Emansipasi dan Relasi

IMG_1828

Kemarin siang, seorang teman meminta pendapat tentang emansipasi, relasi sederajat antara wanita-pria, Kartini, dan hal-hal seputar itu. Beberapa jam sebelum pembicaraan dengan teman tersebut, saya melihat sebuah iklan acara di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia (TransTV). Walau ketika membuat tulisan ini saya belum pernah melihat tanyangan acara yang dimaksud, yang membuat saya cukup terganggu adalah judul acara tersebut: “Harta, Tahta, Wanita”.

Menanggapi pertanyaan tentang emansipasi, saya hanya memberikan jawaban singkat “sesuatu yang sudah usang”. Secara umum, di Indonesia, isu persetaraan gender sepertinya sudah menjadi hal yang tidak perlu lagi dibahas. Di luar mengenai masalah gender itu sendiri yang sepertinya ‘hanya dibuat/diadakan menjadi penting untuk dibahas dan dipersoalkan’, ada beberapa kenyataan yang bisa menjadi contoh bahwa sudah terjadi persetaraan antara wanita-pria di negeri ini. Dalam dunia modern, Megawati dan Sri Mulyani bisa menjadi contoh sosok penting untuk isu kesetaraan gender. Yang pertama berhasil menjadi presiden, sementara yang kedua berhasil membuat prestasi yang luar biasa dan dianggap sebagai salah satu calon presiden di masa depan. Selain kedua sosok tersebut, masih banyak sosok lain yang bisa menjadi contoh.

Di luar itu, sayangnya, memang harus diakui ada beberapa hal yang memuat isu kesetaraan menjadi ‘agak penting dan perlu’ untuk dibahas. “Istri itu harus nurut sama suami, harus ngalah.” Kalimat yang mungkin tidak asing lagi bagi sebagian dari kita. Pandangan ‘tradisional’ yang masih terpelihara dengan rapi.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Sebagai pasangan hidup, istri memang ‘perlu’ mengalah kepada suami. Hanya saja, pernyataan tersebut masih kurang lengkap. Sebagai pasangan hidup, sudah selayaknya pula suami ‘perlu’ mengalah kepada istri. Menuruti kemauan istri. (Sepertinya saya akan masuk ke teritorial yang ‘asing’ dan kesoktahuan saya akan segera membuncah)

Hal ini berhubungan dengan pertanyaan lain yang dilontarkan teman tersebut, kesetaraan relasi wanita-pria. Menurut saya, relasi wanita-pria sungguh amat sangat tergantung pada masing-masing individu. Dalam lingkup yang sederhana, pernikahan misalnya – berkaitan dengan kalimat stereotip di atas tadi. Menurut bayangan idealisme saya, hubungan wanita-pria dalam institusi yang bernama pernikahan adalah kesadaran mengenai pasangan hidup. Bukan sekadar ciuman, hembusan napas-berat yang tidak teratur, hasrat yang menggebu, jantung yang berpacu kencang, tubuh yang diselimuti keringat, dan seterusnya.

Saya jadi ingat cerita seorang teman yang lainnya. Ketika sudah menjalani pernikahan lebih dari satu tahun, teman ini berkata “Hasrat untuk ML begitu menggebu-gebu selama 1 bulan pertama. Setelah itu, keinginan untuk cepat pulang karena didorong ‘mencari teman cerita’. Teman ngobrol.” Selanjutnya, teman ini menggarisbawahi ‘kenyamanan menjadi teman/lawan berbicara’ sebagai hal yang penting dalam mencari pasangan hidup.

Begitulah dalam konsep idealisme di dalam bayangan saya. Sebagai teman/lawan berbicara, sebuah pasangan harus sama-sama memiliki toleransi yang sangat besar. Tidak hanya pada salah satu pihak, tapi keduanya. Kalau menurut teman saya yang pertama tadi, jangan malu bagi seorang pria untuk melakukan pekerjaan domestik rumah tangga, seperti menyapu, mencuci baju, memasak, pergi ke pasar, dan sebagainya. Dan ketika membaca hal tersebut, saya hanya tersenyum-senyum. Adakah alasan yang membuat hal-hal seperti itu menjatuhkan kewibawaan seorang pria?

Dengan berbagai kenyataan yang saya lihat, alami, dengar, dan sebagainya, saya punya cukup alasan untuk mengatakan isu kesetaraan wanita-pria sudah usang. Melihat begitu terbukanya berbagai kesempatan bagi kamu wanita untuk masuk ke dunia yang selama ini menjadi monopoli kaum berjakun, kesetaraan apalagi yang dipermasalahkan? Yang justru mungkin harus dipermasalahkan adalah kesempatan yang dimiliki kaum berjakun. Pada kondisi tertentu, ada profesi yang tidak terbuka untuk kaum pria. Atau, kalaupun ada kaum pria yang berhasil menjalani profesi tersebut, mereka harus ‘mengubah’ diri, kepribadian, identitas dari seorang pria menjadi pria dengan jiwa wanita atau malah menjadi wanita. Jika dulu Engtay harus menyamar menjadi seorang pria untuk dapat mengenyam pendidikan, sekarang banyak Sampek yang harus menyembunyikan (atau bahkan menghilangkan) penis dan menumbuhkan payudara demi meraih karier yang diinginkan.

Yang membuat isu kesetaraan tetap menjadi bahan pembicaraan, terutama menjelang Hari Kartini, adalah masih lestarinya stereotip dalam pandangan sebagian masyarakat. Dalam skala yang kecil, keluarga, pandangan istri yang harus manut pada suami masih digenggam orang-orang tua. Walau mungkin si suami memberikan kebebasan kepada pasangannya untuk mengejar (meraih) yang diinginkan, tapi hambatan bagi wanita sering kali muncul dari justru dari orangtua – dari kedua pihak. Dalam skala yang lebih besar, nilai stereotip masih dipegang oleh para pengusaha. Sebagai contoh, lihat saja ada banyak lowongan yang memasukkan jenis kelamin sebagai persyaratan utama untuk mengisi sebuah lowongan.

Dan lagi, ini berhubungan dengan judul acara yang saya sebut di awal tadi, peran media dalam melestarikan pandangan stereotip tersebut. Seperti yang sudah saya sebut, saya memang belum sempat menonton acara tersebut. Tapi, izinkan saya berasumsi mengenai isi tayangan tersebut – yang akan saya revisi jika ternyata salah. Harta dan tahta merupakan suatu tujuan. Hal yang ingin dicapai (diraih) manusia dalam kehidupan ini. Pendidikan, usaha, dan segala hal yang dilakukan manusia dalam kesehariannya didorong dua motivasi ini. Dalam hal ini, harta dan tahta tak ubahnya trofi besar yang diperebutkan dalam sebuah kompetisi. Dia hanya menjadi objek yang ingin dicapai. Bersifat pasif. Hanya menunggu. Dan dalam acara tersebut, ditambahkan satu komponen lain sebagai bagian dari pencapaian kehidupan: wanita. Sebagai mahluk hidup, dalam judul acara ini, eksistensi wanita dinafikan. Mereka tidak dianggap sebagai pihak yang berjuang dalam hidup. Wanita hanya bagian dari ‘trofi’ yang dipajang di arena pertandingan dan menjadi hadiah bagi sang juara.

Dengan pandangan seperti itu, saya berasumsi acara ini ditujukan bagi generasi muda yang sedang menapaki tangga kehidupan, memanfaatkan setiap peluang yang terbuka, coba menaklukkan dunia. Dalam istilah yang lebih sederhana, kaum eksekutif muda. Dan sayangnya, kaum yang dimaksud adalah pria. Sementara, berdasar judul acara ini, wanita hanya akan menjadi salah satu nilai yang menjadi pertimbangan kesuksesan hidup seorang pria.

Sangat disayangkan, media yang memiliki pengaruh cukup besar dalam pembentukan pola pikir masyarakat ternyata masih melestarikan stereotip yang seharusnya sudah menjadi nilai-nilai yang usang. Tidak hanya pada acara tersebut, atau stasiun televisi tersebut, banyak acara di hampir semua stasiun televisi melakukan hal tersebut. Contoh sederhana, para pembawa acara. Untuk tayangan-tayangan yang ditujukan kepada kaum pria, dapat dipastikan kehadiran wanita pembawa acara. Sementara, untuk acara sebaliknya, saya sangat jarang melihat acara-acara yang ditujukan untuk kaum wanita dibawakan oleh pria. Kalaupun ada pria pembawa acara di tayangan tersebut, maka dia tidak sendiri. Akan ada wanita yang menemaninya. Dalam hal ini, stasiun televisi telah melakukan diskrimasi terhadap sebagian pemirsanya. Mereka memanjakan kaum pria. Memilih wanita-wanita cantik, yang tidak jarang mengenakan pakaian nan seksi, untuk membawakan tayangan yang ditujukan untuk kaum pria. Sementara, untuk kaum wanita, mereka tidak melakukan hal serupa. Mereka tidak memanjakan kaum wanita dengan pria tampan dan berpakaian seksi.

Kenyataan yang membuat saya harus berpikir ulang mengenai jawaban yang diberikan kepada teman tersebut. Bagi saya, isu kesetaraan wanita-pria sudah usang. Tapi ternyata, tidak juga. Masih ada pihak yang melestarikan agar isu itu tetap menjadi penting. Pihak-pihak yang sepertinya akan kehabisan ide untuk ‘dijual’ jika isu itu sudah tidak dianggap lagi keberadaannya. Dan sialnya, pihak-pihak yang melestarikan isu kesetaraan wanita-pria adalah pihak-pihak memiliki peran sangat penting – yang seharusnya menjadi kelompok pertama yang menghapus isu tersebut.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “Emansipasi dan Relasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s