Area Khusus Wanita: Haruskah Ada?

Foto kiriman seorang teman :d
Foto kiriman seorang teman :d

Diawali dengan gerbong khusus wanita yang lalu diikuti dengan ruang khusus wanita di Transjakarta. Saat pertama membaca tentang keputusan itu, saya langsung berpikir “Pentingkah?” Jujur saja, adanya keputusan itu, menurut saya, seperti melanggengkan stereotipe yang selama ini ada di masyarakat. Bahwa wanita adalah mahluk yang lemah, mahluk yang harus dilindungi dan diberi perhatian khusus.

Di tengah persamaan derajat wanita-pria yang sudah lama diperjuangkan, dan beberapa tahun belakang ini mulai menunjukkan hasil, adanya keputusan ruang (gerbong) khusus wanita seperti sebuah kemunduran. Wanita yang berusaha keras agar kedudukan mereka sederajat dengan pria kembali harus menerima kenyataan bahwa mereka perlu ‘perhatian khusus’. Apalagi, dalam hal Transjakarta, ruang khusus yang diperuntukkan bagi wanita adalah bagian depan – bagian yang menjadi favorit saya ketika naik Transjakarta.

Hanya saja, melihat kenyataan sehari-hari, sepertinya keputusan tersebut memang layak untuk dibuat. Tanpa bermaksud tidak menganggap penting kebutuhan wanita, tapi ruangan khusus harusnya dibuat tidak hanya bagi wanita.

Di Transjakarta, misalnya. Sebagai seseorang yang cukup sering memanfaatkan sarana transportasi ini, seringkali saya melihat keadaan yang cukup menyedihkan. Pria muda yang sehat walafiat (berdasar hasil penglihatan) duduk dengan nyaman dan tenang sementara di hadapannya berdiri seorang pria tua yang kesulitan bertahan di antara kerumunan orang yang berdesakkan di dalam Transjakarta. Bahkan, tidak jarang petugas di dalam Transjakarta harus berteriak dan meminta secara khusus agar penumpang yang duduk memberikan kursinya kepada wanita hamil yang baru saja naik.

Harus diakui, manusia Jakarta, walau tidak semua, adalah orang-orang yang egois. Sikap mental mereka tidak peduli pada keadaan yang dirasakan orang lain. Mereka terlalu menuntut hak, tanpa sadar bahwa dalam beberapa kondisi hak yang mereka tuntut akan berdampak pengurangan (mungkin pula menghilangkan) hak orang lain.

Sebagai sesama penumpang Transjakarta, semua orang membeli tiket dengan harga yang sama untuk dapat memanfaatkan sarana transportasi tersebut. Dalam hal ini, semua penumpang memiliki hak yang sama – toh jumlah uang yang dikeluarkan pun sama. Setiap penumpang berhak duduk dan menikmati perjalanan dengan nyaman. Sayangnya, pada saat-saat tertentu, jumlah tempat duduk yang disediakan tidak cukup untuk memenuhi hak tersebut. Yang terjadi, hanya sebagian penumpang yang mendapatkan hak untuk duduk.

Memang, di dalam Transjakarta ada stiker yang menuliskan tempat duduk diutamakan bagi wanita hamil, lansia, atau orang-orang berkebutuhan khusus. Tapi, stiker ini hanya sebuah himbauan. Ajakan untuk mengetuk kesadaran para penumpang. Dia tidak memiliki kekuatan hukum. Dan jika ada yang melanggarnya, tidak akan ada sanksi. Di sinilah diperlukan kesadaran diri dari setiap penumpang.

Itu baru masalah tempat duduk. Sementara, dalam kenyataannya, masih banyak kondisi ‘negatif’ lain yang dialami kaum wanita saat menggunakan sarana transportasi umum. Pelecehan seksual kerap terjadi. Tidak hanya di kereta, tapi juga di Transjakarta. Penumpang yang berdesak-desakan dimanfaatkan sebagian oknum untuk memuaskan hasrat mereka. Pada beberapa kejadian, korban berani melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang sehingga pelaku bisa ditangkap. Tapi seringnya, penumpang tidak berani mengadukan pelecehan yang mereka alami. Malu menjadi hal yang sering dijadikan alasan. Sudah malu dilecehkan, masa masih mau mempermalukan diri melaporkan diri ke pihak berwajib dan membuat pernyataan tindak memalukan yang baru saja dialami?

Pada kesempatan lain, ada pula penumpang yang tidak sadar dengan pelecehan yang dialaminya. Seorang teman pernah mengalaminya. Saat itu, dia pulang dari kantor menggunakan kereta api. Penumpang di dalam gerbong kereta penuh sesak. Dorong mendorong kerap terjadi. Apalagi ketika kereta berhenti di stasiun dan ada penumpang yang naik dan turun. Sampai kemudian, teman ini tiba di stasiun yang dituju. Berhasil keluar dari gerbong yang penuh sesak, teman ini merapikan pakaiannya. Dia sangat terkejut ketika kemudian menyadari rok yang dikenakannya basah. Ada cairan yang menempel di roknya, dan cairan itu bukan berasal dari tubuhnya. Ketika kemudian mencolek dan mencium cairan di rok, dia menyadari cairan itu adalah sperma. Bisa dibayangkan yang dia rasakan. Terkejut bukan kepalang. Seketika, dia langsung lari menuju rumah dan ketika tiba di rumah dia langsung membuang rok tersebut.

Maish banyak ‘pelecehan’ lain yang dialami wanita ketika berada di transportasi umum. Sebuah pengakuan, entah bisa dikategorikan pelecehan atau tidak, tapi saya pun pernah mengalami hal seperti itu – tentunya bukan sebagai korban. Dalam bus yang penuh sesak, seorang wanita menyelak di depan saya. Untungnya, hahahaha saya memang berengsek, dia berdiri tepat di depan saya dan kami saling berhadapan. Begitu dekat hingga dada kami saling menekan. Tidak nyaman, itu yang saya rasakan entah dengan wanita itu. Tapi karena kondisi bus yang penuh sesak, tidak mungkin bagi saya untuk mengubah posisi berdiri. Walhasil, yang saya lakukan hanya berpura-pura tidak peduli pada kondisi itu. Sebagai pembelaan, itu tidak saya lakukan dengan sengaja. Itu sebuah kecelakaan, yang mengasyikkan. Guilty pleasure, for me.

Dengan berbagai kenyataan seperti itu, memang sudah selayaknya dibuat ruangan (gerbong) khusus. Tidak hanya bagi wanita, tapi juga bagi orang-orang yang memerlukan ‘perhatian khusus’. Dan bagi wanita, mereka harus terima bahwa pada hal tertentu mereka tidak sederajat dengan pria. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi lebih karena mental sebagian dari kita yang tidak siap dengan hal itu.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “Area Khusus Wanita: Haruskah Ada?

  1. Yup, tapi yang jadi masalah para wanitanya sendiri yang sering menyia-nyiakan area khusus itu, menurut saya seharusnya dibagi dua (yang benar2 sama luas) area khusus wanita dan pria, di tengah2 yang tepat pintu kursi penumpang prioritas (biar mereka gak perlu jalan jauh juga untuk dapet duduk). Yang paling menjengkelkan kalau wanitanya sendiri menyia-nyiakan sehingga area depan menjadi mubazir. Lebih bagus benar2 dibagi dua (dan dijalankan secara tegas), juga selama ini sudah ada kursi prioritas tapi belum dijalankan secara konsisten aja. Kalau bicara soal pelecehan sesama jenis sih, masa sih gak bisa membela diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s