Tidak Sekadar Menerbangkan Keindahan

Lampion-1

Sebut saya sok tahu atau terlalu percaya diri, sok mengerti, paham, atau apalah. Saya akan menerima semua sebutan itu. Saya akui, saya memang baru dengan dunia pariwisata dan budaya di Indonesia. Saya baru dua kali datang ke acara festival kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah setempat – satu di kota kelahiran saya sementara satunya lagi di Dieng. Sebagai orang yang mengaku suka traveling, CV saya masih sangat minim. Jangan untuk ukuran Indonesia atau bahkan dunia, bahkan daerah-daerah di Pulau Jawa pun masih sedikit yang saya kunjungi.

Bagi sebagian orang, pengalaman minim akan membuat komentar atau penilaian yang dibuat bersifat dangkal. Terlalu terburu-buru tanpa melihat dari keseluruhan aspek yang benar-benar terjadi. Dan saya akui, penilaian yang saya buat dalam tulisan ini pun ‘terburu-buru’. Baru mendatangi dua festival kebudayaan, saya sudah berani menilai.

Yang perlu diingat, seberapa pun minimnya, pengalaman tetaplah pengalaman. Sedikit mengubah perkataan seorang dosen ketika saya berkuliah dulu, setiap pertunjukan adalah sebuah seni maka setiap pengalaman adalah sebuah pelajaran, sebuah penilaian. Pengalaman minim yang dimiliki seseorang bukan berarti dia tidak boleh menuliskan pengalamannya dan membuat semacam penilaian. Apakah harus menunggu seperti William Wongso dulu baru boleh memberikan penilaian? Bukankah dia pada awalnya juga seorang newbie?

Lagipula, penilaian yang saya buat di sini tidak secara general. Ini saya buat berdasar pengalaman yang saya miliki – ditambah berbagai informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber. Penilaian yang diberikan di sini tidak berlaku secara general, untuk semua. Walau mungkin penilaian yang diberikan di sini terkesan negatif, bukan berarti semua ajang sejenis layak mendapat penilaian yang sama. Sama sekali tidak. Ini sekadar unek-unek seorang yang coba membuktikan keseriusannya sebagai penghobi traveling dan pada kenyataannya mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakkan.

Lampion-4

Di atas, Langit Meninggalkan Bercahaya

Apa yang membuat seseorang atau sekelompok orang tertarik berkunjung ke suatu tempat atau melakukan sesuatu atau membeli sesuatu? Jawaban sederhananya adalah pengalaman. Pengalaman yang dibagikan ke khalayak umum menjadi acuan. Semacam ajakan atau rayuan. Iklan yang ditayangkan di televisi atau dipasang di berbagai media lainnya merupakan rayuan yang paling jelas. Tapi pada kenyataananya, foto yang dipasang di media sosial pun menjadi kurang lebih memiliki efek yang sama. Dan melalui cara itulah saya tertarik dengan melakukan perjalanan.

Kesempatan itu akhirnya datang belakangan ini. Alih-alih bekerja, saya menikmati keinginan yang selama ini terpendam. Dari satu tempat ke tempat lain, dari satu festival ke festival lain (yang jumlahnya baru dua), saya seperti mewujudkan impian. Sayangnya, mimpi itu tidak seindah yang saya kira. Tidak seindah mimpi basah saya bersama Wanda Hamidah. Hehehe….

Ada satu hal yang membuat saya cukup bersedih ketika datang ke dua ajang festival. Kebetulan, keduanya diadakan oleh pihak pemerintah daerah. Dan, keduanya memiliki kecenderungan yang sama. Alih-alih melestarikan kebudayaan lokal dan memperkenalkannya kepada khalayak luas (yang akan berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan dan berujung pada perbaikan pendapatan) yang terjadi sepertinya ‘pemiskinan’ terhadap budaya lokal tersebut.

Sebagai orang yang sejak lahir bersentuhan dengan Kota Tangerang, saya memang terbilang kuper dengan kebudayaan asli kota ini. Walau ternyata pusat-pusat kebudayaan itu tidak jauh dari keseharian saya, tapi toh ternyata saya menjadi turis asing ketika suatu saat melakukan perjalanan ke tempat-tempat ‘budaya’ di Tangerang. Karenanya, ketika mendengar pemerintah kota ini akan mengadakan Festival Cisadane, saya langsung memberi tanda khusus di kalender sebagai pengingat. Saya sudah siap dibuat ‘cengok’ dengan budaya yang ternyata selama ini ada di sekitar saya.

Akhirnya waktu itu pun datang. Festival Cisadane digelar. Saya datang. Ruas jalan di salah satu sisi Sungai Cisadane ditutup untuk publik. Keberadaannya dialihfungsikan sebagai tempat penyelenggaraan Festival Cisadane. Sebuah panggung besar berdiri menutup jalan. Tidak jauh darinya, ada beberapa panggung kecil. Stand-stand untuk sponsor dan berbagai lembaga dibangun – menghias sisi jalan. Keadaan di sekitar tempat penyelenggaraan pun tidak kalah meriah. Lampu-lampu hias dipasang untuk mempercantik tampilan kota. Sebuah naga besar menjadi aksesori yang sangat mengundang perhatian dipasang di sudut Jembatan Cisadane. Masyarakat Tangerang sudah siap dengan hajatan mereka. Eh, Pemerintah Kota Tangerang yang sudah siap, sementara masyarakat siap untuk menikmati sajian yang diberikan.

Acara yang dinanti pun dibuka. Masyarakat menyambut dengan gegap gempita. Tempat penyelenggaraan dipenuhi masyarakat yang begitu bersemangat melihat setiap pertunjukan – yang katanya merupakan budaya Tangerang. ‘Katanya’, ya, sekadar ‘katanya’. Karena pada kenyataannya, yang ditampilkan bukanlah kebudayaan asli Tangerang. Siapa yang berani bilang keroncong merupakan budaya asli Tangerang? Bagaimana dengan topeng blantek? Barongsai? Untuk yang terakhir, masyarakat Tangerang memang punya hubungan yang erat dengan kebudayaan Tionghoa. Barongsai sebagai salah budaya yang dibawa masyarakat Tionghoa, karenanya, tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Tangerang. Tapi, bagaimana dengan yang lain?

Lampion-3

Datang ke festival ini tidak berbeda dengan datang ke pasar malam. Bukan acara budaya yang membuatnya menjadi marak, tapi berbagai brand yang mempromosikan produk-produk mereka. Suatu kondisi yang cukup miris, karena bukankah seharusnya nilai-nilai budaya yang dipromosikan dalam ajang ini?

Datang ke Dataran Tinggi Dieng pun saya mendapati hal serupa. Memang, di sini saya disajikan dengan lebih banyak pertunjukan tradisional. Tapi ketika diselidik lebih lanjut, hampir semua pertunjukan yang ditampilkan bukanlah budaya asli masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Hanya ada satu pertunjukan yang merupakan asli kreasi masyarakat Dataran Tinggi Dieng, tapi itu pun usianya masih belum genap satu dekade.

Yang lebih membuat miris ketika datang ke Dieng adalah lagu yang menyambut kedatangan para wisatawan. Alih-alih acara ini bertajuk Dieng Cultural Festival, pengunjung disambut dengan lagu-lagu yang biasa saya dengan di acara semacam Dahsyat, Inbox, dan semacamnya. WTF?

Yang membuat saya kebingungan saat di Dieng adalah pengaturan jadwal acara. Saya mendapat jadwal acara dari panitia penyelenggara. Acara ini berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, acara pagelaran kebudayaan akan berakhir pada sekitar jam 17.30 WIB – begitu menurut keterangan di jadwal. Pada kenyataannya, acara sudah berakhir sebelum jam 13.00 WIB. Padahal, semua pertunjukan yang dijadwalkan tampil. Tidak ada yang gagal tampil atau apa. Tapi, kok, ya, bisa sangat cepat seperti itu.

Belum lagi rasa heran saya terhadap acara sepanjang hari pertama usai, saya menghadapi kebingungan yang lain. Malam pertama dijadwalkan ada acara penerbangan lampion. Sejak sore, Dieng disiram hujan. Karenanya, banyak wisatawan yang ragu acara penerbangan lampion akan tetap diadakan. Tapi, setelah bertanya, panitia meyakinkan acara tetap berlangsung seperti yang dijadwalkan. “Baik kalau memang tetap diadakan. Tapi dimana dan kapan?” Jawaban yang saya terima “Sedang dipersiapkan. Nanti juga kalau sudah dimulai akan terlihat.” Jawaban sederhana yang membuat pengunjung seperti saya bertambah bingung.

Mengira penerbangan lampion akan diadakan di lapangan yang digunakan untuk pertunjukan kesenian sepanjang hari tadi, saya pun menunggu di lapangan itu – walau kondisi lapangan becek. Cukup lama menunggu sampai kemudian di ketinggian terlihat beberapa lampion terbang menghias langit. Acara pelepasan lampion tidak diadakan di lapangan, tapi di dalam kawasan candi. Dapat dibayangkan yang terjadi kemudian. Wisatawan yang menunggu di lapangan berbondong-bondong pindak ke kawasan candi. Dengan kondisi tanah yang becek, yang terjadi adalah ketidaknyamanan, keluhan, dan sebagainya.

Lampion menjadi masalah lain dalam berbagai acara kebudayaan di Indonesia. Sebagai negara yang penduduknya memiliki berbagai nilai kebudayaan dan terpengaruh berbagai kebudayaan yang berasal dari luar, lampion hanya bagian kecil dari keanekaragaman masyarakat Indonesia. Tradisi menerbangkan lampion dibawa masuk oleh masyarakat Tionghoa yang datang ke Indonesia. Setelah mengalami akulturasi selama berabad-abad, tradisi ini pun menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Bukan semata oleh golongan keturunan Tionghoa, tapi masyarakat Indonesia secara luas.

Kehadiran lampion dalam sebuah acara, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan Tionghoa, tentulah bukan sebuah masalah. Dia sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Yang menjadi masalah adalah ketika kehadirannya ‘dipaksakan’. Yang lebih parah, dia diadakan sekadar sebagai pelengkap – dan sudah kehilangan makna asli dari eksistensinya.

Dari yang saya baca, lampion merupakan cara menyampaikan sekelompok masyarakat untuk menyampaikan pesan (harapan) kepada langit. Diterbangkannya lampion ke angkasa merupakan perwujudan harapan tinggi atas terwujudnya impian yang diinginkan. Lebih dari itu, melihat lampion yang terbang ke angkasa, terlebih di malam hari, merupakan suatu panorama yang menarik untuk dilihat – juga diabadikan. Apalagi, lampion yang diterbangkan dalam jumlah banyak. Lampion-lampion yang diterbangkan akan terlihat seperti kunang-kunang. Mengabadikannya dalam kamera (foto atau video) akan menjadi kenangan tersendiri.

Sialnya, seperti nilai itulah yang saat ini lebih dipentingkan. Lampion bukan lagi diterbangkan untuk melambungkan harapan, menyampaikannya ke langit. Dia hanya untuk kebutuhan visual. Dia ada agar acara yang diadakan terlihat menarik dan mampu merayu banyak pengunjung untuk datang.

Lampion-2Lampion hanya satu dari sekian banyak permasalahan yang saya lihat ketika datang ke dua acara festival. Semua permasalahan itu, pada intinya, merujuk pada hal yang sama: kegagalan penyelenggara memahami makna nilai-nilai yang terkandung dalam acara kebudayaan yang mereka adakan. Alih-alih memperkenalkan budaya mereka kepada khalayak luas dan dengannya juga turut melestarikan nilai-nilai budaya yang mereka miliki, yang mereka lakukan justru ‘menghilangkan’ nilai-nilai budaya itu. Dalam hal ini, isu bisnis menjadi lebih penting daripada isu pelestarian budaya – padahal pelestarian budaya itulah yang mereka gaung-gaungkan dalam setiap acara.

Menyedihkan? Sangat. Tapi, itulah yang sebenarnya terjadi. Dan sebagai orang yang baru terjun ke dunia wisata dan budaya, saya mengalami inisiasi yang tidak mengenakkan. Inisiasi yang sebenarnya cukup beralasan untuk membuat saya trauma. Tapi sialnya, saya melakukannya karena alasan pekerjaan. Karenanya, saya ‘terpaksa’ harus bertahan.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s