It’s My Choice

Damn I Love Indonesia

Bulan bahasa memang masih lama, tapi saya menulis ini karena membaca tulisan di blog milik teman. Di tulisan tersebut, teman ini seperti menggugat rasa sayang masyakat Indonesia terhadap bahasanya. Dan kalau tidak salah, yang dijadikan contoh kasus pada tulisan itu adalah saya (maaf kalau ternyata saya hanya ge er).

Pernah pada suatu masa saya bersikap seperti teman itu. Saya sangat membenci orang-orang yang menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Entah karena alasan apa orang-orang itu lebih memilih menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Ada yang bilang agar terlihat lebih ‘cerdas’, menaikkan gengsi, atau apalah. Tapi menurut saya, pada intinya, semua itu karena kemalasan. Ya, masalahnya adalah orang-orang yang menggunakan bahasa asing terlalu malas membuka-buka kamus bahasa Indonesia.

Kata-kata atau berbagai istilah yang datang dari luar diterima begitu saja. Padahal, mungkin saja kata dan istilah itu ternyata memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Download misalnya yang ternyata bisa dipadankan dengan unduh. Maknanya memang tidak seratus persen sama seperti download, tapi pada intinya makna yang dikandung kata unduh dapat mewakili konsep download. Sialnya, saya termasuk orang yang seperti itu. Orang yang malas membuka lembar demi lembar kamus bahasa Indonesia yang begitu tebal, yang bahkan dengan melihatnya saja sudah membuat lelah. Hahahaha…. (cari-cari alasan).

Yang kemudian, entah karena takut dibilang menjilat ludah sendiri atau memang atas pertimbangan lain, sikap saya pada penggunaan bahasa asing pun berubah. Saya tidak lagi membenci mereka. Meski terkadang merasa terganggu dengan komunikasi yang dilakukan, tapi saya menerimanya sebagai ‘itulah cara mereka berkomunikasi’. Bahkan, saya pun kemudian menjadi bagian dari mereka. Memasukkan kata atau istilah asing dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, kadang menggunakan bahasa asing walaupun (jika dipikir-pikir) lebih mudah mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia.

Apa kemudian saya termasuk orang yang tidak nasionalis? Mungkin saja. Saya lebih suka mengenakan jeans dan kemeja dibanding jarik. Saya lebih suka mengenakan sepatu dan kaos kaki. Saya pun lebih senang mengetik di komputer atau laptop dibandingkan membuat catatan di atas daun lontar atau sabak (kok sepertinya jadi lebay, ya?). Tapi, ya, kalau memang karena alasan-alasan tersebut saya dicap tidak nasionalis, saya dengan besar hati menerimanya.

Kembali ke soal bahasa. Beberapa tahun yang lalu saya sempat membuat tulisan mengenai kesalahan pengguna bahasa Indonesia.

Menurut aturan yang pernah saya pelajari, pembentukan akronim harus mematuhi kaidah yang berlaku. Salah satu kaidahnya, pembentukan akronim harus seragam. Jika yang diambil adalah suku kata pertama, maka itu berlaku untuk semuanya. Posyandu merupakan salah satu contoh yang tidak mematuhi kaidah tersebut. Contoh lain? Coba perhatikan nama-nama klub sepakbola yang ada di Indonesia.

Tapi, tunggu dulu. Apa saya barusan menulis klub? Ah, tidak. Saya sudah menggunakan bahasa asing, alih-alih coba mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Lalu, apa saya harus merasa bersalah? Tidak. Lebih tepatnya tidak peduli.

Alif Danya Munsyi alias Remy Silado atau nama aslinya Yapi Panda Abdiel Tambayong pernah menulis buku yang berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Sembilan dari 10 berarti 10 persen. Jumlah yang jauh lebih besar dibanding yang pernah disebut seorang dosen ketika kuliah dulu.

Baiklah, gunakan saja persentase yang diambil dari judul buku itu. Pada kalimat pertama paragraf ini saja, berarti ada sembilan kata yang asing sementara hanya satu yang pribumi. Yang mana kelompok yang mana? Jangan tanya saya. Coba tanya ke ahli bahasa.

Saya pun jadi teringat pada salah satu mata kuliah ketika duduk di semester pertama dulu. Kuliah tentang kebudayaan. Menurut seorang antropolog, Koentjaraningrat, ada tujuh unsur kebudayaan. Salah satunya adalah bahasa. Sebuah kelompok dapat disebut berbudaya jika memiliki bahasa (salah satunya). Bangsa Indonesia sudah memiliki unsur itu.

Yang perlu diingat, budaya merupakan produk kelompok/masyarakat yang tinggal di dalamnya. Budaya Indonesia merupakan produk yang dihasilkan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dan, sifat masyarakat (manusia) itu sangat dinamis – jika mereka ‘hidup’. Bangsa yang hidup adalah bangsa yang terus beraktivitas, berkembang, berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ini tentunya memiliki dampak pada unsur-unsur yang ada di masyarakat – termasuk bahasa.

Sayangnya, bagaimanapun harus diakui, perkembangan bangsa Indonesia tidak sepesat perkembangan yang terjadi di bagian lain di muka bumi ini. Kebudayaan yang berkembang di bangsa lain terjadi jauh lebih cepat. Dan untuk mengantisipasi (memangkas) jarak ketertinggalan itu, masyarakat Indonesia lebih memilih menyerap kebudayaan asing – daripada coba membuat kebudayaan tandingan.

Salah? Kayaknya ini masalah pilihan. Lagipula, apa ada kebenaran absolut di muka bumi ini?

Kita menerima dengan tangan terbuka ketika komputer datang. Lalu, disusul dengan internet, email, laptop, friendster, facebook, twitter, dan lainnya. Kita menggunakannya untuk keperluan sehari-hari. Baik itu untuk urusan pekerjaan, percintaan, atau sekadar berkomunikasi dengan sesama umat manusia.

Berbagai teknologi yang datang tersebut tidak sendiri. Bersama mereka, juga turut dibawa kata atau istilah baru. Kita pun menerimanya sebagai paket tak terpisahkan dari teknologi yang masuk.

Memang, ada beberapa usaha yang coba mengurangi besarnya paket yang datang. Unduh salah satu contohnya. Tapi sayangnya, untuk beberapa kasus (dan sepertinya menjadi kasus yang paling banyak terjadi), terjadi ketidaksepakatan dalam usaha mengurangi besarnya paket yang datang tersebut. Untuk laptop misalnya. Ada yang menulisnya tetap sesuai asli ada pula yang menggantinya dengan komputer jinjing. Dan lagi, bukankah komputer juga merupakan bagian dari paket yang masuk?

Halah…. jadi ngelantur enggak jelas. Intinya, yang mau saya katakan, saya akan terima dengan hati terbuka jika dibilang tidak nasionalis. Bukan karena saya tidak cinta pada budaya dan bangsa ini. Hanya saja, saya menyadari jarak yang begitu jauh antara perkembangan budaya bangsa ini dengan budaya lain di luar sana. Dan melihat perkembangan yang terjadi di negara ini, saya kok pesimis ya bangsa ini mampu mengejar ketertinggalan tersebut. Jadi, daripada saya ikut-ikutan tertinggal, saya memilih menerima paket yang datang secara ‘bulat-bulat’.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s