Think Again (2)

image

Masih soal iklan yang sama. Selain soal penting-tidaknya suatu profesi, hal lain yang menyita perhatian dari iklan tersebut adalah pernyataan soal upah dan kemampuan upah yang diterima untuk bertahan dalam kehidupan sehari-hari. “Enggak masalah kerja 15 jam sehari. Tidur cuma 5 jam. Masalahnya, gaji cuma bertahan sampai tanggal 15.”

Ada yang salah?

Ya, rangkaian kalimat itu yang bermasalah. Atau lebih tepatnya, pola pikir dalam pernyataan itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengobrol dengan salah seorang abdi dalem di Keraton Surakarta. Mengobrol ngalor-ngidul, sampai kemudian saya bertanya soal penghasilan yang mereka dapatkan. Menurut pengakuan abdi dalem tersebut, penghasilan yang diterima para abdi dalem keraton berkisar antara Rp75.000-150.000. Bahkan pendapatan paling mahal pun tidak mampu membeli tiket konser kelas festival boyband asal Korea.

Belum berhenti sampai di situ. Abdi dalem tersebut juga bercerita kalau tahun lalu upah mereka sempat tertahan selama 7-8 bulan. Selama masa itu, mereka tidak mendapatkan hak. Ketika hak itu keluar pun, tidak serta merta seperti yang seharusnya. Pembayaran dilakukan dengan dicicil.

Biaya hidup di Solo memang lebih rendah dibanding di Jakarta. Tapi tetap saja, yang dibicarakan di sini adalah uang yang bahkan tidak cukup untuk mengisi penuh tanki bensin mobil – dan harga bensin di Solo dan Jakarta sama saja. Lalu, apa mereka mengeluh soal pendapatan yang sudah habis walau baru tanggal 15? Mereka tetap melaksanakan tugas dan terus menjalani hidup meski pendapatan mereka (seharusnya) sudah habis berbulan-bulan yang lalu.

Sederhana saja. Ini hanya tentang kesadaran diri. Sadar dan menerima bahwa hidup yang dijalani adalah hidup kita, hidup sendiri, bukan hidup mereka. Kalau mereka mampu membeli kendaraan mewah, baju mahal, atau aksesori yang berkilau, ya sudah. Memang sudah rejeki mereka untuk menjalani hidup yang seperti itu. Sementara, hidup kita adalah yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki – walau bukan berarti pasrah begitu saja tanpa berusaha.

Godaan untuk ‘hidup mahal’ begitu kencang dihembuskan. Saya pun sangat merasakannya. Keinginan untuk terus dan terus membelanjakan uang yang dimiliki. Ingin ini, itu, yang sana, yang lain, semua. Rasa-rasanya tidak betah untuk sebentar saja memegang uang. Kalau sudah habis, ada rayuan yang tak kalah menarik. Cicilan, hutang dulu baru bayar kemudian, atau program-program promosi lain yang sangat menggiurkan.

Cara itu pula yang ditawarkan oleh iklan ini.

Untuk mengatasi masalah kehabisan pulsa dan kehabisan uang di tengah bulan, provider yang bersangkutan menawarkan program yang “pakai sesukamu dan bayar semaumu”. Sederhananya, konsep ini seperti kartu kredit – meski saya tidak tahu persis seperti apa persisnya program yang ditawarkan provider ini. Sementara, pasar yang dituju adalah golongan yang pendapatannya hanya sampai tanggal 15 tadi.

Melihat masalah?

Menurut logika ke-sotoy-an saya, program ini adalah ‘jebakan batman’. Maaf sebelumnya. Saya menulis blog ini tanpa kepentingan atau membela pihak tertentu. Saya menulis ini sebagai upaya penyadaran dan membentengi diri sendiri dari rayuan-rayuan manis promosi di luar sana.

Skenario yang mungkin terjadi seperti ini. Ketika tanggal 15, gaji si A sudah habis, begitu pula dengan pulsanya. Tapi berkat program ini, si A bisa terus berkomunikasi karena dia bisa membayar pulsa ketika sudah memiliki uang – yang dalam hal ini kemungkinan besar adalah ketika si A gajian bulan depan. Nah, apa yang terjadi dengan hidup A bulan depan? Gaji yang sebelumnya habis di tanggal 15 sangat mungkin hanya mampu bertahan sebelum tanggal itu. A harus mengeluarkan uang ekstra untuk mdmbayar pulsa yang dia gunakan bulan sebelumnya, sementara ada kebutuhan rutin yang harus tetap ia penuhi. Menuju kemakmuran? Think again.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s