RectoVerso (Prelude)

image

Setelah sekian lama, setelah mendengar cerita dari berbagai orang (bahkan mungkin orang-orang itu sudah lupa tentang yang mereka ceritakan pada saya), akhirnya kesampaian juga menonton film ini. Dan tanpa mengurangi rasa hormat atau penghargaan atas kreasi semua pihak yang terlibat dalam terciptanya film ini, saya menontonnya di laptop – setelah menyalin arsip unduhan seorang teman.

Maafkan. Bukan karena tidak mau keluar uang (meski harus diakui ada pula pertimbangan itu), tapi ini soal pilihan. Tiap kali menonton di bioskop atau tempat-tempat pemutaran film lainnya, selalu saja ada yang mengganggu. Penonton lain yang sibuk berdiskusi, cahaya dari layar telefon genggam, belum lagi teman menonton yang terkadang ‘menuntut’ terjadinya argumentasi selagi film masih diputar. Dan pada akhirnya, menonton di dalam kamar dengan menggunakan layar kecil dan earphone merupakan pilihan terbaik sampai saat ini.

Telat? Mungkin. Bagi sebagian orang cepat adalah pilihan yang utama. Banyak yang berlomba menjadi yang paling pertama, termasuk ketika ada film baru. Tapi, adakah beda menjadi penonton paling awal dengan penonton yang telat? Toh film yang ditonton sama saja. Ya… selama bisa mengatasi ‘berbagai cerita dan komentar’, menjadi penonton telat bukanlah dosa. Lagipula, sepertinya karena saya belum pernah mengalami, menjadi penonton awal memerlukan usaha lebih (mengantre) yang mungkin dapat mengurangi antusias ketika menonton (karena sudah terlalu lelah). Tapi, sekali lagi, ini soal pilihan.

Dari sekian banyak cerita yang saya dengar mengenai film ini, boleh dikatakan hampir semua bernada positif. Bahkan sangat positif. Akting Lukman Sardi yang memukau, pengambilan gambar yang tanpa cela, sampai komentar Dee (penulis kumpulan cerpen RectoVerso) yang tidak pernah menyangka ceritanya dapat menjadi film yang sangat bagus. Saya berusaha menyingkirkan semua ‘masukan’ itu sebelum mulai menonton. Saya ingin menjadi penonton yang netral. Saya tidak ingin terpengaruh apapun saat menonton film ini. Hanya saja, itu sesuatu yang sangat sulit.

Ketika film dimulai, secara tak sadar saya menyiapkan diri saya pada sesuatu yang sangat spesial. Harapan saya membuncah. Saya ingin dibuai oleh film ini. Saya ingin menangis saat menontonnya nanti. Saya ingin….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s