Idolized

Saya sering mendapat pandangan tak mengenakkan ketika ditanya soal musik yang saya suka. Sarah McLachlan dan Russian Red mengisi daftar diva yang suaranya kerap menemani hari-hari saya. Dari dalam negeri, The SIGIT, Saras Dewi, Dewa 19, PADI, dan masih banyak yang lainnya. Di luar itu, RHCP, Pearl Jam, The Cure, dan Pulp pun kerap mengalun ke dalam telinga saya. Tapi, di luar itu semua, karya-karya Radiohead yang paling sering saya dengar, paling menginspirasi saya. Dan, ketika menyebut nama band asal Oxford, Inggris, inilah pandangan aneh itu saya terima.

Kalau dipikir-pikir, wajar saja orang-orang itu memberikan pandangan aneh pada saya. Dilihat dari penampilan, saya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang mengidolakan Radiohead (bahkan saya tidak bisa mendeskripsikan penampilan yang seperti apa yang menjadi ‘standar’ penggemar Radiohead). Bahkan, saya lebih terlihat sebagai orang yang jarang mendengarkan musik. Penampilan yang cenderung kaku, miskin warna, dan hal membosankan lainnya.

Begitulah saya. Orang yang sangan minim memperhatikan soal penampilan. Soal pencitraan yang dibuat dari penampilan, soal pesan yang coba disampaikan, atau hal-hal lain yang membuat penampilan menjadi hal penting untuk diperhatikan.

Idola Komersialisme
Dalam dunia modern, idola bukan sekadar sekelompok orang yang berteriak. Menjerit histeris ketika sosok (-sosok) yang dipujanya tampil di depan publik. Bukan sekadar air mata atau suara parau karena terlalu bersemangat berteriak. Idola kini sudah menjadi bagian dari roda ekonomi. Idola-idola baru diciptakan untuk menjadi mesin pengeruk uang.

Pengidolaan seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu hal tidak dianggap lengkap sebelum orang itu atau mereka memiliki sesuatu yang terkait dengan idola tersebut. Kita akan mudah menebak kesukaan atau hobi atau apapun itu dengan melihat gambar pada kaos yang dikenakan seseorang. Baik itu band, penyanyi, sutradara, aktor/aktris, penulis, dan lainnya. Semua idola ditampilkan di kaos (salah satunya). Dengan mengenakan kaos yang menampilkan sosok sang idola, seperti menjadi pengesahan bahwa seseorang tersebut menjadi pengidola. Lebih sah lagi jika ditambah dengan berbagai benda koleksi lainnya. Tapi, itu mereka. Bukan saya.

Bagi saya, mengidolakan sesuatu adalah karena ada hal-hal tertentu pada sesuatu itu. Dalam kasus Radiohead misalnya. Saya merasakan pengaruh yang cukup besar dari musik yang dihasilkan Thom Yorke dkk. Tidak hanya ketika mengerjakan sesuatu, tapi secara luas dalam keseharian yang saya lewati. Begitu pula ketika saya mengidolakan sebuah klub sepakbola.

Tidak ada alasan spesifik yang bisa saya berikan mengenai pengidolaan saya pada sebuah klub sepakbola. Karena klub tersebut merupakan tim juara? Karena mereka salah satu tim terbaik di dunia? Karena mereka punya sejarah yang mengagumkan? Hmmm… sulit mengatakan demikian. Yang pasti, ada rasa yang ikut dalam tiap perjalanan tim tersebut. Ada kecewa ketika kalah, ada pula bahagia ketika menang diraih.

Namun, sama dengan Radiohead, jangan tanya saya mengenai aksesori terkait klub tersebut. Di dalam lemari pakaian, ada beberapa kaos sepakbola dan tidak ada satupun kaos tim yang saya idolakan. Bingung? Jangan.

Jangan pula tanyakan apakah di.dinding kamar saya tertempel poster atau gambar pemain sepakbola idola saya. Tidak ada satu pun. Dulu pernah. Dulu sekali, ketika saya duduk di bangku SMP. Dinding kamar penuh dengan gambar para pemain dari klub idola saya. Tapi tak lama, karena kemudian gambar-gambar itu saya bersihkan dari dinding.

Mengidolakan sesuatu, bagi saya, bukan tentang menunjukkan kepada dunia. Seperti yang dilakukan banyak orang. Seperti yang diharapkan sebagian orang. Diharapkan, ya karena ada perputaran uang yang dilibatkan dalam pengidolaan tersebut.

Bagi penggemar sepakbola, juga yang mengikuti gaya hidup, nama David Beckham pasti tidak asing. Memulai karier di Manchester United, lalu pindah ke Real Madrid, LA Galaxy, AC Milan, dan kini di PSG.

Bicara soal karier, masa keemasan Beckham sudah lama berlalu. Keputusannya pindah ke LA Galaxy tidak lepas dari kesadaran bahwa usianya tak lagi muda dan kondisi fisiknya sudah turun. Itu soal karier, beda dengan urusan ekonomi. Selama 10 tahun terakhir, walau tidak pernah menerima penghargaan pemain terbaik dunia, nama David Beckham tidak pernah keluar dari tiga pemain sepakbola dengan penghasilan terbesar. Bahkan, kadang mengalahkan penghasilan yang didapatkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo – dua pemain terbaik dunia saat ini. Yang mengherankan, ketika kemudian pindah ke PSG, Beckham memutuskan menyumbangkan gaji yang diterimanya. Wow… banyak yang akan berpikir dia berhati sungguh mulia. Tapi nyatanya, tidak juga.

Dalam sistem idola komersialiasi, pencitraan (image) sangat penting. Bukan semata untuk semakin menyebarluaskan pengidolaan, tapi juga semakin mengkomersialisasi pengidolaan tersebut. Dalam kasus Beckham di PSG, memang benar dia menyumbangkan gaji yang diberikan klub asal ibukota Prancis tersebut. Tapi, bukan berarti dia sama sekali tidak mendapat bayaran dari klub. Beckham mendapat royalti yang cukup besar dari setiap merchandise dirinya yang terjual. Dan dengan membentuk citra (image) sebagai orang yang dermawan, bayangkan simpati yang timbul di masyarakat terhadap suami Victoria Beckham ini. Yang berujung pada penjualan berbagai merchandise tersebut. Ada perputaran uang yang terlibat dalam proses tersebut.

Jangan bayangkan uang yang terlibat hanya dalam jumlah yang kecil. Ini soal pencitraan, dan segala sesuatu yang terkesan “murah” akan sangat “menjual”.

Ini seperti membludaknya pembeli di saat pusat perbelanjaan memasang promo “sale” atau “diskon”. Dengan potongan harga yang ditawarkan, para pembeli tergoda untuk membelanjakan uang mereka. Contoh lain, penjualan musik yang dilakukan Radiohead.

Karena dianggap nilai kontrak yang diminta terlalu besar, band ini pun ditolak label rekaman. Mereka akhirnya memutuskan menjual albumnya sendiri. Para penggemar bisa membeli lagu-lagu dari album terbaru mereka dari website resmi Radiohead. Bahkan, penggemar bebas menentukan nilai setiap lagu tersebut. Hasilnya, pendapatan Radiohead dari cara tersebut lebih dari dua kali lipat dari nilai kontrak yang mereka minta ke label rekaman. Terdengar mengherankan? Akan sangat normal jika Anda menyadari besarnya pengaruh pencitraan dalam proses konsumerisme.

Dalam Lingkaran, tapi Tidak Tenggelam
Mengulang yang telah saya kemukakan, bagi saya, mengidolakan sesuatu bukan berarti harus membeli berbagai aksesori yang terkait dengan idola tersebut. Inilah pengidolaan yang sangat diharapkan dalam idola komersialisasi. Rasa pengidolaan yang mendorong masyarakat untuk membelanjakan uang mereka.

Hanya saja, bukan berarti bahwa pengidolaan saya sama sekali tidak melibatkan uang. Itu sesuatu yang sangat konyol. Dalam beberapa hal, pengidolaan harus (mau tak mau) melibatkan uang. Bahkan walau sang idola bukanlah sosok yang sangat mementingkan uang.

Bagaimana mungkin mengaku mengidolakan Pramoedya jika tidak pernah membaca karya-karyanya. “Temen-temen suka sama karyanya Pram, makanya gua ikutan suka”, “Kesannya kaum rebel gitu”, dan sebagainya. Atau, kenapa ngaku mengidolakan Sapardi? “Soalnya sering baca puisinya di undangan pernikahan. Romantis banget.”

Ada proses yang harus dilalui sebelum akhirnya mengidolakan sesuatu. Sama seperti menjalin hubungan dengan seseorang. Mulai dari menyapa, berkenalan, saling mendalami, dan seterusnya. Tidak mau masuk ke dalam sistem komersialisasi pengidolaan bukan berarti sama sekali tidak melibatkan uang.

Dan tolong, jangan pula menganggap idola sama dengan gaya hidup. Mengidolakan sesuatu tidak harus menjalani hidup seperti sang idola. Tidak perlu juga mencibir atau mencemooh ketika saya bilang tidak akan menonton pertandingan persahabatan ketika klub sepakbola idola saya datang ke Jakarta beberapa waktu nanti. Saya punya cara dalam mengidolakan sesuatu. Dan jika cara saya itu tidak sesuai dengan cara Anda mengidolakan sesuatu, bukan berarti Anda berhak menghakimi cara saya sebagai cara yang salah.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s