Dieng Plateau: Abandoned Heaven

Dataran Tinggi Dieng-1Ketika mendengar Dataran Tinggi Dieng, yang muncul dalam kepala saya adalah gambaran sebuah kawasan yang sangat memesona. Bukit-bukit hijau yang berbaris begitu indah, jalan-jalan yang mengular seperti ingin merangkul perbukitan, masyarakat yang sederhana dan ramah, serta keindahan panorama yang memukau. Maklum, saya belum pernah berkunjung ke salah satu dataran tinggi di Pulau Jawa ini. Pengetahuan serta gambaran yang ada di kepala saya mengenai Dataran Tinggi Dieng bersumber dari informasi yang saya dapat dari berbagai media serta cerita dari teman-teman yang pernah berkunjung ke sana.

Segala hal yang saya dapatkan mengenai Dataran Tinggi Dieng adalah tentang keindahan. Semuanya positif. Tentang udara dingin yang jauh dari pencemaran, lingkungan yang masih sangat asri, dan sebagainya. Karenanya, ketika beberapa bulan yang lalu mendapat kesempatan untuk berkunjung ke dataran tinggi ini, saya senang bukan kepalang. Terlebih, perjalanan saya ke Dataran Tinggi Dieng sudah ada yang menanggung – alias gratis.

Hari-hari menjelang keberangkatan, saya seperti anak Sekolah Dasar yang tidak sabar menanti liburan dan bertamasya bersama keluarga. Hari-hari saya lewatkan dengan mencari berbagai informasi mengenai kawasan yang terbentuk akibat letusan Gunung Prahu Tua berabad-abad yang lalu. Dan seiring dengan semakin banyaknya informasi yang saya dapat mengenai kawasan wisata ini, semakin saya menjadi tidak sabar untuk segera bergumul dengannya.

Sampai kemudian, pada suatu hari, lewat tengah malam, setelah melewati perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan (saat ke sana, akses utama menuju Dataran Tinggi Dieng sedang dalam perbaikan sehingga saya dan rombongan harus mengambil jalur yang memutar dan berakibat melarnya waktu perjalanan), saya terbangun di tengah udara dingin Dataran Tinggi Dieng. Segelas teh manis hangat disajikan ibu pemilik warung yang kami sambangi untuk bertanya mengenai alamat home stay yang sudah kami pesan sebelumnya.

Setelah beristirahat, pagi pertama di Dataran Tinggi Dieng menyajikan suasana yang sangat istimewa. Bohong jika saya katakan semua informasi yang saya dapatkan tentang dataran tinggi ini salah. Memang sebuah kenyataan bahwa alam di Dataran Tinggi Dieng sangat indah. Itu sebuah fakta yang tidak bisa disanggah. Saya sangat terpukau dengan pesona alam di sini.

Dataran Tinggi Dieng-2Pagi pertama, juga pagi-pagi seterusnya yang saya lalui ketika berada di Dataran Tinggi Dieng, tidak berlangsung dengan damai. Maklum, jadwal kami cukup padat di sini. Satu minggu berada di kawasan ini, kami punya cukup waktu untuk mengeksplorasi keindahan alam yang ditawarkan. Terlebih, di Dataran Tinggi Dieng memang terdapat banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi.

Berdasar informasi yang saya dapat dari pemandu wisata setempat, ada dua versi mengenai asal penamaan dataran tinggi ini. Versi pertama menyebutkan Dieng berasal dari gabungan kata di dan hyang. Di memiliki makna “tanah” sementara hyang bermakna “dewa”. Menurut versi ini, Dieng berarti tanah di dataran tinggi tempat tinggalnya para dewa. Versi kedua menyebutkan Dieng berasal dari kata adi dan aeng. Adi memiliki makna “agung” sementara aeng memiliki makna “aneh”. Penamaan ini berdasarkan beberapa fenomena yang terjadi di kawasan ini. Fenomena tersebut melingkupi keragaman flora serta kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di Dieng, ada dua tanaman yang menjadi ciri khas kawasan ini. Yang pertama adalah carica sementara yang kedua adalah lombok Bandung. Carica merupakan tanaman yang secara anatomi memiliki kemiripan dengan pepaya. Bahkan, beberapa orang yang coba menanam biji buah carica di dataran yang lebih rendah ternyata menghasilkan pepaya. Sementara, lombok Bandung (hanya penamaan yang diberikan masyarakat sekitar karena tanaman ini diperkenalkan oleh sekelompok ilmuwan yang berasal dari Bandung, Jawa Barat) bentuknya sangat mirip dengan paprika, hanya saja memiliki rasa yang lebih pedas.

Menurut pemandu tersebut, keanehan pada dua flora itu terjadi karena letak geografis Dataran Tinggi Dieng. Ketinggian wilayah ini serta udara yang dingin dan kandungan belerang yang tinggi menyebabkan terjadinya perubahan pada buah yang ditanam.

Letak geografis itu pun berdampak pada bentuk fisik masyarakat yang tinggal di sini. Masyarakat asli Dataran Tinggi Dieng rata-rata tubuhnya tidak setinggi masyarakat yang tinggal di daerah yang lebih rendah. Hal ini berkaitan dengan terbatasnya oksigen yang ada di sini, sehingga tubuh masyarakat sekitar melakukan adaptasi.

Dataran Tinggi Dieng dianggap sebagai poros Pulau Jawa. Kawasan ini terletak persis di tengah Pulau Jawa. Dia berada 500 kilometer dari Ujung Kulon di barat dan 500 kilometer dari Selat Bali di timur. Di kawasan ini, juga terdapat sebuah bukit yang bernama Pakuaja. Masyarakat sekitar percaya bukit ini merupakan paku yang melekatkan Pulau Jawa ke Bumi.

Letaknya yang berada di ketinggian pun membuat dataran tinggi ini dipilih sebagai tempat suci bagi agama Hindu. Pada rentang waktu dari abad 8 sampai 13, kawasan ini dijadikan pusat persembahyangan oleh Kerajaan Mataram Kuno. Karenanya, sebagian besar tempat wisata yang ada di kawasan ini berkaitan dengan Mataram Kuno dan tempat beribadah umat Hindu – walaupun pada kenyataannya mayoritas penduduk Dataran Tinggi Dieng saat ini memeluk agama Islam. Di sini, terdapat beberapa kompleks candi. Total, candi-candi tersebut menempati lahan seluas sekitar 90 hektare. Kompleks Candi Arjuna merupakan kompleks candi terbesar yang ada saat ini. Ya, saat ini. Karena, kembali menurut penuturan pemandu wisata, beberapa peneliti dari Belanda, Amerika, dan Prancis pernah datang ke kawasan ini. Menurut hasil foto satelit yang didapatkan para peneliti tersebut, di Dataran Tinggi Dieng, terdapat sebuah candi yang sangat besar. Bahkan diperkirakan, candi tersebut berukuran lebih besar dari Candi Borobudur. Lalu, kenapa sampai sekarang belum ditemukan?

Jawabannya agak berbau mistis. Menurut beberapa ketua adat yang ada di Dataran Tinggi Dieng, memang ada bangunan yang sangat besar yang belum ditemukan. Bangunan tersebut masih terpendam di dalam tanah dan akan muncul jika waktunya sudah tiba. Hmmm….

Oh, iya. Sebelum lupa. Di Dataran Tinggi Dieng, terdapat beberapa desa. Setiap desa di sini memiliki seorang ketua adat. Ketua adat ini menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya memimpin berbagai upacara yang dilakukan masyarakat, tetua adat ini juga membuat keputusan yang berkaitan dengan kehidupan serta pengembangan kawasan Dataran Tinggi Dieng. Beberapa contoh yang dibuat oleh para tetua adat adalah orang di luar Dataran Tinggi Dieng tidak boleh membeli tanah di kawasan ini, kecuali jika dia sudah menikah dengan orang asli Dataran Tinggi Dieng. Keputusan yang lain adalah home stay yang dibangun di kawasan ini tidak boleh memiliki lebih dari lima kamar.

Masyarakat Dataran Tinggi Dieng memang masih sangat memegang teguh aturan adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Misalnya saja, meski bisnis pariwisata di sini sudah cukup berkembang, tempat hiburan seperti karoeke tidak boleh dibangun. Tempat-tempat seperti itu dianggap melanggar fungsi kawasan ini sebagai kawasan suci.

Jadwal padat sudah menanti dan perjalanan mengeksplorasi Dataran Tinggi Dieng pun dimulai. Satu per satu tempat-tempat wisata yang ada di sini kami singgahi. Dan seperti biasanya, jika melakukan perjalan ke tempat-tempat yang menarik, waktu seakan cepat berlalu. Dari satu tujuan ke tujuan yang lainnya. Tidak terasa kunjungan kami ke kawasan ini hampir akan berakhir.

Dari pengalaman berkunjung ke berbagai tempat wisata yang ada di kawasan ini, ada satu hal yang sangat saya sayangkan. Seperti yang sudah saya katakan, sebuah fakta yang tidak bisa disanggah bahwa Dataran Tinggi Dieng memiliki alam yang indah. Ditambah dengan berbagai peninggalan di masa lalu, kawasan ini menjadi potensi besar bagi dunia pariwisata. Dan, itu yang terjadi. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, berbondong-bondong datang ke sini. Industri pariwisata berkembang dengan cukup pesat. Home stay banyak ditemukan di sekitar kawasan ini. Tapi, jangan coba mencari hotel di sini. Di kawasan Dataran Tinggi Dieng, hanya terdapat sebuah hotel yang usianya sudah puluhan tahun. Berdasar info yang saya dapat dari pemandu wisata, tidak disarankan menginap di hotel ini. Selain karena faktor biaya, fasilitas yang disediakan pun tidak senyaman home stay.

Bisa dibilang, kondisi hotel tersebut menjadi cerminan kondisi pariwisata di Dataran Tinggi Dieng. Tidak terawat dengan baik, padahal memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi industri yang dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Saya setuju bahwa industri (apapun itu, tidak hanya pariwisata) harus memegang teguh kearifan lokal. Pengembangan yang dilakukan tidak boleh merusak nilai-nilai yang sudah dipegang dan dipercaya oleh masyarakat. Saya setuju pelarangan pendirian tempat hiburan di kawasan ini. Tapi, saya tidak setuju dengan minimnya fasilitas yang disediakan di kawasan ini.

Dataran Tinggi Dieng-3Mengeksplorasi tempat-tempat wisata yang ada di Dataran Tinggi Dieng, saya menemukan mayoritas tempat-tempat tersebut tidak dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti layaknya tempat-tempat wisata pada umumnya. Misalnya saja akses jalan. Ada beberapa tempat wisata di sini yang sangat sulit dijangkau. Jalan yang berliku dan naik-turun diperparah dengan kondisi aspal yang sudah rusak. Bahkan, ada beberapa yang akses jalannya belum diaspal. Mini bus yang kami gunakan untuk mengeksplorasi Dataran Tinggi Dieng harus beberapa kali mengalami ‘luka’. Bagian bawahnya beberapa kali berbenturan dengan batu-batu berukuran cukup besar yang ada di jalan.

Yang paling parah, seingat saya, saat berkunjung ke Curug Silawe. Menurut penuturan pemandu wisata, curug ini merupakan air terjun terindah yang ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Di sini, terdapat 25 air terjun – yang menjadi dasar penamaan tempat ini. Dalam bahasa Jawa, 25 disebut selawe yang kemudian mengalami perubahan menjadi silawe. Untuk menuju air terjun ini, kami harus berkendara ke sebuah desa yang jaraknya cukup jauh dari pusat wisata Dataran Tinggi Dieng (Kompleks Candi Arjuna) serta kondisi jalan yang mampu membuat seorang wanita hamil melahirkan secara prematur.

Tiba di desa, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, melewati pemukiman, pematang, dan menerobos masuk ke hutan. Tidak ada satu pun penunjuk arah untuk menuju Curug Silawe. Jika tidak tahu jalan yang dituju, pengunjung harus bertanya kepada masyarakat sekitar. Itu pun hanya bisa dilakukan di bagian awal perjalanan, karena setelah melewati pemukiman, akan sulit bertemu dengan penduduk sekitar. Sementara, jalur yang dilalui sangat sulit. Bahkan, pemandu kami melontarkan “Ini, sih, jalan babi” ketika seorang warga sekitar menunjukkan sebuah jalan untuk menuju Curug Silawe. Akhirnya, karena pertimbangan fisik dan sulitnya jalur, kami memutuskan membatalkan kunjungan ke curug yang katanya paling indah di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Masalah lain? Banyak.

Suatu sore, pemandu wisata mengajak kami untuk bersantai di pemandian air hangat. Di sini, pemandian air panas Kali Anget memang menjadi primadona. Tapi, karena jaraknya yang cukup jauh sementara pada malam harinya kami memiliki jadwal yang lain, pemandu wisata ini mengajak kami ke pemandian air hangat yang lain. Pemandian air hangat ini tidak bernama. Bahkan, lebih tepatnya, tempat ini hanya berupa selokan yang lebarnya sekitar 1 meter. Saat datang, beberapa orang wanita sedang mandi di situ. Tempat ini memang menjadi tempat pemandian umum bagi masyarakat sekitar. Yang mengherankan, kalau memang mau dijadikan tempat wisata, mbok ya dibenahi dulu. Masyarakat sekitar mungkin sudah terbiasa mandi setengah bugil di tempat terbuka seperti itu. Tapi, apakah wisatawan akan juga bisa nyaman seperti itu? Dalam hal ini yang saya maksud adalah kaum wanita.

Masih ada masalah lain? Banget.

Terletak di ketinggian, Dataran Tinggi Dieng memang memiliki udara yang cukup sejuk. Tapi, bersamaan dengan itu, sorot matahari di kawasan ini juga terasa sangat terik. Terlebih pada musim kemarau. Anda akan mengalami penghitaman seketika jika berjalan-jalan pada siang hari di sini. Standarnya, ketika cuaca terik, minuman dingin merupakan hal yang sangat indah. Sayangnya, hal itu sulit dijumpai di sini. Hanya beberapa kawasan wisata yang dilengkapi warung-warung penjaja minuman-makanan. Sementara, sebagian besar kawasan wisata dibiarkan sendiri. Wisatawan harus membawa perbekalan sebelum datang ke tempat wisata tersebut. Dan kalau ternyata ada wisatawan yang lupa membawa perbekalan dan mengalami haus atau lapar ketika sampai di tempat wisata tersebut, ada dua pilihan: menahannya atau kembali ke daerah yang terdapat penjaja makanan-minuman. Bukan suatu kondisi yang nyaman bagi wisatawan tentunya.

Ada lagi? Masihhh.

Berkunjung ke tempat-tempat wisata di kawasan ini, Anda jangan heran jika menemukan kawasan wisata tanpa pos penjaga. Banyak tempat wisata di kawasan ini seperti dibiarkan apa adanya. Membiarkan kawasan wisata apa adanya memang bisa menjadi kelebihan tersendiri. Keindahan yang ditawarkan akan terlihat alami, tanpa ada campur tangan manusia. Tapi sebagai tempat wisata, membiarkan tempat wisata tanpa pos penjaga dapat diartikan sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. Terlebih, tempat-tempat wisata yang dibiarkan seperti itu merupakan tempat yang dapat mengundang bahaya, misalnya saja kawah yang panas. Bagaimana jika wisatawan mengalami kecelakaan yang terjadi tanpa disengaja? Siapa yang bisa mereka mintai pertolongan?

Lagipula, tidak adanya pos penjaga berarti tidak ada tiket masuk. Dan dalam dunia bisnis, tidak adanya tiket berarti suatu dosa. Pemerintah daerah seharusnya bisa mendapatkan pemasukan yang lumayan dari retribusi tempat-tempat wisata tersebut. Atau, mereka tidak berpikir tentang bisnis dan pengembangannya, ya?

Lain halnya dengan kawasan candi. Tidak adanya pos penjaga memang sama-sama merupakan bentuk tindakan tidak bertanggung jawab. Tapi dalam hal ini, lebih kepada aset wisata itu. Bayangkan sebuah candi yang letaknya hanya berjarak tidak lebih dari 10 meter dari jalan raya, sementara candi itu hanya dibatasi pagar kawat yang tingginya tidak lebih dari 1,5 meter dan dengan sangat mudah dapat diterabas oleh orang dewasa. Sangat tidak mengherankan kalau angka pencurian benda-benda berharga di kawasan ini sangat tinggi. Saya saja sempat terpikir untuk kembali ke sana membawa sebuah mobil dan mengambil beberapa bagian candi yang dibiarkan tak terjaga.

Hmmm… sudah selesai? Belummm….

Masalah keamanan menjadi persoalan yang sepertinya tidak dihiraukan pihak-pihak pengelola tempat-tempat wisata di sini. Saya ingat sekali ketika pemandu wisata membawa kami berkunjung ke kawasan Telaga Warna. Saat itu, pemandu mengajak kami ke sebuah bukit yang ada di sebelah Telaga Warna. Dari atas bukit tersebut, dapat dilihat kawasan Telaga Warna dari ketinggian. Setelah puas mengambil gambar, kami lalu masuk ke kawasan Telaga Warna. Tapi, tidak melalui pintu masuk, melainkan sebuah jalan kecil yang ada di antara bukit dengan Telaga Warna. Awalnya saya tidak menaruh curiga dan menganggap jalan yang kami lewati merupakan jalur resmi. Sampai kemudian saya bertanya “Kenapa banyak orang yang berjalan dari arah yang berlawanan dengan kami?” barulah saya sadar bahwa jalur yang kami lewati tidak resmi. Kesal? Tentu. Saya merasa ditipu karena sudah membayar biaya pemandu wisata plus semua tiket masuk ke tempat-tempat yang kami tuju sementara kami masuk ke kawasan Telaga Warna melalui jalur yang tidak resmi. Tapi, ketika saya bertanya “Kenapa kami masuk lewat jalur tidak resmi dan bagaimana soal tiket masuk?” pemandu wisata hanya menjawab dia yang akan mengurus semua itu. Saya dan teman-teman tidak perlu khawatir soal itu. Saat keluar dari kawasan ini, kali ini melalui jalur yang resmi, saya melihat pemandu wisata bercengkrama akrab dengan penjaga pintu masuk. Saya yakin mereka sudah saling kenal dan mungkin teman akrab. Lalu, terbayang dalam pikiran saya kejadian wisatawan yang masuk melalui jalur tidak resmi sudah sering terjadi – dan sialnya itu diarahkan oleh pihak yang berkaitan dengan pengembangan dunia pariwisata di kawasan ini.

Hmmm…??? Baiklah. Satu lagi. Kali ini soal acara festival yang berlangsung di sana. (Soal festival bukannya sudah dibahas di artikel sebelumnya? Eh, iya ya. Oke kalau begitu, langsung ke intinya.)

Dataran Tinggi Dieng-5Intinya adalah saya melihat ketidaksiapan pihak-pihak yang terkait dengan pemeliharaan serta pengembangan pariwisata di Dataran Tinggi Dieng. Dataran Tinggi Dieng memiliki potensi yang sangat besar dalam hal pariwisata. Dampaknya sudah terlihat. Masyarakat kawasan ini yang sebelumnya mayoritas berprofesi sebagai petani (terutama kentang) sudah mulai tertarik untuk melirik dunia pariwisata sebagai profesi. Mulai dari membangun home stay, pemandu wisata, pengemudi, dan lainnya. Sayangnya, kesempatan yang terbuka lebar tersebut tidak dibarengi dengan konsep yang matang dan jelas.

Pengalaman selama satu minggu mengeksplorasi Dataran Tinggi Dieng membuat saya memandangnya seperti surga yang disia-siakan. Dia seperti Laura Basuki yang mengenakan pakaian compang-camping dengan rambut yang acak-acak. Sejatinya, dia merupakan sesuatu yang menarik. Sangat menarik. Tapi tidak adanya konsep pemeliharaan dan pengembangan yang jelas, dia akan berlalu begitu saja. Pembenahan harus segera dilakukan. Tapi, ya itu jika memang pihak-pihak yang bersangkutan serius untuk menjadikan anugerah yang mereka miliki sebagai komoditi yang dapat dikembangkan dengan penuh tanggung jawab dan tanpa mengurangi atau mengubah nilai-nilai yang sudah berlaku di masyarakat.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s