Think Again (?)

Iklan Three

Layaknya media komunikasi lainnya, iklan saat ini bukan sekadar media promosi. Dia telah menjalani fungsi lain di luar fungsi lahiriahnya itu. Iklan bisa menjadi sarana pembentukan pikiran, pembelajaran, serta yang lainnya. Melalui iklan, dapat dibentuk pikiran bahwa wanita yang cantik adalah yang berkulit putih, tanpa noda, rambut panjang terurai, dengan tubuh tinggi semampai. Padahal, di luar itu, ada banyak definisi cantik. Bahkan, ada banyak wanita cantik yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori-kategori tersebut.

Itulah iklan. Hanya berdurasi kurang dari 1 menit, tapi memiliki efek yang luar biasa. Efek yang (sepertinya) sering dilupakan oleh pihak-pihak yang terkait dengan hadirnya iklan tersebut di tengah khalayak. Dan belakang ini, ada satu iklan yang sangat mengganggu saya. Iklan sebuah provider: three.

Saya yakin, jika Anda menyempatkan waktu menyaksikan televisi dan tetap bertahan ketika program yang Anda saksikan sedang menayangkan iklan, Anda tidak akan asing dengan iklan ini.

Kreatif. Saya akui tersebut. Seperti iklan-iklan sebelumnya, three menggugat kemapanan yang selama ini ada di masyarakat. Dalam iklan ini, mereka menyuarakannya melalui anak-anak kecil (dengan pemikiran yang sangat jauh lebih dewasa dari usia mereka).

Bukan soal omongan yang melebihi usia tersebut yang mengganggu kenyamanan saya – tepatnya bukan dalam proporsi yang utama.

Pada salah satu bagian, ada rangkaian kalimat seperti ini (kira-kira, karena saya tidak hafal benar kalimat yang sebenarnya): “Tapi hanya mengerjakan pekerjaan yang tidak penting. Membersihkan piring. Beres-beres kertas. Membawakan laptop.”

Mendengar rangkaian kalimat tersebut, ini pendapat pribadi, saya langsung berpikir bahwa pekerjaan yang dideskripsikan adalah office boy. Atau, setidaknya ajudan. Mungkin yang lebih keren adalah asisten pribadi (khususnya untuk deskripsi “membawakan laptop”).

Hmmm….

Yang mengganggu saya bukan karena saya berprofesi sebagai office boy, atau ajudan, maupun asisten pribadi. Yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah anggapan bahwa pekerjaan yang dilakukan tersebut tidaklah penting (disebutkan sebelum rangkaian kalimat yang saya kutip tadi).

Bukan saya ingin sok bijak atau apa, tapi saya memegang prinsip yang sangat sederhana. Tidak ada yang tidak penting di dunia ini. Anda berpikir rambut kemaluan tidak penting? Pikir ulang. Coba cari referensi. Rambut lebat yang tumbuh di sekitar organ vital punya fungsi tersendiri. Begitu pula dengan deskripsi pekerjaan yang disebutkan dalam iklan tersebut.

Mari berandai-andai sejenak. Ambil contoh kasus seperti yang juga disebutkan di iklan tersebut. Sebuah perkantoran di gedung tinggi. Karyawannya berjumlah ratusan mungkin ribuan orang. Memakai dasi, sepatu mengkilap, dan rambut yang tak lupa dipoles dengan minyak. Mayoritas pekerja di kantor tersebut berpenampilan sangat meyakinkan. Dengan latar belakang pendidikan yang tak juga kalah mentereng. Hanya sebagian kecil yang terlihat ‘tidak biasa’. Mengenakan seragam, dengan sepatu kusam, dan rambut yang kadang acak-acakan. Bahkan, tak jarang terlihat keringat membasahi wajah kelompok kecil ini. Merekalah office boy.

Jangan bicara soal latar belakang pendidikan, karena mereka tidak pernah mendaftarkan diri di perguruan tinggi. Selain itu, jumlah mereka pun hanya sedikit, karenanya di awal saya menyebut mereka kelompok kecil. Kalau dalam gedung tinggi tersebut ada sekitar 500 orang karyawan, jumlah office boy paling-paling tidak lebih dari 20 orang. Tidak mencapai 10 persen dari jumlah pekerja yang mentereng penampilannya.

Lalu, misalnya seperti ini. Suatu hari, 20 orang yang berpenampilan lusuh ini, yang bagaikan belek menempel di mata yang indah, memutuskan mogok kerja. Mereka tidak mau mengerjakan tugas sehari-hari. Kira-kira, apa yang akan terjadi pada 500 orang berpenampilan mentereng tersebut?

Menurut saya, yang akan terjadi adalah kekacauan. Baiklah, mungkin tidak akan terasa pada pagi hari. Tapi ketika aktivitas semakin tinggi, ketika kertas-kertas mulai berserakan, ketika mereka ingin secangkir kopi atau teh hangat untuk menyegarkan pikiran, ketika itulah mereka memerlukan orang-orang yang berpenampilan lusuh. Dan ketika yang mereka inginkan tidak didapatkan, ketika lingkungan kerja tidak lagi membuat mereka nyaman, yang terjadi adalah kekacauan. Dan, semua itu terjadi hanya karena sekelompok orang berpenampilan lusuh yang mungkin latar belakang pendidikannya di bawah standar program wajib belajar.

Masih berpikir yang mereka lakukan tidak penting?

Mungkin, dan ini hanya kemungkinan yang terpikir oleh saya, profesi tersebut dianggap tidak penting karena hanya menghasilkan pendapatan yang tidak seberapa. Uang (materi) menjadi penentu penting atau tidaknya profesi tertentu. Kalau memang begitu, guru honorer di pedalaman tidak penting, dong? Begitu pula dengan guru-guru mengaji yang dibayar hanya berdasar keiklasan orangtua murid.

Yang membuat iklan tersebut jadi lebih menyedihkan adalah karena kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut yang masih polos. Mulut yang masih buta tentang dunia. Mulut yang masih mencari warna. Dan, melalui iklan tersebut, mulut itu sudah dijejali ajaran, yang menurut saya, sesat. Sayang… sayang… sungguh sangat sayang. Semoga mereka tidak terjerembap dalam lubang kesesatan. Amin….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s