Happy without Expectation

Expect-Nothing

Hari ini, Kompas mengangkat Pelabuhan Sunda Kelapa dalam salah satu artikelnya. Tentang kehidupan yang terjadi di sana, disertai kejayaan masa lalu sebagai kilasan latar belakang. Membaca artikel itu, saya jadi teringat seorang teman yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Kebetulan, teman ini menetap di Yogya dan karena kebetulan sedang mengunjungi orangtua, dia jalan-jalan ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan kawasan Kota Tua.

Teman ini tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya saat berkunjung ke salah satu pelabuhan yang sangat penting di zaman penjajahan dulu. Sebelum berkunjung, di dalam kepala teman ini, sudah terbayang suasana yang begitu istimewa. Kehidupan pelabuhan yang hiruk-pikuk. Suasana yang bisa menjadi bukti bahwa dulu dia merupakan salah satu pelabuhan yang penting. Tapi yang ditemui?

Berpikir positif, teman ini menghibur diri bahwa dia datang di saat yang kurang tepat. Bahwa ketika dia berkunjung suasana pelabuhan sedang sepi.

Saya lalu mengingat kejadian yang pernah saya alami, terutama yang berhubungan dengan wisata, kesenangan, kebahagiaan, dan sebagainya.

Bulan lalu, saya menonton pertujukan Teater Koma. Mendengar nama Teater Koma, terbayang salah satu teater besar yang sudah puluhan tahun bergelut dengan dunia teater. Jangan tanyakan pula tentang kualitas yang dihasilkan. Tiket yang biasanya habis di setiap pertunjukan mungkin bisa menjadi dalih bahwa karya mereka diterima dengan baik oleh masyarakat. Karenanya, ketika datang ke gedung pertunjukan, saya mempersiapkan diri saya untuk dibuai. Layaknya akan bertemu dengan Scarlett Johanssen, saya mempersiapkan diri saya untuk jatuh cinta. Tapi yang kemudian terjadi?

Di akhir pertunjukan, alih-alih terbuai dan jatuh cinta, saya malah merasakan kekecewaan yang begitu besar. Ini teater yang tiketnya hampir selalu habis sampai-sampai beberapa kali harus menambah jadwal pertunjukan? Atau, memang yang seperti ini yang disukai oleh masyarakat Indonesia (terutama Jakarta)? Entahlah, saya tidak bisa menilai karena ini merupakan pengalaman saya menonton pertunjukan Teater Koma – sehingga tidak bisa membuat perbandingan.

Mungkin, dan ini hanya sebagai kemungkinan, yang menjadi masalah adalah diri saya – bukan Teater Koma. Sebelum datang ke gedung pertunjukan, saya sudah membangun tembok yang cukup besar di dalam kepala. Sudah ada ekspektasi bahwa saya akan dibuat terbuai, jatuh cinta. Namanya juga ekspektasi, harapan, kalau tidak bisa terwujud maka yang timbul adalah kekecewaan. Mungkin saja yang sebenarnya terjadi adalah ekspektasi saya yang terlalu berlebihan. Bahwa memang seperti itulah pertunjukan Teater Koma. Pertunjukan seperti itulah yang membuat nama mereka besar dan diakui sebagai salah satu teater besar dan berpengaruh yang ada di Indonesia.

Perbandingan yang lain terjadi pada akhir 2010. Saat itu, bersama teman-teman kantor, saya sedang ada pekerjaan di Bali. Suatu hari, saya dan beberapa teman harus melakukan perjalanan ke Ubud. Kami berniat melakukan sesi foto di sebuah pura yang ada di pinggir atau tengah-tengah sawah. Karena saat itu menginap di Denpasar, kami harus berangkat sebelum azan subuh berkumandang.

Kondisi mental yang saya alami saat itu hanya biasa-biasa saja. Saya memang suka melakukan perjalanan (itu membangun nilai positif), tapi ada beberapa hal yang membangun nilai negatif. Pertama, sebenarnya saya tidak terlalu penting untuk ikut dalam rombongan itu. Hanya karena saya dibutuhkan sebagai penengah jika terjadi percekcokan makanya saya ikut dalam perjalanan itu. Kedua, pura yang dimaksud pun belum diketahui letak pastinya. Hanya ada di Ubud, begitu kabar burung yang didengar. Tapi, ya sudahlah.

Perjalanan semakin negatif ketika kemudian kami harus menerima fakta bahwa pura yang dimaksud tidak dapat ditemukan. Kami gagal. Tapi kemudian, muncul ide alternatif. Memotret sabung ayam yang dilalukukan di sebuah pura. Dan, di sinilah, tanpa pernah saya bayangkan, saya jatuh cinta. Saya jatuh cinta pada budaya dan masyarakat Bali. Pada keramahtamahan, kesederhanaan, dan kesantunan mereka. Sebelumnya, saya tidak berharap akan mengobrol dengan penduduk setempat, terlebih disuguhi segelas kopi serta serangkai cerita tentang masyarakat dan kebudayaan Bali.

Dua pengalaman pribad (ditambah pengalaman seorang teman) yang mungkin akan menjadi bekal saya mulai saat ini: expect nothing. Just do it. Saya tidak mau berharap semua yang saya lakukan saat ini akan membuat saya menjadi orang terkenal, sukses, punya uang banyak. Saya hanya ingin bersenang-senang dengan hobi, imajinasi, dan kehidupan saya. Kalaupun ternyata senang-senang tersebut membawa saya pada tingkatan yang lebih tinggi: alhamdulillah. Tetapi, kalaupun tidak, setidaknya saya sudah bersenang-senang.

Salam.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “Happy without Expectation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s