Arsenal: This Summer Loser

Arsenal, This Summer Loser

Para pendukung Arsenal jangan dulu marah jika membaca judul artikel ini. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan atau menghina klub kebanggaan kalian. Hanya saja, melihat kenyataan yang terjadi, sepertinya sangat layak jika disebut begitu.

Bahkan sebelum jendela transfer musim panas ini dibuka, Arsenal (dengan Arsene Wenger) menjadi salah satu klub yang sangat antusias. Mereka sudah menebar komentar akan mendatangkan pemain-pemain kelas dunia. Terlebih, manajemen klub mendukungnya dengan memberikan kucuran dana yang besar.

Nama-nama besar pun disebut. Kalau tidak salah ingat Wayne Rooney dan Gonzalo Higuain menjadi dua yang paling santer disebut akan bergabung dengan klub Meriam London ini. Khusus untuk Rooney, Arsenal disebut rela mengubah kebijakan. Mereka siap membuat rekor baru demi memenuhi permintaan gaji sang pemain.

Nyatanya, hingga pertengahan Agustus, Rooney masih berstatus pemain Manchester United. Dan lagi, bukan Arsenal yang belakangan dikabarkan gencar membujuk pemain ini untuk keluar dari Old Trafford. Justru Chelsea (Jose Mourinho) yang terus merayu agar penyerang 27 tahun ini mau berganti kostum.

Yang paling menyedihkan mungkin kasus Gonzalo Higuain. Pada awal dibuka jendela transfer musim panas, Arsenal disebut-sebut hampir pasti mendapatkan penyerang asal Argentina ini. Proses kepindahannya dari Real Madrid hanya tinggal menyelesaikan beberapa hal kecil. Tapi ternyata, Napoli tiba-tiba masuk. Dana besar yang didapat dari penjualan Cavani mereka langsung gunakan untuk mencari penyerang baru. Tanpa proses panjang atau menebar isu, proses transfer langsung terjadi.

Lagipula, seingat saya, dana yang disiapkan manajemen Arsenal untuk dana transfer musim panas ini jauh lebih besar dari angka transfer Cavani. Sekitar dua kali lipat atau lebih. Dan dengan dana yang segitu besar, kenapa pergerakan mereka sejauh ini lebih banyak bermain di taraf isu?

Satu-satunya pemain yang berhasil didapatkan Arsenal pada transfer kali ini adalah Yaya Sanogo. Penyerang 20 tahun yang sebelumnya membela klub Auxerre. Sialnya, pemain ini didapat dengan gratis karena kontrak pemain ini di klub Liga Prancis itu sudah habis. Lalu, buat apa gembar-gembor soal dana besar jika hanya untuk mendapatkan pemain gratis yang kontraknya sudah habis?

Keadaan semakin menyedihkan bagi Arsenal karena di jendela transfer ini mereka kehilangan dua pemain penyerang. Gervinho ke AS Roma dan Bendner ke Frankfurt. Keduanya melibatkan uang (bukan gratis).

Kondisi ini seperti dagelan mengingat komitmen yang diumbar pihak manajemen Arsenal. Mereka akan mengubah kebijakan transfer. Mereka bukan lagi klub yang mengumpulkan pemain muda berbakat dengan harga murah untuk kemudian dijual beberapa musim kemudian dengan harga yang tinggi.

Musim lalu memang sepertinya Arsenal mengubah citra itu. Melepas van Persie, mereka mendatangkan pemain-pemain cukup ternama. Untuk pertama kalinya sejak Arsene Wenger datang di Arsenal, mereka menjadi klub yang ‘boros’. Tapi, sepertinya berhenti di situ. Musim ini mereka kembali menjadi tim yang irit, bahkan cenderung pelit.

Saat ini, memang ada proses transfer yang masih sangat mungkin terjadi. Luis Suarez, penyerang asal Uruguay yang bermain untuk Liverpool, sedang digoda untuk menggunakan kostum merah yang berbeda di musim depan. Kesempatan bermain di Liga Champions Eropa (tentunya dengan kontrak yang lebih tinggi) menjadi andalan Arsenal untuk mendapatkan penyerang usia 26 tahun ini. Tapi di sini, Arsenal lagi-lagi melakukan kesalahan. Kesalahan yang lebih besar dibanding menebar isu.

Untuk mendapatkan Suarez, Arsenal memang membuat langkah konkrit. Mereka mengajukan penawaran resmi. Bahkan, tidak hanya sekali. Setelah tawaran pertama yang mereka ajukan ditolak Liverpool, mereka tidak menyerah. Mereka menaikkan tawaran. Tap, di situlah kesalahan besar yang mereka lakukan.

Alih-alih ingin mengaktifkan release clause di kotrak Suarez bersama Liverpool, penawaran yang diajukan Arsenal malah membuat klub asuhan Brendan Rodgers ini berang. Dalam kontraknya di Liverpool, pihak klub harus mempertimbangkan melepas pemain ini jika ada klub lain yang mengajukan tawaran minimal £40 juta. Terlebih, jika Liverpool tidak berhasil bermain di Liga Champions Eropa dan klub yang mengajukan penawaran tersebut bermain di kompetisi tersebut.

Musim depan, Arsenal mungkin akan bermain di kompetisi elit tersebut. Mereka harus lolos dari fase play-off untuk memastikan kehadirannya sebagai peserta Liga Champions Eropa 2013-2014.

Dengan kenyataan itu, sepertinya Liverpool tidak punya alasan untuk tetap menahan sang pemain. Terlebih, hubungan kedua klub pun sebenarnya baik-baik saja. Tidak ada kasus negatif yang melibatkan kedua klub ini. Arsenal pun mengajukan tawaran yang jumlahnya melebihi batas minimal transfer Luis Suarez. Sedikit melebihi batas minimal. Tepatnya, sangat sedikit.

Dengan batas minimal £40 juta, penawaran kedua yang diajukan Arsenal adalah £40 juta + £1. Melebihi batas minimal, sekaligus melebihi batas ‘kesopanan’.

Entahlah. Saya membayangkan jika tawaran yang diajukan Arsenal tanpa embel-embel + £1 pihak Liverpool mungkin akan mempertimbangan penawaran tersebut. Bahkan mungkin memberikan kesempatan pada Arsenal untuk berbicara dengan Luis Suarez. Tapi, + £1? Ayolah…. Yang dihadapi di sini bukanlah anak kecil yang meminta uang untuk membeli permen. Liverpool bukan klub terkaya di Liga Inggris. Klub ini bahkan sedang melakukan kebijakan penurunan bujet gaji. Tapi, ya, dia bukan klub yang terancam bangkrut dengan pihak manajemen sedang sibuk mengais-ngais di selokan untuk mencari tiap pounsterling yang mungkin terselip di sana.

Memang, kenyataannya, beberapa musim terakhir peringkat Arsenal di Liga Inggris lebih baik dari Liverpool. Klub ini rutin menjadi peserta Liga Champions Eropa. Sementara, musim lalu Liverpool hanya mengikuti Piala UEFA dan tahun ini tidak mengikuti kompetisi di Eropa.

Yang dilupa, musim 2011-2012 Liverpool berhasil mendapat gelar juara. Sementara Arsenal? Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali klub ini mengangkat trofi.

Di Liga Champhions Eropa, Arsenal hanya merupakan klub yang mencapai partai final. Sementara Liverpool? Don’t ask.

Arsenal, atau mungkin Arsene Wenger, lupa bahwa mereka berada di negara yang sangat mementingkan pride. Mereka berada di negara yang sangat mengagungkan keluarga kerajaan. ‘Pride’ menjadi sangat penting. Mungkin saat ini Arsenal memiliki finansial yang lebih baik dibanding Liverpool, tapi tidak dengan ‘pride’. Di Inggris, Liverpool hanya berada di bawah Manchester United. Sementara di Eropa, Liverpool menjadi klub Inggris yang paling banyak menjuarai Liga Champhions Eropa.

“Itu, kan, di masa lalu?” Ya memang. Keluarga kerajaan pun hanya di masa lalu memiliki kekuasaan. Keberadaan mereka di masa kini hanya menjadi simbol. Tapi tetap saja, kelahiran putra pertama Pangeran William menjadi berita terbesar tahun ini.

Lagipula, saya benar-benar tidak habis pikir dengan Arsenal di bursa transfer kali ini. Klub yang katanya disokong dengan bujet sangat besar (seingat saya lebih dari 100 juta poundsterling/US Dollar?) dan dengan uang yang didapat dari penjualan beberapa pemain, tapi hanya mampu mengeluarkan uang sejumlah itu? Maaf mengulang, musim ini sepertinya bukan bujet transfer yang mereka besarkan, tapi sekadar isu transfer. Dan karenanya, mereka menjadi pecundang di bursa transfer kali ini. Maaf, sekali lagi maaf untuk para penggemar Arsenal. Pada kenyataannya, klub yang kalian banggakan tidak lebih dari sekadar mengumbar omong kosong.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s