Over, I Think

Over

Dalam setiap posisi, dalam setiap profesi, saya yakin ada tanggung jawab serta kekuasaan (otoritas) yang menyertainya. Tidak hanya dalam posisi-posisi yang dianggap penting seperti ketua atau profesi yang dianggap penting seperti pejabat, pengusaha, direktur, dan lainnya. Dalam setiap profesi berarti semua profesi yang ada di dunia ini dan itu termasuk staf, tukang sapu, office boys/girls, dan lainnya. Setiap profesi memiliki otoritas masing-masing, yang tentunya berbeda satu sama lain.

Office boys/girls, misalnya, mereka punya otoritas untuk mengatur toples penyimpanan yang ada di pantri. Bagian mana diletakkan toples berisi gula, teh, kopi. Bagaimana cara menyusunnya. Semua itu berkaitan agar tugas yang mereka lakukan dapat berjalan dengan efektif. Bayangkan jika susunan yang sudah mereka tetapkan kemudian diubah tanpa sepengetahuan si tuan pantri, sangat mungkin teh yang dibuatnya akan terasa aneh. Dan jika begitu, sudah layaknya si tuan pantri menegur (bahkan mungkin memarahi) orang yang mengubah susunan toples di teritorinya.

Sayangnya, tidak semua posisi dan profesi diberikan hak dan kewajiban secara penuh. Ketiga profesi yang sebut di atas misalnya. Mereka merupakan sebagian dari profesi yang tidak mendapatkan otoritas dengan sempurna. Setiap orang di kantor, mungkin karena merasa jabatan atau gaji lebih tinggi, dapat seenaknya mengubah susunan toples yang sudah diatur oleh si tuan pantri. Yang kemudian bisa dilakukan oleh si tuan pantri hanyalah mengeluh sendiri, ketika hanya dia yang masih berada di pantri. Menegur apalagi memarahi hanya ada dalam angan. Atau mungkin, dia menciptakan bayangan yang dapat ditegur bahkan dimarahi.

Sementara, ada pula profesi lain yang diberikan otoritas secara berlebihan. Mereka mendapatkan sesuatu di luar batas yang seharusnya didapatkan. Cenderung dimanja, yang pada akhirnya bukan tidak mungkin membuat orang dalam profesi tersebut melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan (di luar batas). Saya pernah menjalani profesi seperti itu. Saya pernah menjadi jurnalis. Dan di negara ini, memiliki kartu press seperti memiliki kartu sakti yang bisa menolong setiap saat – bahkan tidak jarang ada pihak yang dengan sengaja memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.

Saat itu, saya sedang ingin membuat paspor. Awalnya saya berencana membuat paspor sesuai dengan prosedur. Mengambil dan mengisi formulis pengajuan, wawancara, foto, dan lain sebagainya. Ketika melihat bagan proses pengurusan paspor yang terpajang di kantor imigrasi, rangkaian proses tersebut memerlukan waktu setidaknya satu minggu – meski tidak setiap hari ada yang harus dilakukan. Saya pun sudah menyiapkan diri untuk menjalani proses tersebut. Sampai kemudian, ketika semua berkas yang diperlukan sudah saya serahkan, seorang wanita (dari seragam yang dikenakan, dia memiliki posisi cukup penting di kantor imigrasi tersebut) memanggil saya. Setelah membuka sebentar berkas dan aplikasi yang saya serahkan, wanita ini kemudian bertanya “Mas wartawan?” Tidak ingin berbohong, saya pun mengiyakan. Dia pun lalu meminta saya memfoto kopi kartu press dan surat pengantar dari kantor yang sedari awal sengaja saya simpan.

Setelah menambahkan kedua berkas tambahan tersebut, proses selanjutnya berjalan dengan sangat cepat. Tidak sampai 2 jam, paspor sudah berada di tangan. Tidak sampai satu hari, apalagi satu minggu seperti bagan yang saya lihat. Itulah salah satu ‘kenikmatan’ yang saya rasakan ketika menjadi jurnalis. Untungnya, bukan mau berbesar hati, saya bukan orang terbuai untuk memanfaatkan khasiat kartu press. Bahkan ketika suatu malam saya diberhentikan Polantas karena ternyata lampu belakang motor saya mati, menutupi kartu press yang menggantung di saku jeans. Perbuatan yang mengudang tanya teman-teman seprofesi, “Kenapa enggak dikasih liat kartu press? Paling lo cuma dinasehatin, enggak sampe ditilang.” Saya pun membalasnya, “Justru gua pengen tau rasanya sidang tilang.”

Bukan hanya jurnalis, berbagai profesi lain seperti memiliki ‘hak lebih’. Memperoleh privasi lebih. Bahkan, untuk hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan dengan profesi yang dijalani.

Yang kemudian mengganggu saya adalah bahwa ada sebagian orang yang bersikap berlebihan mengenai privasi tersebut. Tindakan, perlakuan, sikap mereka menjadi seperti ‘orang penting’ yang ‘kalau tanpa gua, lo pasti hancur’. Dan karena saya cukup lama berada di dunia jurnlistik, saya banyak melihat contoh tersebut di dunia media. Bagaimana sikap para media yang kadang berlagak sebagai ‘penguasa dunia’.

Bukannya ingin mendiskriminasi kelompok tertentu, tapi berdasar pengalaman, jurnalis yang bersikap seperti ini justru mereka yang bekerja untuk media kecil-menengah. Sementara, jurnalis media-media besar lebih bersikap santun. Ya, tidak bisa menyamaratakan. Karena, ada pula jurnalis dari media besar tertentu yang justru ‘mengangkat dagunya begitu tinggi’ dan berjalan dengan ‘dada yang begitu membusung’. Sebenarnya, ini tidak terlalu terkait dengan besar-tidaknya sebuah media tempat mereka bernaung. Ini lebih kepada pribadi masing-masing jurnalis. Tapi, ada pula beberapa media yang berhasil mendidik jurnalis-jurnalisnya untuk menjadi pribadi yang tidak memanfaatkan segala hal yang sebenarnya mungkin mereka dapatkan.

Ini pun tidak ada hubungannya dengan usia. Baik tua maupun muda. Yang muda bersikap seperti itu, biasanya, karena beberapa faktor. Pertama karena mereka tidak tahu. Mereka masih baru dan ketika melihat ada peluang yang diberikan, mereka memanfaatkan peluang tersebut. Kedua, justru karena sebelumnya mereka pernah mendengar adanya peluang tersebut dan kemudian ingin menguji kebenarannya. Yang setelah ternyata terbukti, mereka menjadi terlalu asyik menikmati lalu berlanjut hingga mereka tidak lagi ‘muda’.

Saya tidak bermaksud ingin menghakimi. Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan. Mungkin karena saya yang terlalu sensitif. Ada ‘rasa sedih’ ketika melihat ada jurnalis yang berperilaku seperti itu, memanfaatkan privasi yang sebenarnya bukan merupakan hak mereka dan bahkan bertindak terlalu jauh. Marah-marah karena tidak mendapatkan privasi yang sebenarnya memang bukan hak mereka. Hanya karena pernah mendapatkan privasi seperti itu, mereka kemudian berpikir bahwa privasi tersebut telah menjadi hak profesi yang dijalani.

Tapi setidaknya, saya merasa lega masih ada jurnalis yang tahu mana yang hak dan bukan hak profesi mereka. Masih ada media yang mampu mendidik jurnalis mereka menjadi ‘jurnalis yang tahu diri serta hak dan kewajiban’.

Jujur, walau kadang ada rasa rindu untuk kembali ke dunia tersebut, tetapi pengalaman melihat yang dilakukan sebagian jurnalis ketika menuntut sesuatu yang bukan hak mereka, saya jadi berpikir ulang mengenai keinginan tersebut. Cukup sekali saya memanfaatkan ‘keistimewaan’ kartu press – dan itu pun saya lakukan tidak dengan sengaja karena saya bukan saya yang mencari kesempatan tapi saya diberikan kesempatan untuk melakukannya.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s