Kereta, Hujan, dan Kenangan

IMG_1746

Ada kenangan yang tiba-tiba mencuat ketika melakukan perjalanan. Tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Bukan hanya mengenai tempat yang akan dituju, tapi tentang perjalanan itu sendiri. Terlebih, yang dituju dalam perjalanan ini adalah tempat yang penuh dengan kenangan, dan sejuta impian, khususnya bagi saya.

Yogyakarta. Kota yang untuk masa-masa awal kehidupan bukanlah tempat yang istimewa. Kota yang hanya berupa tulisan di peta, seperti kota-kota lainnya. Perkenalan saya dengan Yogyakarta terjadi sekitar tahun 2000. Saat itu, libur panjang sekolah, saya dan beberapa teman mengunjungi rumah mbah seorang teman. Rumah sederhana berdinding semen, tanpa dilapisi cat, dan lantainya masih berupa tanah itu berada di daerah Kaliurang – di depan rumah sakit jiwa. Dari perkenalan pertama itulah, saya jatuh cinta pada Yogyakarta – dan sempat berkeinginan untuk kuliah di kota itu tapi sayangnya tidak jadi karena alasan ‘klasik’ masa SMA.

Pergumulan kedua dengan Yogya terjadi sekitar 3 tahun kemudian. Ketika itu, sedang liburan semester. Saya sudah berstatus mahasiswa. Bersama seorang teman dari SMA, kami menjadi sebagian pengelana yang menikmati keindahan Yogya.

Perjalanan dengan bus Damri, penginapan sungguh-sangat-sederhana yang air di kamar mandinya menggenang selesai mandi, perjalanan tanpa rencana yang malah membuat semua yang dilakukan menjadi menarik. Satu hal yang sangat berkesan dari perjalanan bersama teman ini adalah sesi curhat hingga dini hari sambil melihat permainan catur-tiga-langkah-mati di ujung Jalan Malioboro.

Ada satu kalimat yang saya ingat keluar dari mulut saya ketika sesi curhat di ujung Malioboro itu. “Harusnya lo nginep di kos gw kalo lagi di Yogya.” Saya mengatakannya dengan nada sinis dan penyesalan yang cukup mendalam – sadis….

Dan sejak itu, perjalanan menuju Yogja selalu diwarnai ‘kegairahan’ tersendiri. Terakhir, perjalanan yang menuju kota pelajar saya lakukan di akhir 2010. ‘Misi hampir bunuh diri’. Perjalanan empat orang menggunakan dua mobil kecil. Beristirahat di pom bensin. Walau sedang menjalankan tugas dari kantor, tapi budget yang dimiliki tetap saja minim. Tapi tetap saja, Yogya selalu memberikan kenangan. Keramahan orang-orangnya, kemurahan dan kenikmatan jajanan jalanan, gadis-gadis nan ayu, serta percakapanan sederhana yang cukup menarik.

Karenanya, ketika bulan lalu seorang teman mengajak melakukan perjalanan ke Yogya, sebenarnya ke Borobudur yang ada di Magelang tapi melalui Yogyakarta, saya langsung menyambutnya dengan antusias. Tidak peduli bahwa perjalanan menuju kota ini lagi-lagi dilakukan dengan semangat ‘low-budget’.

IMG_1683

Perjalanan dimulai pada Minggu sore, di Stasiun Senen. Hari sudah gelap ketika akhirnya teman yang ditunggu tiba. Kali ini, perjalanan menuju Yogya ditempuh menggunakan kereta api. Kelas ekonomi, dengan harga tiket Rp35.000. Sementara harga sebungkus rokok sekitar Rp15.000, bayangkan yang Anda dapatkan dengan tiket seharga itu untuk perjalanan sekitar 200 kilometer – perbandingan yang pastinya tidak akan disukai oleh teman seperjalanan kali ini. Bayangkan kursi keras dengan sudut 90 derajat dan jarak antar kursi yang sangat sempit. Sepanjang perjalanan, pinggang terasa seperti siksaan yang begitu parah. Nyeri tak tertahankan. Berjalan-jalan di lorong gerbong sepertinya menjadi ide brilian untuk menghilangkan rasa nyeri, tapi sayangnya tidak bisa dilakukan. Penumpang-penumpang yang tidur sembarang. Kaki yang menjulur keluar deretan kursi atau tubuh yang tergeletak menutupi lorong. Yang bisa dilakukan hanya bergeser-geser sedikit di bangku. Sementara, teman perjalanan menyandarkan kepala ke paha – memantapkan alasan untuk tidak beranjak dari kursi.

Sebenarnya, ini bukan perjalanan paling menyiksa dengan kereta api ekonomi. Pertengahan 2003, saya pernah melakukan perjalanan yang lebih menyiksa. Menuju Bali, perjalanan dimulai dari Stasiun Senen menuju Stasiun Pasar Turi menggunakan kereta ekonomi. Lebih dari 24 jam duduk di kursi keras dengan sudut 90 derajat.

Bayang-bayang perjalanan hampir 10 tahun silam mulai timbul di kepala ketika saya memasuki gerbong. Sembilan remaja melakukan perjalanan yang cukup jauh. Sebagian dari mereka, tidak pernah berkunjung ke Bali. Bahkan, ada di antara rombongan yang belum pernah menginjakkan kakinya selain di tanah Jakarta dan Jawa Barat.

Mungkin karena faktor usia, plus kemalasan saya berolahraga, yang membuat perjalanan ini begitu terasa penuh rasa nyeri. Menyesal? Tentu tidak. Yogya adalah kota yang pernah saya impikan untuk melanjutkan hidup dan tetap menjadi kota yang saya inginkan untuk tinggal di dalamnya.

Hujan rintik turun membasahi Yogya ketika kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Keluar dari stasiun, banyak pria menawarkan jasa transportasi. Sambil mengangkat tangan memberi tanda penolakan, kami keluar dari kerumunan penawar-jasa transportasi – menuju sebuah warung nasi sederhana yang terletak di seberang Stasiun Lempuyangan.

Yogya dicampur dengan aroma tanah yang dibasahi hujan. Bahkan tanpa aroma itu pun, saya sudah jatuh cinta padanya. Segelas teh manis hangat dan sebatang rokok kretek menemani saya menikmati suasana pagi Yogya diguyur hujan. Sementara, teman seperjalanan sedang sibuk dengan sepiring nasi gudeg.

IMG_1670

Dalam satu kesempatan, teman seperjalanan saya bertanya: “Kota yang wisatanya maju pasti penghasil kerajinan, ya…. Lihat aja Bandung, Yogya.” That’s it. Tidak perlu takut soal ekonomi jika memang punya potensi. Bahkan, beberapa saat lalu, ketika terjadi konflik mengenai otonomi Yogya dan kepemimpinan di provinsi tersebut, saya dan seorang teman berniat akan mengajukan diri menjadi warga negara Yogyakarta seandainya wilayah itu memutuskan berpisah dengan Indonesia.

Yogyakarta, wilayah dengan segala potensi. Manusia dan sumber daya alam. Belum lagi tradisi yang masih dipegang masyarakatnya. Meski tidak seperti Bali yang sampai menutup bandara internasional ketika perayaan Nyepi, masyarakat Yogya tidak melepaskan akar budaya mereka dan itulah yang menjadi salah satu daya tarik dari daerah ini.

Meski tidak terlalu lama, perjalanan ke Yogya kali tetap memberikan kesan tersendiri. Bukan hanya mengenai teman seperjalanan, tapi juga Yogya itu sendiri – meski tujuan utama perjalanan kali ini adalah Borobudur yang terletak di Magelang. Ketika kereta perlahan meninggalkan Stasiun Lempuyangan menuju Jakarta, dalam hati, saya masih yakin pada ketertarikan saya terhadap kota ini. Dan tentu, diiringi doa semoga suatu saat saya akan menjadi bagian darinya.

IMG_1791

Soal Kereta, Tarif, dan Profesionalitas
Hal lain yang menjadi perhatian dalam perjalanan ini adalah alat transportasi yang kami gunakan. Perjalanan Jakarta-Yogyakarta-Jakarta kali ini menggunakan kereta api. Ketika berangkat, kami menggunakan kereta kelas ekonomi sementara perjalanan pulang menggunakan kelas AC ekonomi.

Dilihat dari fasilitas yang diberikan, kedua kelas ini tidak jauh berbeda. Bangku yang digunakan sama. Lama perjalanan pun sama – karena memang berada dalam satu rangkaian. Yang membedakan hanya pada fasilitas AC yang terdapat pada kereta dalam perjalanan pulang. Tapi, justru di situ permasalahannya.

Tidak lama setelah meninggalkan Stasiun Lempuyangan, beberapa penumpang di dekat saya berkomentar soal AC yang tidak terlalu terasa eksistensinya. Udara di dalam gerbong terasa gerah. Bahkan, seorang pria setengah baya yang cukup emosional ketika ada seorang petugas kereta yang lewat. “Tolong bilang, dong, AC-nya enggak terasa.”

Menurut berita yang saya dengar, pada masa mendatang, PT KAI tidak akan lagi mengadakan kelas ekonomi. Gerbong yang saat ini dipakai untuk melayani kelas ekonomi akan dialihfungsikan menjadi kelas AC ekonomi – tentu dengan tarif yang berbeda. Perbedaan yang sangat jauh, tentunya. Saat pergi, tiket kereta yang kami naiki hanya sebesar Rp35.000, sementara tiket perjalanan pulang seharga Rp150.000 – lebih dari empat kali lipat. Sementara, dengan tarif yang sangat berbeda tersebut, fasilitas yang diberikan tidak terlalu signifikan. Mungkin hal ini perlu menjadi pertimbangan PT KAI. Mereka harus berpikir untuk menurunkan tarif kelas AC ekonomi, atau memberikan fasilitas tambahan agar pengguna dapat merasa puas dengan perjalanan yang dilakukan.

Di antara berbagai moda transportasi yang pernah digunakan, sejujurnya kereta api menempati posisi pertama sebagai pilihan untuk perjalanan. Bahkan, saat kuliah, walau ada bus yang langsung menuju kampus, saya jarang menaiki bus itu. Saya lebih senang naik bus dengan jurusan yang berlawanan dengan arah kampus lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta api. Kesenangan saya melakukan perjalanan dengan semakin menjadi ketika masuk ke dunia kerja. Beberapa kali, ketika harus melakukan perjalanan ke luar kota, saya lebih suka menggunakan kereta. Memang, pesawat terbang menjadi moda transportasi tercepat. Tapi, pilihan ini tidak ada hubungannya dengan waktu tempuh. Ini mengenai kenyamanan dan pengalaman melakukan perjalanan. Dan, kereta memberikan kedua hal itu. Hanya saja, jika fasilitas dan pelayanan yang diberikan tidak juga membaik, mungkin pengalaman menarik yang selama ini saya rasakan bisa menjadi sekadar kenangan – untuk kemudian tidak ada keinginan mengulanginya.

IMG_1787

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s