Sending a Postcard

Postcard

Kapan ya terakhir mengirim kartu ucapan Idul Fitri ke keluarga atau teman? Seingat saya, ini yang saya lakukan, kira-kira waktu SMA – dan itu sudah lebih dari satu dekade yang lalu. Dari masa itu hingga saat ini, sangat jarang saya berkirim kartu ucapan – bahkan surat.

Memang, pada suatu massa, saya pernah sangat rajin ke kantor pos yang ada di dekat kampus. Beberapa kali dalam satu minggu, saya datang ke kantor pos di pinggir jalan membawa amplop cokelat yang berisi surat lamaran kerja dan data riwayat pribadi (namanya juga pencari kerja). Tapi setelah masuk ke dunia kerja, kantor pos itu hanya menjadi salah satu pemandangan setiap kali saya datang ke kampus.

Sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat aktif berkirim surat dengan seorang teman. Melalui perkenalan tak sengaja di jejaring sosial, kami mencoba melakukan komunikasi dengan cara yang ‘berbeda’. Kebetulan, walau teman ini asli orang Indonesia, dia lama tinggal di luar negeri. Dan saat itu, dia sedang menjalani studi di Korea Selatan. Walhasil, beberapa kali kami sempat bertukar ‘rasa’. Saya mengirimnya cokelat produk Indonesia sementara dia mengirim kopi dan cokelat buatan Korea. Saya mengirimkannya cerita sementara dia mengirimkan beberapa pembatas buku.

Namun, hanya untuk jangka waktu yang tidak lama. Karena permalasahan keluarga, dia harus mengundurkan diri dari perkuliahan dan pergi dari Korea. Terakhir mendengar kabar tentang teman ini, dia bilang berada di salah satu pulau di Indonesia dan coba mencari kerja. Dan sejak saat itu, saya hampir tidak pernah berkirim surat (kecuali satu kali mengirim paket film ke seorang teman yang tidak pernah mau memberi tahu alamat rumahnya).

Harus diakui, bukannya ingin menyalahkan, perkembangan tehnologi mengubah cara manusia berkomunikasi. Bentuk komunikasi purba (berbicara dengan bertatap muka) semakin kehilangan peluang. Tehnologi mengubah banyak hal. Banyak orang yang lebih senang berkomunikasi melalui peralatan canggih yang mereka miliki. Begitu pula ketika ingin mengucapkan sesuatu pada momen spesial, seperti misalnya Idul Fitri.

Saat kuliah dulu, masa-masa awal saya memiliki handphone, seperti menjadi tradisi untuk mengirimkan pesan permintaan maaf kepada daftar nomor telefon yang ada di handphone saya. Begitu pula sebaliknya, kotak masuk pesan saya akan terisi dengan berbagai pesan permintaan maaf yang dikirimkan oleh orang-orang yang menyimpan nomor telefon saya.

Jika diperhatikan, dari berbagai pesan yang masuk, tidak jarang ditemukan pesan-pesan yang sama. Kalaupun ada perbedaan, hanya bersifat minor. Misal hanya mengganti nama pengirim. Sementara isi pesan, sama saja.

Bukannya ingin sok menggugat atau apalah, tapi sepertinya kecenderungan yang terjadi belakangan ini mengirim pesan permintaan maaf hanyalah sebuah rutinitas. Tidak ada lagi ketulusan yang membuat seseorang harus mengeluarkan effort untuk menunjukkan ketulusannya. Cukup menyalin pesan yang pernah diterima atau kalimat-kalimat indah yang ditemukan di internet, lalu mengirimkan kepada orang-orang yang dikenal.

Pengalaman yang sangat berbeda dengan yang saya alami dulu, ketika mengirimkan kartu ucapan kepada teman dan keluarga. Kemampuan menulis saya memang sangat kurang (masuknya tulisan tangan saya). Karenanya, ketika akan menulis di kartu ucapan, saya harus ekstra sabar agar guratan yang saya buat dapat terbaca oleh orang yang saya tuju. Belum lagi kreativitas menghias kartu ucapan agar terlihat menarik. Dan yang pasti, karena ditulis tangan, walaupun kalimat yang ditulis sama, menulis kartu ucapan tidak bisa menggunakan shortcut “copy-paste”.

Tapi, ya, namanya juga manusia. Saya tidak ingin memaksa atau menghujat cara orang lain mengutarakan permintaan maaf. Saya sekadar ingin berkeluh kesah.

Alasan lain yang membuat kartu ucapan semakin ditinggalkan adalah faktor biaya. Untuk mengirimkan kartu ucapan, setidaknya harus mengeluarkan uang untuk dua hal: kartu ucapan dan prangko. Sementara, jika menyebarkan ucapan melalui pesan digital, tidak perlu dana tambahan. Apalagi, pada momen spesial seperti ini, berbagai provider akan berlomba memberikan bonus pelayanan kepada pelanggannya.

Itu fakta yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi, seperti halnya effort menulis tangan alih-alih shortcut “copy-paste” tadi, masalah biaya kartu ucapan pun sebenarnya ada jalan keluar. Katakanlah harga sebuah kartu ucapan Rp3.000 dan perangko untuk pengiriman dalam kota Rp2.500. Biaya sebuah kartu ucapan Rp5.500.

Yang pelu diingat, selama menjalankan puasa, kita hanya makan dua kali dalam satu hari – saat sahur dan berbuka. Ada jatah makan yang dilewatkan, makan siang. Kenapa tidak mengalihkan dana makan siang untuk mengirim kartu ucapan? Bisa kan?

Katakanlah dalam satu hari, jatah makan siang Rp10.000 (yang sepertinya merupakan nilai terendah untuk masyarakat kota besar seperti Jakarta), berarti setidaknya dalam satu hari kita bisa mengirim sebuah kartu ucapan. Jika diakumulasi, dalam satu bulan, jumlah kartu ucapan yang dikirim akan lebih dari 30 buah – karena jatah makan siang setiap hari melebihi dana untuk mengirim sebuah kartu ucapan.

Soal waktu pengerjaan, jangan jadikan beban. Jadikan menulis kartu ucapan sebagai sarana berkumpul bersama keluarga. Ajak anak dan istri/suami (jika sudah berkeluarga) untuk bersama-sama menulis kartu ucapan. Lagian, daripada menonton acara televisi yang semakin lama semakin tidak jelas, seperti berkreasi bersama menulis kartu ucapan menjadi aktivitas yang sangat mengasyikkan.

Lebih dari itu, semakin banyak orang yang mengirim surat, kantor pos akan semakin senang dan punya kesempatan menghindar dari kebangkrutan. So, selamat menulis kartu ucapan. Jika punya kartu ucapan lebih, silakan kirim ke saya. Hehehehe…

Salam.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s