Film Sang Nabi

Un-Prophete-(A-Prophet)

Siapa pemimpin terbesar sepanjang sejarah umat manusia? Tidak bisa dibantah, jawabannya adalah Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya umat muslim, semua kalangan pun mengakui sosok ini sebagai pemimpin terbaik yang pernah ada di dunia.

Menurut penjelasan dalam Al-Qur’an, Muhammad adalah manusia spesial yang diberikan wahyu oleh Allah SWT. sebagai pengingat, atau pemberi keterangan, bagi umat manusia. Dia memiliki tempat yang khusus di hadapan Yang Maha Esa. Tapi begitu, jalan hidupnya sangatlah tidak mudah.

Ada begitu banyak buku yang memuat kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Cerita dalam buku-buku itu tentu lebih lengkap dibanding yang saya bisa ceritakan di sini. Atau mungkin, Anda jauh lebih memahami dan tahu cerita hidup Nabi Muhammad SAW. dibanding saya. Karenanya, tidak perlu rasanya untuk mengulang kisah hidup sang nabi di sini.

Yang ingin saya bagi di sini adalah sebuah film yang saya tonton beberapa tahun yang lalu. Film ini berjudul Un Prophete (A Prophet). Kalau dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan menjadi Sang Nabi. Film arahan sutradara Jacques Audiard ini dibuat pada tahun 2009.

Meski judulnya tertera jelas tentang ‘nabi’, tapi film ini sama sekali tidak mengisahkan kehidupan seorang nabi. Film ini mengisahkan kejadian yang terjadi di masa kini, abad 21. Tokoh utama dalam film ini pun bukan orang suci. Dia hanya orang biasa, bahkan boleh dibilang dia merupakan kriminal yang sudah sering masuk penjara.

Lalu, kenapa judulnya Sang Nabi?

Saya membayangkan, jika ada pihak yang berani membawa masuk film ini untuk diputar di jaringan bioskop yang ada di Indonesia atau bahkan di stasiun-stasiun televisi tanah air, kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama akan melakukan aksi keras. Bukan apa-apa, tapi saya membayangkan itu karena perbedaan konsep ‘penghargaan’ antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat luar – dalam hal ini Eropa atau lebih spesifik adalah Prancis.

Sepanjang sejarah umat manusia, hanya Nabi Muhammad SAW. yang sosoknya tidak boleh didokumentasikan atau diwujudkan. Segala bentuk publikasi yang menyangkut sosok sang nabi hanya memuat namanya, sekalipun bentuk publikasi itu adalah film atau media grafis lainnya.

Aksi keras yang mungkin timbul karena film ini bukan karena menghadirkan sosok sang nabi. Sudah dikatakan sebelumnya, film ini berlatar belakang kejadian masa kini – bukan masa kehidupan sang nabi. Yang menjadi masalah adalah ‘penggambaran’ sosok sang nabi.

Seperti halnya Nabi Muhammad SAW., tokoh utama dalam film ini pun hidup sebatang kara. Dia tidak memiliki keluarga atau saudara. Hanya saja, dia terjebak dalam dunia kriminalitas dan sering masuk penjara. Walau begitu, bukan berarti dia termasuk penjahat besar. Kejahatan yang dilakukannya terbilang kejahatan kecil, seperti mencopet atau mengutil barang di supermarket. Karenanya, ketika di penjara, dia pun menjadi ‘korban’.

Sampai kemudian, suatu kejadian membuatnya memiliki ‘pelindung’. Roh orang yang dibunuhnya menjadi teman yang setia menemani. Roh inilah yang menjadi pembimbing sekaligus guru bagi si tokoh utama. “Iqra” begitu ucap si roh kepada tokoh utama ketika memperkenalkan agama yang dianut kepada temannya. “Iqra” inilah yang menjadi kunci utama perubahan hidup tokoh utama.

Sejak saat itu, dia membaca segala hal. Dia membaca bahasa-bahasa asing yang digunakan di lingkungan penjara. Dia membaca kehidupan yang berlangsung di sekitarnya. Dia membaca segalanya. Dan dari banyaknya dia membaca itu pula, sang tokoh utama kemudian dihormati bahkan menjadi pemimpin utama di penjara.

Kalau saya diminta pendapat mengenai film ini, jujur saja agak sulit. Satu sisi, saya tidak setuju sang nabi digambarkan sebagai orang yang menjadi korban hubungan sesama jenis – walaupun tidak sampai terjadi karena si tokoh utama berhasil membunuh si pelaku. Tapi di sisi lain, saya sangat mengagumi film ini. Dia memberikan perspektif baru. Perspektif yang menurut saya sangat humanis, sangat logis bagi akal saya. Seseorang bisa menjadi ‘besar’ tidak semata karena takdir. Dia menjadi ‘besar’ karena memang dia berusaha untuk mencapai tahap itu. “Iqra”. Dia belajar. Dia terbuka terhadap berbagai hal dan mempelajari berbagai macam pengetahuan.

Menjadi besar atas usaha dan keinginan yang kuat inilah, yang saya tangkap, menjadi tema utama dalam film ini. Dalam film ini, sama sekali tidak disebut bahwa penggambaran tokoh utama merefleksikan atau setidaknya terinspirasi dari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bahkan soal agama Islam pun tidak disebut dengan gamblang. Tidak ada dogma atau ceramah dalam film ini. Dia hanya bercerita. Mengisahkan sebuah sosok yang mau belajar. Karena keinginannya, dia berhasil mengubah nasibnya – dari bukan siapa-siapa menjadi pemimpin yang sangat dihormati.

Kalau ada yang pernah menonton film ini, bisa berbagi pendapat di sini.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s