamu. Dan, kau sudah ada di sana. Duduk sendiri menatap danau yang sebenarnya tidak terlalu indah. Kita dulu pernah datang ke danau ini. Di suatu pagi, setelah melewatkan waktu satu malam bercerita, kita datang ke danau ini. Bercanda di atas rakit-rakit bambu yang bersandar di tepi danau. Kau melangkah dengan ringan di atas rakit-rakit itu. Sayang, kita hanya punya kenangan di dalam kepala sebagai pengingat. Tidak ada foto atau video yang menjadi bukti saat-saat yang kita lewati.

Rakit-rakit bambu itu sudah tidak ada lagi. Tidak jauh dari tempat kau duduk, ada beberapa rakit bambu besar. Tidak seperti rakit-rakit yang dulu kita pijaki, rakit-rakit itu berukuran besar, dengan atap dari daun rumbia. Deretan lampu warna-warni menghiasi seluruh rakit. Orang-orang asyik menikmati santapan di dalam rakit. Aku pikir, kau mengajakku makan malam di rakit bambu itu. Ternyata tidak, kau memilih sudut yang sepi.

Sebuah senyum kecil kau berikan ketika aku datang. Kau bahkan tidak membuka mulut untuk membalas sapaanku. Di sampingmu, ada setumpuk biji karet. Beberapa di antaranya sudah hancur. Kau rupanya sudah datang dari siang. Sempat mengumpulkan biji karet dari hutan di sekitar danau dan memainkan permainan yang dulu biasa kita mainkan. Dulu, di masa kuliah, kita sering membolos dari kelas. Pergi ke hutan di sekitar kampus, mencari biji karet, dan mengadunya. Bukan hanya kita, juga ikut beberapa teman yang lain. Teman-teman itu tidak ada di sini. Hanya kita, dengan setumpuk biji karet.

“Aku memang benar tolol ketika itu, mau pula membikin hubungan dengan kau; lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu, berujuk kembali dengan tujuan biru,”[1] suara paraumu tiba-tiba memecah malam.

Malam sudah larut ketika akhirnya kau berbicara. Itu ucapan pertama yang keluar dari mulut mungilmu. Udara sudah semakin dingin. Di langit, bintang bersinar. Deretan lampu yang menghiasi rakit-rakit bambu sudah dimatikan. Rakit itu sudah sendiri sekarang. Orang-orang sudah pergi meninggalkannya.

Sepertinya kau tidak puas memberikan kejutan padaku malam ini. Keheningan saja sepertinya belum cukup bagimu untuk mengejutkanku. Duduk di kegelapan sambil menatap genangan air di danau. Aku kau buat kehilangan akal. “Ini bukan kau seperti yang kukenal,” kataku dalam hati setelah cukup lama menantikan sesuatu darimu, tapi sesuatu itu tak juga terjadi. Kau terus saja sibuk dengan pikiranmu.

Hari sudah gelap ketika akhirnya aku memutuskan untuk mengumpulkan ranting-ranting. Kau tahu aku beberapa kali mendaki gunung ketika masih sekolah, menginap di dalam tenda bersama teman-teman, tapi tidak pernah sekali pun membuat api unggun. Tindakanku hanya karena aku bingung dengan yang harus kukerjakan. Aku hanya mencari sesuatu agar ada kegiatan. Ranting-ranting itupun kususun apa adanya. Tidak terlalu rapi. Tidak seperti api unggun yang sering kita lihat di perkemahan. Daun-daun kering kukumpulkan di bawah ranting-ranting. Daun-daun kering itu yang menyulut dan membakar ranting. Aku berharap kau berkomentar tentang api unggun yang kubuat. Sekadar cemooh karena bentuknya yang tidak karuan. Tapi, tidak. Kau hanya diam saja.

Wajahmu terlihat jelas ketika api menyala. Tidak bereaksi. Begitu datar. “Inikah orang yang sama dengan yang aku kenal,” aku kembali terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan.

Aku tahu, kau ingin membalas dendam. Kau ingin melampiaskan kemarahanmu padaku atas semua yang pernah aku lakukan padamu. Iya, aku tahu. Aku dulu sering memarahimu, sampai-sampai kau menangis karena kata-kataku begitu kasar masuk ke dalam telingamu. Tapi, ini terlalu kejam. Kau tahu itu.

Dan lagipula, sebuah puisi? Sejak kapan kau menyukai puisi? Ya, dulu kita memang cukup sering membahas puisi. Tapi, mengutip puisi untuk mengungkapkan isi hati? Itu bukan sesuatu yang tidak pernah kau lakukan sebelumnya. Dan, Chairil Anwar? Tidak adakah pilihan lain yang lebih romantis. Sapardi, misalnya. Puisi-puisinya sering kita dengar sewaktu kuliah dulu. Kita begitu akrab dengannya. Kenapa tidak memilih Sapardi?

J

Ranting-ranting yang tadi kukumpulkan sudah habis. Api unggun sudah hampir mati. Aku kembali beranjak, berdiri. Dengan pencahayaan dari handphone, aku kembali mencari ranting-ranting. Sementara, kau tetap duduk. Tidak sedikitpun mengubah posisimu. Sepertinya kegelapan dan dingin malam ini tidak berarti apapun bagimu. Bahkan kau mengacuhkan nyamuk-nyamuk dan serangga lain yang sedari tadi mengganggu kita.

Sambil meletakkan ranting-ranting yang baru saja kukumpulkan ke dalam api unggun, di dalam kepalaku bergentayangan beribu pertanyaan. “Apa yang terjadi padamu?”, “Apa cerita yang tidak aku tahu?”, “Adakah kau marah, dendam karena selama ini aku terlalu sibuk dengan duniaku?”, atau apa?

Sebuah lagu kuputar melalui handphone-ku. Lagu lama. Kau tahu lagu itu. Bukan lagu yang biasa kitanya nanyikan, tapi aku tahu lagi itu. “Bicaralah… bicaralah semaunya. Atau marah… jangan diam.”[2]

Volume suara handphone sengaja kubesarkan untuk mengganggu kenyamananmu dalam keheningan. Tapi, kau tidak bergeming.

Beberapa ekor kunang-kunang terbang di atas api unggun. Di antara mereka, ada yang kemudian terbakar kobaran api, hangus, lalu terjatuh ke dalam tumpukan bara. Kau tidak memperhatikan semua itu. Pandanganmu jauh, melebihi tepi danau di seberang sana. Kacamatamu berembun, tapi kau tidak mengelapnya. Sepertinya embun itu menjadi kamuflase yang sangat tepat untuk kabut yang sedang menyelimutimu.

Bahkan ketika kabut mulai turun dan menutupi permukaan danau, kau masih dengan keheninganmu. Bulan sudah mulai condong ke timur. Bintang mulai menghilang dari langit. Sebentar lagi matahari akan terbit. Kabut di sekitar kita begitu pekat. Rakit-rakit bambu yang semalan begitu indah mengambang di atas air danau sekarang terlihat seperti perahu setan yang keluar dari balik kabut tebal.

Sejak sore tadi aku duduk bersamamu, tapi sepertinya kau melayang entah di mana.

Api unggun telah mati. Hanya menyisakan beberapa bara yang coba tetap bertahan melawan udara dingin pagi ini. Asap mengepul darinya. Melambung tinggi, menyatu dengan kabut tebal. “Di sanakah pikiranmu berada?” kataku sambil melihat kepulan asap di udara.

Kali ini kau benar-benar membuatku mati kutu. Tidak lagi aku dapat membuatmu membuka mulut dan bercerita. Tidak ingin aku mengusik keheninganmu, karena aku tahu kau akan sangat terganggu jika aku begitu memaksa. Tapi, bukan berarti aku begitu sabar. Tiap kali ingin mengusik keheninganmu, sebatang rokok kunyalakan. Dan di pagi ini, sudah lebih dari sebungkus rokok yang kuhabiskan. Anehnya, kau diam saja. Tidak berkomentar tentang rokok yang kuhisap, padahal aku berganti merek rokok. Biasanya kau berkomentar tentang rokok yang kuhisap. Kau mengambil sebatang lalu memainkan dan mencium aromanya. Pernah pula kau seperti akan membakar rokok yang kau ambil, walau pada akhirnya kau mengembalikannya ke dalam bungkus.

“Di tubuhku ada luka sekarang, bertambah lebar juga, mengeluarkan darah, di bekas luka dulu kau cium napsu dan garang, lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.”[3]

Kau melanjutkan puisi yang sepertinya tidak ingin kau selesaikan. Setelahnya, kau bangkit, untuk pertama kali, dari dudukmu. Berjalan ke tepi danau. Kau lepaskan kacamatamu dari tempatnya dan membersihkan kedua kacanya lalu kau kenakan lagi. Aku tahu, kau mencari rakit-rakit bambu yang dulu kita jumpai di tepi danau ini. Tapi, sudah kubilang, rakit-rakit itu sudah tidak ada lagi di sana. Mungkin nelayan yang dulu mencari ikan di sini sudah pergi. Mungkin pula dia sudah memindahkan rakit-rakitnya ke bagian yang lain dari danau ini. “Perlukah kita mencarinya,” seketika hatiku mengajukan penawaran, tapi tidak kulontarkan. Percuma, kupikir, karena toh kau tidak akan peduli dengan yang kuajukan.

Aku mengeluarkan kamera saku dari tas. Kurekam setiap gerakanmu. Kau berdiri di tepi danau, memunggungiku, seperti ingin bersatu dengan genangan air yang tenang dan dalam. Matahari terbit dari arah depanmu. Saat kuambil gambar kau yang berdiri di tepi danau, yang terekam hanya sesosok bayangan, gelap. Tak apa. Bagiku ini sudah lebih dari cukup. Aku sudah memiliki rekaman tentangmu. Suatu hari, mungkin, ini akan menjadi kenangan yang akan kita bahas. Kalau pun kali itu kau kembali duduk diam dan menawarkan keheningan seperti yang kau sajikan padaku malam ini, setidaknya ada bayangan yang bisa kuajak bercerita.

Pagi di tepi danau. Aku duduk menatap punggungmu. Kau berjalan semakin jauh ke arah danau. Kali ini, aku tidak berusaha mencegahmu jika kau benar-benar berjalan masuk ke dalam danau. Kali ini, kubiarkan kau terhindar dari omelanku. Berjalanlah laju ke danau. Aku duduk di sini. Lambaikan tangan jika kau meminta pertolongan atau ucapkan salam jika kau sudah menentukan pilihan. Dan sampai itu terjadi, aku akan tetap duduk di sini. Mungkin malam nanti aku akan kembali menyalakan api unggun – kali ini tentunya akan lebih baik dari yang kubuat semalam.

Tangerang, 7 September 2013


[1] “Kabar dari Laut” Chairil Anwar.

[2] “Seperti” Plastik

[3] “Kabar dari Laut” Chairil Anwar

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s